Minggu, 15 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Mimbar
H. Dady Iskandar M.M.

Bertakwalah Sebagaimana Dicirikan Sayidina Ali

Sabtu, 20 Mei 2017
sutarjan/masjidraya.com
H. Dady Iskandar M.M. dan H. Tjetje Soebrata saat launching MasjidRaya.com.*

MRB – Pada saat pengukuhan Pengurus DKM Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat Periode 2016-2019 dan Rapat Kerja Pengurus DKM Masjid Raya Bandung 2016-2019, di Hotel Luxon, Jalan Ir. H. Djuanda No. 18-20 Bandung, Sabtu (20/5), Kepala Badan Pengelola Islamic Centre (BPIC) Jawa Barat, H. Dady Iskandar M.M., yang juga Kepala Biro Pelayanan dan Pengembangan Sosial Setda Provinsi Jawa Barat, mengingatkan agar pengurus masjid senantiasa menjaga keimanan dan ketakwaan.

“Bertakwalah sebagaimana taqwa yang dicirikan Sayidina Ali bin Abi Thalib,” kata H. Dady.

Dijelaskan H. Dady, Sayidina Ali mencirikan ketaqwaan atas empat kriteria.

Pertama, takut kepada Allah Ta’ala.

Jika takut kepada makhluk bermakna menjauhi sejauh-jauhnya, maka takut kepada Allah Ta’ala bermakna mendekat kepada-Nya dengan cara pendekatan yang terbaik. Mereka bergegas melakukan perintah Allah Ta’ala, tetapi merasa takut jika amalnya tidak diterima. Hasilnya, mereka pun bersungguh-sungguh dan senantiasa melakukan amalan dengan kualitas terbaik.

“Jangan takut kepada BPIC atau DKM, tetapi takutlah kepada Allah agar segala urusan berjalan sesuai ridha-Nya,” katanya.

Ke dua, iman kepada yang diturunkan-Nya, yaitu Al Quran.

Al-Qur’an yang merupakan wahyu Allah Ta’ala melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk seluruh kaum Muslimin. Orang bertakwa akan membaca, mempelajari, menghafal, menadabburi, mengamalkan, lalu mendakwahkannya kepada orang lain.

“Bila kita sebagai muslim tidak membaca Al Quran, maka sama saja kita menyia-nyiakan Al Quran tersebut,” tutur H. Dady.

Ke tiga, ridha dengan yang sedikit.

Orang-orang yang beriman tidak pernah melihat pemberian Allah Ta’ala dari segi jumlahnya. Mereka yakin, secuil apa pun, jika terdapat keberkahan di dalamnya, maka yang sedikit itu akan memberikan manfaat yang amat besar di dalam kehidupannya. Sebaliknya, jika tiada berkah, meski jumlahnya melimpah, maka orang tersebut akan senantiasa kekurangan di sepanjang hidupnya.

Selain itu, orang-orang beriman tidak melihat sedikit atau kecilnya jumlah yang mereka terima, tetapi mereka menyadari semua karunia itu diberikan oleh Allah Ta’ala Yang Mahabesar.

“Jadi, mereka qana’ah dengan pembagian dari Zat Yang Maha Mencukupi kebutuhan seluruh makhluk-Nya,” jelas H. Dady.

Ke empat, bersiap-siap untuk akhirat.

Sebagai konsekuensi atas sikap ke tiga, maka sikap ke empat ini pun ada. Merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala, meski jumlahnya sedikit, akan membuat seorang yang bertaqwa tidak memiliki hasrat mendalam terhadap dunia yang sementara.

Mereka lebih tertarik pada akhirat yang abadi, lalu mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiiki untuk mencari bekal terbaik, sehingga bahagia di kehidupan yang abadi itu. Mereka berkarya di dunia sebaik mungkin, dan menginvestasikan hasilnya untuk kehidupan di akhirat.

Bisa jadi, mereka miskin. Tapi, karena orientasi akhiratnya, mereka pun bersabar dengan kesabaran terbaik agar kemiskinannya ini berbuah surga. Bisa jadi, mereka pun dikaruinai banyak harta oleh Allah Ta’ala, tetapi mereka memanfaatkannya secara optimal untuk keperluan dakwah dan jihad di jalan-Nya.
Karenanya, bersiap untuk akhirat bukan bermakna melupakan jatahnya di dunia. Tetapi, mereka mewakafkan jatahnya di dunia untuk Allah Ta’ala, dan kelak mereka ambil dalam kehidupan selepas kematiannya.

“Jadi, sebagaimana dikatakan Sayidina ‘Ali bin Abi Thalib, siapa saja yang melakukan keempat hal tersebut, baginya berhak predikat muttaqin,” pungkas H. Dady.* harie – masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR