Rabu, 25 November 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar

Jam Bancet, Sejarah Penentu Waktu Shalat di Indonesia

Jumat, 2 Juni 2017

MRB – Jam bancet? Pasti sebagian besar orang tidak mengenal alat penentu waktu yang sudah ada di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Pada masanya, jam bancet digunakan oleh pondok pesantren maupun masjid-masjid untuk menentukan waktu shalat.

Jam bancet digunakan ketika jam analog maupun digital masih jarang di Indonesia, terutama di kalangan pribumi. Saat ini keberadaan jam bancet sudah jarang, digantikan oleh jam analog dan jam digital yang mudah digunakan. Di beberapa daerah, jam bancet masih bisa ditemui, seperti di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang, jam bancet dapat ditemui di sejumlah masjid, diantaranya di Masjid Al Muttaqin, Kalibening, Tingkir; Masjid Assyarqowi, Pulutan, Sidorejo; Pondok Pesantren Al Asyhar, Kesongo, Tuntang; dan Masjid Jami, Jombor, Tuntang, Kabupaten Semarang.

Di Pondok Pesantren Al Asyhar, Kesongo, Tuntang dan Masjid Jami, Jombor, Tuntang, Kabupaten Semarang, jam bancetnya masih terpelihara dengan baik dan masih bisa digunakan. Jam bancet yang berada di Masjid Jami Jombor diperkirakan usianya sudah mencapai ratusan tahun.

Pasti Anda penasaran, mengapa alat penentu waktu shalat ini disebut jam bancet? Jam bancet sebenarnya sudah digunakan oleh umat Islam untuk menentukan waktu shalat sejak peradaban Islam masa lalu. Selain jam bancet, alat penentu waktu shalat ini mempunyai banyak sebutan, seperti jam istiwak, jam matahari, atau jam syamsiyah.

Jam bancet terbuat dari lempengan tembaga, Bentuknya sangat sederhana, yaitu berbentuk melengkung setengah lingkaran. Di bagian tembaganya terdapat garis-garis berikut angka. Di antara sisi cekungan, menempel besi melintang yang tengahnya ditancapkan besi runcing. Ketika diterpa sinar matahari, bisa terbaca mulai pukul 06.00 hingga 17.30.

Seperti bentuknya yang sederhana, cara kerjanya pun sangat sederhana. Sinar matahari yang menyorot pada besi runcing mirip jarum, akan menimbulkan bayangan yang ujungnya menunjuk pada garis tertentu. Nah, garis serta angka itulah yang dibaca sebagai waktu shalat. Kelemahan jam bancet adalah, tidak bisa terbaca saat cuaca hujan atau di malam hari. Jam ini sangat tergantung pada sinar matahati.

Meskipun sederhana, namun tidak semua orang mampu membaca jam bancet. Biasanya yang paling jago membaca jam bancet adalah muazim. Hanya dengan melihatnya sekilas, seorang muazim mampu menentukan jam berapa saat itu dan kapan waktunya mengumandangkan adzan.

Semoga jam bancet yang masih ada di masjid-masjid di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang dapat tetap lestari, karena merupakan bagian dari sejarah Islam di Indonesia.* ati - masjidraya.com

 


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR