Minggu, 20 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Kabar

Ini Fatwa MUI Tentang “Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial”

Selasa, 6 Juni 2017
kompas.com
KETUA Umum MUI, K.H. Ma’ruf Amin menyerahkan Fatwa MUI tentang “Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial” kepada Menteri Informasi dan Komunikasi, Rudiantara di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2017).*

MRB - Maraknya ujaran kebencian dan permusuhan yang ditebarkan melalui media sosial (medsos), mengundang keprihatinan berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI). Tak ingin kondisi tersebut memengaruhi umat Islam, MUI telah menerbitkan fatwa tentang “Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial”.

Fatwa MUI No. 24 Tahun 2017 tersebut diharapkan bisa mencegah konten-konten negatif dan berita-berita bohong di medsos yang saat ini sudah mengarah kepada upaya adu domba di tengah masyarakat. Seperti dikatakan Ketua Umum MUI, K.H. Ma’ruf Amin, berita-berita bohong dan adu domba di medsos dirasakan sudah mengarah kepada kebencian dan permusuhan. Padahal hal-hal tersebut sangat dilarang oleh agama.

"Memang harus dikendalikan, ditata dan diarahkan kembali. Kita harus meluruskan cara berpikir dan cara bertutur dan bersikap. Fatwa ini dimaksudkan untuk itu,” kata K.H. Ma’ruf Amin ketika menghadiri diskusi publik dan konferensi pers Fatwa MUI tentang “Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial” di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2017).

Dalam Fatwa MUI tersebut, Komisi Fatwa MUI menyebutkan beberapa hal yang diharamkan bagi umat Islam dalam penggunaan media sosial. Diantaranya, setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosia; diharamkan melakukan gibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain), fitnah, namimah (adu domba), dan penyebaran permusuhan. MUI juga mengharamkan aksi bullying, ujaran kebencian serta permusuhan atas dasar suku, agama, ras atau antargolongan.

Haram pula bagi umat muslim yang menyebarkan hoaks serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti informasi tentang kematian orang yang masih hidup.

Umat muslim juga diharamkan menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar'i. Haram pula menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya. MUI juga melarang kegiatan memproduksi, menyebarkan dan atau membuat dapat diaksesnya konten maupun informasi yang tidak benar kepada masyarakat.

Selain itu, aktivitas buzzer di media sosial yang menyediakan informasi berisi hoaks, gibah, fitnah, namimah, bullying, aib, gosip dan hal-hal lain sejenis sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, hukumnya haram. Demikian juga orang yang menyuruh, mendukung, membantu, memanfaatkan jasa dan orang yang memfasilitasinya, hukumnya haram.* ati - masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR