Minggu, 15 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Mimbar
KH. Mucktar Cholid

Mestinya Al-Qur'an tidak Dijadikan Pelarian

Jumat, 16 Juni 2017
dok. UPI/edu
Dr. KH. Mucktar Cholid dalam Tabligh Akbar di Masjid Al-Furqan UPI, Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Minggu, (11/6).*

MRB - Bulan Ramadhan adalah bulan saat Al Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan menjadi pembeda. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan yang di dalamnya berlimpah nikmat, salah satunya karena Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan ini dan pada bulan ini pula turunnya anugerah lailatul qadar. Demikian diungkapkan Dr. KH. Mucktar Cholid dalam Tablig Akbar di Masjid Al-Furqan UPI, Jalan Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung, Minggu, (11/6).

Mucktar Cholid mengatakan bahwa kita sering melihat umat Islam kembali kepada Al-Qur’an setelah mengalami berbagai krisis kehidupan. Al-Qur’an hanya dijadikan pelarian ketika tidak ada lagi cara pemecahan lainnya. Ini berarti Al-Qur’an yang asalnya adalah cahaya kehidupan yang harus diletakkan di depan langkah kita, baru diambil cahaya itu ketika tersandung dan jatuh.

“Mestinya kita tidak bersikap demikian, karena kalau kita ingin sukses dunia akhirat, Al-Qur’an harus selalu ada di depan kita dan memandu seluruh amal kita,” katanya.

Dikatakan KH. Mucktar Cholid, Al-Qur’an memuat segala aturan dan permasalahan kehidupan manusia, dan jawabannya atas segala sisi kehidupan manusia.

“Hal ini sangat logis, karena Al-Qur’an diturunkan oleh Sang Maha Pencipta, Yang Maha Mengetahui seluruh ciptaan-Nya dan segala seluk-beluknya yang sangat rinci. Hanya Allah-lah yang paling pantas menentukan aturan kehidupan ini. Sebagai gambaran paling mudah misalnya sebuah pabrik melemparkan produk motor ke pasaran. Pabrik tersebut tentunya merancang mesin tersebut sesempurna mungkin, sehingga dialah yang paling tahu seluk-beluk motor yang dilempar ke pasaran,” tambahnya.

Dikatakan KH. Mucktar Cholid, manusia diciptakan Allah dilengkapi aturan penggunaan dan perawatan atau juklak. Selama manusia tertib terhadap aturan main, insya Allah dijamin awet, lancer, dan bermanfaat dunia akhirat, serta membahagiakan diri dan orang lain.

Al-Qur’an, lanjut KH. Mucktar Cholid, adalah juklak kehidupan yang terjamin orisinalitasnya. Sebagai perundang-undangan kehidupan, Al-Qur’an satu-satunya kitab yang tahan uji dan tahan terhadap berbagai upaya untuk menyelewengkan atau merusak Al-Qur’an.

Sebagaimana janji atau komitmen, yang dibuktikan dengan adanya mukjizat Al-Qur’an yang mudah dihafal, dipahami, dan diamalkan. Ini sesuai dengan tabiat bahasa Arab yang mudah dihafal dan mudah dipahami serta diamalkan.

Demikian juga banyak terlihat ulama dan hafidz yang selalu menjaga kemurnian Al-Qur’an, tumbuhnya mujaddid yang selalu menjaga dan mengembalikan Islam pada kemurniannya; Tumbuh suburnya Taman Pendidikan Al-Qur’an, TPA, TPQ, TK Al-Qur’an, sehingga bila ada satu huruf yang diganti, pasti Allah akan membeberkan kejahatan orang-orang yang mencoba merusak Al-Qur’an.

“Al-Qur’an-lah satu-satunya undang-undang kehidupan yang paling pas bagi manusia dan segenap semesta raya. Al-Qur’an telah menjamin bagi orang berpijak di atasnya secara benar, tidak akan sesat selamanya,” ujar KH. Mucktar Cholid.

Di samping itu, masih kata KH. Mucktar Cholid, ada beberapa hal yang mesti dicatat oleh setiap muslim tentang keutamaan Al-Qur’an, keutamaan membaca dan menghafalnya. Ini dalam rangka meningkatkan iman dan cinta kepada Al-Qur’an pada khususnya, serta Al-Islam secara keseluruhan.

“Al-Qur’an adalah kitab yang diberkahi, pemberi cahaya, pembeda haq dan bathil, obat penyakit hati dan jiwa, penjelas segala persoalan, petunjuk, dan masih banyak nama Al-Qur’an sesuai fungsinya dan ahli Qur’an adalah sebaik-baik manusia. Orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an adalah sebaik-baik generasi, yakni generasi rabbani qur’ani.* harie - masjidraya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR