Minggu, 20 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Ka'bah (2)

Lambang Pemersatu Umat

Selasa, 1 Agustus 2017

MRB - Berbagai keajaiban dunia telah sering diceritakan. Tetapi ternyata satu pun tak ada yang dapat menandingi apalagi melebihi “keajaiban” Ka’bah, yang berada di pelataran tengah Masjidilharam. Ka’bah sebagai lambang pemersatu umat Islam, setiap detik tak pernah sepi dari jemaah yang berthawaf, apalagi pada musim haji.

Bangunan yang menyerupai bentuk kubus ini merupakan bangunan pertama di atas bumi yang digunakan untuk menyembah Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ali Imran ayat 96 yang artinya: “Sesungguhnya permulaan rumah yang dibuat manusia untuk tempat beribadah itulah rumah yang di Bakkah (Mekah), yang dilimpahi berkah dan petunjuk bagi alam semesta”.

Ka’bah disebut juga Baitullah (Rumah Allah) atau Baitul-’Atiq (Rumah Kemerdekaan). Dibangun berupa tembok bersegi empat yang terbuat dari batu-batu besar berwarna kebiru-biruan yang berasal dari gunung-gunung di sekitar Mekah.

Rumah Allah ini dibangun di atas satu dasar fondasi yang kokoh yang terbuat dari marmer tebalnya kira-kira 25 cm. Tinggi seluruh dinding 15 m, lebar dinding Utara (Rukun Iraqi) 10,02 m, lebar dinding Barat (Rukun Syam) 11,58 m, lebar dinding Selatan (Rukun Yamani) 10,13 m, dan lebar dinding Timur (Rukun Aswadi) 10,22 m. Keempat dinding ini ditutup oleh semacam kelambu sutra hitam yang disebut Kiswah dan tergantung dari atap sampai ke kaki. Sejak zaman Nabi Ismail, Ka’bah sudah diberi penutup semacam ini.

Bagian tembok atau dinding yang terdapat di antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah disebut sebagai Multazam. Tempat ini digunakan oleh muslimin untuk bermunajat kepada Allah, khususnya setelah melakukan thawaf. Ini adalah tempat yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW sebagai tempat yang paling mustajab untuk berdoa.

Sepanjang sejarah, Masjidilharam selalu terbuka siang dan malam untuk orang-orang yang ingin melakukan thawaf, i’tikaf, atau orang-orang yang ingin shalat. Lantai tempat thawaf saat ini telah terbuat dari marmer dingin yang dapat menahan panasnya sengatan matahari, sehingga memungkinkan orang-orang untuk thawaf tanpa menggunakan alas kaki. Saat siang hari, karpet shalat yang terdapat di pelataran thawaf bahkan lebih panas daripada marmernya.

Ka’bah sebagai lambang dan pemersatu umat Islam, setiap detik tidak pernah sepi dari mereka yang berthawaf, apalagi pada musim haji. Thawaf mengelilingi Ka’bah dilakukan setiap hari, sejak tengah malam sampai tengah malam lagi, sejak minggu pertama hingga minggu terakhir, dan sejak bulan pertama hingga bulan terakhir.

Setahun penuh Ka’bah tidak pernah berhenti dikitari oleh manusia. Hanya ketika umat Islam yang berada di pelataran Ka’bah tengah melakukan shalat, maka pada saat itu pula thawaf terhenti, karena semua tunduk sujud dalam shalat.* abu ainun - MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR