Minggu, 20 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Ka'bah (3)

Kiblat Umat dengan Kekuatan Dahsyat untuk "Mendekat”

Rabu, 2 Agustus 2017
IST.
KA'BAH memiliki daya tarik yang luar biasa. Bangunan yang bentuknya biasa-biasa saja, namun memiliki kekuatan yang mampu memanggil dan bahkan menyedot kaum muslimin yang beriman dan berkuasa hadir, datang mendekatnya.*

MRB - Ka'bah adalah kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia, berada di kota suci Mekah. Bangunan yang dibuat kembali oleh Nabi Ibrahim bersama anaknya, Nabi Ismail, ini berupa bangunan segi empat yang terletak di tengah-tengah Masjidilharam. Ka’bah itu disebut Baitullah, atau rumah milik Allah, yang merupakan rumah dan tempat ibadah pertama di dunia. Seperti disebutkan dalan Al-Quran surat al-Imran ayat 96: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah yang di Makkah yang diberkahi”.

Ka’bah sering kali pula disebut sebagai Al-Bait, Al-Baitul Haram, Al-Baitul al-’Atiiq, dan Kiblat. Bangunan berbentuk kubus ini pada sudut timurnya disebut rukun Aswad, tempat Hajar Aswad; sudut selatan disebut rukun Yamani (sebab menghadap Yaman), sudut utara dinamakan rukun Iraqi (menghadap Irak), dan sudut barat adalah rukun Syam (menghadap Suriah).

Baitullah sebenarnya sudah ada sebelum dibangun Nabi Ibrahim. Namun, kondisinya hancur. Tempat inilah yang kemudian dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Setelah itu, Ka’bah mengalami berkali-kali pembangunan. Dalam Shahih Bukhari disebutkan, Yazid bin Ruman menyebutkan, Abdullah bin Zubair telah membangun Ka’bah pada pondasi yang lama.

Pembangunan Ka’bah menjadi permanen dilakukan pada masa Mekah dikuasai suku Bani Quraisy, tahun 18 sebelum Hijriah. Mereka juga memberi atap Ka’bah dan membuat talang untuk membuang air dari Hijir Ismail. Bangunan Kabah pun ditinggikan menjadi 8,64 meter dari sebelumnya 4,32 meter. Pada masa inilah Rasulullah mengangkat dan meletakkan Hajar Aswad.

Tahun 1417 H, Raja Fahd bin Abdul Aziz memerintahkan rehabilitasi Ka’bah. Raja Fahd juga memperbarui dan melapisi mizab (bagian di atas Ka’bah untuk mengalirkan air) dengan emas.

Tentang pintu Ka’bah diceritakan, semula Nabi Ibrahim membuat dua pintu, di timur sebagai pintu masuk dan sebelah barat sebagai pintu keluar. Ketika orang Quraisy merehabilitasi Ka’bah, ditutuplah pintu barat, dan pintu timur dibuat menjadi dua. Raja Khalid bin Abdul Aziz Ali Saud yang kemudian memerintahkan untuk memperbarui pintu itu dan melapisinya dengan emas pada 1399 H.

Semua itu memancarkan kemegahan Ka’bah. Tetapi yang paling hakiki, keagungan, kemuliaan, kehormatan dan keberkahan Ka’bah senantiasa lestari. Terjadi pasang surut sepanjang sejarah umat manusia, tetapi Ka’bah dijaga Allah sepanjang masa. Dia senantiasa menjadi pusat kerinduan, dambaan, kehormatan, kemuliaan dan kebanggaan berjuta-juta umat manusia hingga akhir hayat nanti, sampai hari kiamat.

Keabadian Ka’bah sudah dijamin Allah. Tatkala menurunkan Adam dari surga, Allah berfirman: “Sesungguhnya aku menurunkanmu (dari surga ke bumi) bersama dengan sebuah rumah atau tempat di sekelilingnya digunakan thawaf sebagaimana Arsy-Ku, di sekitarnya dijadikan tempat shalat sebagaimana juga halnya Arsy-Ku”.

Ka’bah memiliki daya tarik yang luar biasa. Bangunan yang bentuknya biasa-biasa saja –terkesan sederhana bila dibandingkan dengan tempat-tempat ibadah agama lain, misalnya Candi Borobudur yang bentuknya begitu megah dengan arsitektur yang menawan– namun memiliki kekuatan yang mampu memanggil dan bahkan menyedot kaum muslimin yang beriman dan berkuasa hadir, datang mendekatnya.

Dan, sesampai di tempat ini mereka dengan patuh, haru, kagum dan bahkan hingga menangis, berjalan sebanyak tujuh putaran mengelilinginya. Mereka yang berthawaf ini merasakan seolah-olah sedemikian dekat dengan Yang Maha Pencipta.* abu ainun - MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR