Minggu, 20 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Makna di Balik Ritual Haji

Kamis, 3 Agustus 2017
Oleh: HD Sutarjan

MRB - Haji merupakan salah satu ibadah yang kaya akan tatanan simbolik. Bahkan, hampir seluruh bagian ibadah haji merupakan ritual simbolik. Ada ritual simbolik berupa berpakaian (ihram), berjalan berputar (thawaf), berlari-lari kecil (sa’i), melempar (jumrah), memotong rambut (tahalul), bermalam (mabit), atau berdiam (wukuf). Semua ritual tersebut bersifat simbolik yang memiliki makna tersendiri.

Berpakaian Ihram, misalnya, mengandung makna melepaskan dan membebaskan diri dari lambang material dan ikatan kemanusiaan, mengosongkan diri dari mentalitas keduniawiaan, membersihkan diri dari nafsu serakah, angkara murka, kesombongan serta kesewenang-wenangan. Thawaf, mengandung isyarat keluar dari lingkungan manusia yang buas dan masuk ke dalam lingkungan Rabbaniyah yang penuh kasih sayang, saling menghargai dan saling menghormati.

Secara simbolik, jumrah adalah kegiatan melemparkan batu-batu kecil ke sebuah tugu yang berdiri tegak, sebagai asumsi pelemparan dan permusuhan terhadap setan dan iblis. Secara substansial, ritual simbolik ini dapat diinterpretasikan sebagai komitmen seorang muslim untuk mengekang segala bentuk tindak pembudakan yang diarahkan nafsu setaniahnya. Ritual melempar jumrah dapat diartikan sebagai simbol komitmen pembebasan seorang muslim dari potensi orientasi-orientasi kejahatan yang ada dalam dirinya.

Juga al-hulqu atau tahalul, yaitu ritual memotong rambut. Makna ibadah ini adalah pembersihan, penghapusan sisa-sisa cara berpikir kotor yang masih berada dalam kepala. Maka seyogyanya, mereka yang telah tahallul mempunyai cara pikir dan konsep kehidupan yang bersih, tidak menyimpang dari etika dan norma sosial maupun agama.

Jadi, pada dasarnya setiap ritual simbolik dalam ibadah haji memiliki pesan atau makna tersembunyi di baliknya, yang dapat ditafsirkan secara luas dan mendalam. Sehingga dapat dipahami bahwa sebagai sebuah ritual simbolik, pelaksanaan ibadah haji pada dasarnya sekadar simbolisasi atas makna atau pesan yang ada di baliknya. Di balik itu, ada sebuah tanggung jawab besar untuk mengimplementasikan secara nyata pesan atau makna yang terkandung di balik simbol-simbol ritual tersebut.

Pesan atau makna dari ritual haji, secara umum dapat dikategorisasikan pada dua orientasi: spiritual dan sosial. Di satu sisi, ritual-ritual simbolik dalam pelaksanaan ibadah haji memiliki kecenderungan pada penguatan prinsip serta komitmen spiritual seorang muslim. Sebagian ritual haji dapat disebut sebagai penegasan ulang (rekomitmen) atau pengikraran ulang keimanan (ketauhidan) seorang muslim kepada Tuhan. Adapun pada sisi lain, simbol-simbol dalam ritual haji secara ekspresif mengandung muatan sosial yang mendalam.

Hampir semua ritual haji memiliki peluang untuk ditafsirkan sebagai sebuah komitmen kepedulian serta solidaritas sosial seorang muslim. Terlebih lagi jika kita tidak memisahkan keterkaitan (kemenyatuan) antara spiritualitas dan orientasi sosial: bahwa semakin tinggi tingkat spiritualitas seseorang, semakin membumbung pula kepedulian sosialnya. Jika seperti ini, pada dasarnya haji secara mutlak mengandung pesan-pesan sosial di balik rangkaian ritual simboliknya.

Haji sebenarnya puncak dari totalitas ibadah. Ibadah haji bukan semata untuk kepentingan akhirat saja, tetapi juga bagaimana aspek-aspek sosial atau aspek-aspek kehidupan masyarakat juga diperhatikan. Selama ini, banyak umat Islam menjalankan ibadah haji hanya memandang dari sisi ritualitasnya tanpa melihat aspek-aspek filosofis dan aspek sosialnya.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR