Minggu, 20 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Hajar Aswad (1)

Batu Termulia dari Surga

Jumat, 4 Agustus 2017

MRB - Inilah batu yang paling mulia. Diturunkan Allah dari surga, dibawa Malaikat Jibril untuk menyertai Adam yang mendapat mandat menjadi khalifah di bumi. Ketika turun ke bumi batu jenis ruby ini bersinar terang dan dapat menerangi jagat, dari timur hingga barat. Namun semakin lama sinarnya semakin meredup dan akhirnya menghitam, sehingga diberi nama Hajar Aswad.

Tentang batu termulia ini, Rasulullah bersabda “Ketika Hajar Aswad turun, keadaannya masih putih, lebih putih dari susu, lalu ia menjadi hitam akibat dosa-dosa anak Adam” (HR Tirmidzi). Batu ini yang menjadi pondasi pertama Baitullah, kemudian hilang terkubur pasir selama ribuan tahun.

Namun, secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail ketika ia berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih sedikit kurang. Batu yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim, yang serta merta sangat gembira dan tak henti-hentinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat Ka’bah, batu itu tak segera diletakkan di tempatnya. Nabi Ibrahim dan Ismail membawa batu itu sambil memutari Ka’bah tujuh putaran.

Pada awal tahun gajah, Raja Abrahah, penguasa Yaman yang berasal dari Habsyah atau Ethiopia, membangun gereja besar di Sana’a dan bertujuan untuk menghancurkan Ka’bah, kemudian memindahkan Hajar Aswad ke Sana’a agar mengikat bangsa Arab untuk melakukan haji ke Sana’a. Abrahah kemudian mengeluarkan perintah ekspedisi penyerangan terhadap Mekah, dipimpin olehnya dengan pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Beberapa suku Arab menghadang pasukan Abrahah, tetapi pasukan gajah tidak dapat dikalahkan.

Ketika Abrahah bersiap untuk masuk ke dalam kota, terlihat burung-burung yang membawa batu-batu kecil dan melemparkannya ke pasukan Ethiopia; setiap orang yang terkena langsung terbunuh, mereka lari dengan panik dan Abrahah terbunuh dengan mengenaskan. Kejadian ini diabadikan Allah dalam surah Al-Fil.

Di antara peristiwa penting lainnya yang berkenaan dengan batu ini adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M), ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena keempat kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang ngotot pada pendapat dan kehendak masing-masing siapa yang mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ke tempat semula karena pemugaran Ka’bah sudah selesai.

Muhammad bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun, tampil menjadi pendamai. Muhammad yang terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya) menuju tempat pernyimpanan Hajar Aswad, lalu membentangkan sorbannya dan meletakkan batu mulia itu di tengah-tengah sorban kemudian meminta satu orang wakil dari masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya ke sudut di mana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Muhammad pulalah yang memasang batu itu ke tempat semula.

Hajar Aswad mulanya hanya satu bongkah batu, tetapi kemudian pecah menjadi 8 bagian. Itu terjadi karena Hajar Aswad pernah dicabut pengikut Abu Thahir al-Qarmathi pada 319 H, lalu dikembalikan pada 339 H. Untaian 8 batu yang seukuran buah kurma itu direkat dengan perak, menjadi satu kesatuan dengan batu di sekitarnya. Lingkaran perak pada Hajar Aswad merupakan peninggalan Abdullah ibn Zubair. Hajar Aswad yang direkat dan dalam lingkaran perak itulah yang ada saat ini.* abu ainun - MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR