Minggu, 20 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

“Penyempurna”

Jumat, 4 Agustus 2017
Oleh: HD Sutarjan

MRB - Ibarat menu makanan: empat sehat lima sempurna. Belum lengkap, meski sudah sehat, jika belum memenuhi aspek yang ke-5, yaitu minum susu. Begitu juga halnya dengan rukun Islam, dikatakan belum sempurna jika belum menunaikan ibadah haji. Haji bak susu, berfungsi sebagai penyempurna rukun Islam lainnya. Sehingga orang yang telah mampu melaksanakannya dinilai sebagai orang yang telah “sempurna” agamanya.

Jika haji dinilai sebagai penyempurna, jelas padanya mengandung sesuatu yang lebih yang bisa disuprih. Banyak makna di dalamnya yang bisa diambil hikmah dan manfaat. Alangkah sempurnanya jika setiap umat yang memenuhi panggilan Allah untuk bertamu di rumah-Nya itu, tidak sekadar melakukan “penyempurnaan” susunan rukun semata. Bukan sekadar “minum susu”, tapi mesti tahu dan mengerti apa itu susu, tahu mengenai kandungan zatnya yang bermanfaat itu, mampu mengolahnya agar lebih menarik selera untuk meminumnya.

Untuk itu, berhaji tak cukup sekadar melakoni sebuah prosesi, hanya melaksanakan ritual semata. Tapi semestinya merenungkan dan memahami esensi dan substansi haji di tengah simbolitas dan formalitas syarat-rukunnya. Sehingga, dengan refleksi mendalam makna di balik itu, jamaah haji menemukan energi transformasi internal menuju terbentuknya kesalehan ritual dan sosial yang menjadi barometer kebahagiaan dunia-akhirat.

Hingga kini, masih banyak jamaah yang masih terjebak dalam simbolitas syarat-rukun, tanpa mampu mengungkap makna substansial di balik itu. Maka, setelah tunai berhaji tidak ada transformasi internal dalam kehidupannya. Sebatas memaknai ibadah haji sebagai ibadah yang hanya penuh dengan ritual simbolik-transedental –sebatas meraih kesalehan ritual saja. Padahal, jika direnungi dan dipahami, ibadah haji juga banyak mengandung makna sosial. Hal ini didasarkan pada substansi Islam sebagai agama rahmatan lil’alamiin.

Prosesi ritual haji begitu sarat makna sosial. Renungkan dan tangkap makna di balik kain ihram, dalam sa’i, pada thawaf, tahalul, mabit, saat wukuf atau pun pada ritual melempar jumrah. Ritual simbolik itu begitu sarat pesan sosial yang menjadi ibrah (pelajaran) dalam kehidupan keseharian di masyarakat. Bagaimana kita diajari untuk bisa membersihkan diri dari nafsu serakah angkara murka, belajar saling mengasihi, menghormati dan menghargai. Belajar siap menolak bahkan mengusir setan penggoda, atau bagaimana ibrah tentang konsep kehidupan yang bersih, baik, tidak menyimpang dari etika dan norma sosial maupun agama.

Makna sosial ibadah haji mengajarkan kepada umat Islam umumnya dan jamaah haji khususnya senantiasa mengubah pikiran, sikap serta perilaku (tindakan) yang lebih bermanfaat untuk masyarakat dan orang lain, jangan sampai memiliki persepsi bahwa ibadah haji itu hanya untuk Allah, justru yang paling penting adalah ibadah haji itu diperuntukkan bagi sesama manusia dengan cara selalu menjaga, menghormati, menghargai serta saling menjunjung tinggi martabat manusia.

Haji yang mampu mentransformasikan pribadi menjadi insan saleh dan akram seperti inilah yang dinamakan Haji Mabrur, yang dalam hadits Nabi dijanjikan dengan surga. Sebaliknya, haji yang hanya bertendensi isqatul fardli (hanya melaksanakan kewajiban) atau malah ada pretensi dan ambisi duniawi (popularitas, nama besar dan status sosial lainnya), tidak begitu banyak manfaatnya. Karena ia telah mereduksi haji hanya ritualitas tanpa menemukan makna reflektif-transformatif sosialnya.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR