Senin, 18 November 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Muamalah

“Bolehkah Shalat Menghadap ke Mana Saja? ‘Kan Tuhan ada di Mana-mana”

Senin, 7 Agustus 2017
hariyawan/masjidraya.com
H. Djudju Syamsudin secara sabar dan telaten menjawab setiap pertanyaan anak-anak dari Komunitas Bhinneka Bandung, saat memandu tur di Masjid Raya Bandung, Sabtu (5/8).*

MRB – Anak-anak berkulit putih, bermata sipit, ada juga yang berkulit hitam dengan rambut keriting, siang itu (Sabtu, 5/8), berbaur dengan anak-anak lainnya di dalam Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.

Mereka adalah anak-anak kelas 4-6 sekolah dasar di Bandung, yang berasal dari beragam suku, dengan latar belakang agama yang berlainan pula. Mereka berasal dari Komunitas Bhinneka Bandung, yang sedang melakukan“Wisata Rumah Ibadat”. Mereka melakukan wisata ke lima rumah ibadat yang berbeda-beda, yaitu gereja, vihara, pura, dan masjid. Untuk Masjid, mereka mengunjungi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat, di Jalan Dalem Kaum, Bandung.

Keluguan dan antusiasme pun mereka perlihatkan, ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada pengurus DKM Masjid Raya Bandung, yang menerima mereka hari itu, yaitu Sekretaris, Drs. H. Aos Sutisna, M.Ag; Staf Ahli Bidang Organisasi, Kajian, dan Pengembangan IT, DR. H. Agus Safei, M.Ag; dan Ketua Bidang Pemuda dan Remaja Masjid, Drs. H. Djudju Syamsudin, M.Si.

“Pak, mengapa perempuan Islam harus memakai tutup kepala?” Tanya gadis kecil asal Papua.

“Pa, mengapa shalat itu harus memakai alas karpet yang empuk?” Tanya anak bermata sipit yang mengaku beragama Katolik.

“Pak, mengapa tempat shalat wanita dan laki-laki harus dipisahkan/dibatasi?” Tanya anak berkulit putih berkaca-mata.

“Pak, bolehkah shalat menghadap ke mana saja, ‘kan Tuhan itu ada di mana-mana?” Tanya seorang anak perempuan yang lain.

Bagi umat muslim, mungkin pertanyaan itu sangat jarang bahkan tidak akan muncul, karena sudah tahu jawabannya. Tetapi bagi anak-anak –terutama yang nonmuslim--, perlu jawaban sederhana yang memuaskan mereka . Memuaskan dalam arti jawaban tersebut masuk dalam nalar usia mereka. Jawaban sederhana itulah yang disampaikan H. Aos Sutisna, H. Agus Safei, dan H. Djudju Syamsudin, yang dengan sabar menjawab pertanyaan setiap anak.

Tentunya, anak-anak ini tidak hendak mempelajari tentang keberadaan agama-agama di luar agama mereka dalam usia sedini itu. Mereka lebih ingin mengetahui perbedaan, tentang keberagaman di lingkungan keseharian mereka.

“Secara sederhana, Komunitas Bhinneka Bandung lewat wisata rumah ibadat ini ingin menghayati kembali identitas Bangsa Indonesia yang asli, yakni bangsa yang berbeda-beda tetapi satu jua,” kata Ali Abdullah, Koordinator Komunitas Bhinneka Bandung, sebelum pamit mendampingi anak-anak lainnya untuk mengunjungi rumah ibadat lainnya, menghayati identitas bangsa Indonesia lainnya.* hariyawan – MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR