Minggu, 20 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Jalur Mabrur

Senin, 7 Agustus 2017
Oleh: HD Sutarjan

MRB - ”Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”. Begitulah sabda Rasulullah Muhammad Saw. Dari sabda tersebut jelas bahwa nilai ibadah haji mabrur begitu tinggi. Konsekuensinya, setiap yang bernilai tinggi pasti sulit diraih. Bahkan, usaha untuk meraihnya itu terkadang berisiko tinggi. Jelas, hanya orang-orang “luhur” yang dapat meraih predikat mabrur.

Jamaah haji mana dan yang bagaimana yang dapat memperoleh derajat haji mabrur? Pasti sangat sulit menjawabnya secara hakiki. Karena yang mengetahuinya hanyalah Allah SWT. Namun sebagaimana kita mengukur “khusyuknya” shalat seseorang, kita dapat pula mengukur predikat haji seseorang. Sudah pasti ukuran penilaian ini sifatnya relatif dan manusiawi.

Secara leksikal, haji mabrur artinya haji yang diterima Allah. Dari pengertian tersebut, kita tidak dapat menentukan secara langsung bahwa haji seseorang mabrur atau tidak. Namun demikian, kita dapat melihat ciri-ciri orang yang memiliki predikat haji mabrur.

Jika kita menganalogikan untuk menentukan apakah taubat seseorang diterima atau tidak, secara hakiki tidak mungkin kita mengetahuinya, karena hal itu sifatnya gaib. Namun, kita dapat menentukan taubat seseorang diterima atau tidak dari perilaku atau tanda-tanda pada seseorang yang bertaubat.

Di antara tanda seseorang yang taubatnya diterima adalah perubahan tingkah laku dari buruk menjadi baik, dari pamrih menjadi ikhlas, dari acuh tak acuh menjadi peduli terhadap sesama, dari sombong menjadi rendah hati, dari putus asa menjadi sabar, dan lain sebagainya.

Begitu pula ketika kita ingin melihat apakah ibadah haji seseorang diterima atau tidak dapat dilihat dari perilaku sesudahnya. Perubahan tingkah laku seseorang setelah menyandang gelar “H”. Apakah perilaku buruk sebelum berhaji tidak dilakukan lagi sesudahnya? Bagaimana kepedulian terhadap sesama sesudah berhaji? Sudahkah kemalasan ibadahnya berganti dengan tekun dan khususk? Bagaimana sikap penyantunnya terhadap anak yatim atau orang lemah mampu ditunjukkan sesudah berhaji?

Meski sifatnya gaib, dan sulit untuk menentukan mabrur tidaknya ibadah haji seseorang, bukan berarti “gaib” juga cara, proses dan upaya menggapainya. Allah SWT melalui Al-Quran telah memberi petunjuk, juga Rasulullah Saw banyak memberi tuntunan agar umatnya mampu melakukan ibadah haji dengan baik. Mampu berada di jalur mabrur.

Dari petunjuk dan tuntunan itu, bisa diketahui paling tidak ada tiga syarat yang mendasar yang harus dijadikan pegangan, yakni kebenaran dan kemurnian niatnya, tata caranya, dan sarananya dalam menunaikan ibadah haji tersebut.

Predikat mabrur tidaknya haji seseorang sangat ditentukan niat yang ikhlas –semata-mata karena Allah, manasik yang baik –tata cara pelaksanaan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw, dan bekal yang halal –sebaik-baik bekal adalah takwa. Selain itu, terlihat dalam perubahan perilaku menjadi lebih baik sesudahnya. Namun, sekali lagi, hanya Allah azza wajalla saja yang Mahatahu hamba-hamba-Nya yang mabrur.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR