Minggu, 20 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Tausyiah

Rindu terhadap Masjid

Kamis, 10 Agustus 2017
Oleh: KH Miftah Faridl

MRB - Rasulullah pertama kali membangun dan membina masyarakat dimulai dari masjid. Para sahabat selalu rindu dan komit dengan masjid. Kita bisa membayangkan kalau masyarakat  muslim selalu komit dengan masjid, maka kita akan hidup penuh barokah.  Ini janji Allah dan Rasul-Nya yang tidak pernah salah. 

Dengan berkumpul di masjid, kita akan menemukan kesejukan dan ketentraman batin. Menghilangkan kegelisahan dalam hati.  Dengan seringnya bertemu di Rumah Allah, maka akan mencairlah berbagai perasaan yang tidak nyaman di antara kita baik sebagai akibat persaingan atau akibat-akibat lain, seperti berita-berita mass media yang mengakibatkan kita jengkel pada orang lain. 

Pada tahun 622 M.  Rasulullah meninggalkan kota Mekah, karena kota ini sudah tidak kondusif lagi untuk membentuk masyarakat baru. Beliau dan para sahabatnya harus berhijrah dengan menelusuri jalur selatan,  berjalan kaki  sekitar 500 KM menuju kota Yatsrib. Hijrah itu dilakukan pada akhir Juli dan Agustus, yang merupakan puncak cuaca panas di tanah Arab yang bisa mencapai 50 derajat celcius. Ini tentu merupakan perjuangan yang sangat berat. 

Pada tahun 629M Rasul dan para sahabatnya sudah bisa melaksanakan ibadah umrah dengan mengambil miqat  Abyar Ali atau dzulhulaifah Madinah dengan membawa ummat sekitar 10.000 orang.  Mereka bermaksud melaksanakan ibadah umrah yang tidak mungkin melakukan perang. Sebab ketika kondisi ihram seseorang tidak boleh melukai badan, memotong kuku, menggunting rambut, mencabut tanaman, bahkan kaum laki-laki hanya boleh memakai pakaian dua helai kain saja.  Tetapi ternyata ibadah umrah ini  melahirkan revolusi besar tanpa pertumpahan darah, yaitu futuh Makkah. Allah mengabadikan: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.”(Q.S. An-Nashr:1-3)

Ketika meraih kemenangan, maka sucikan Allah.  Pujilah Allah, dan jangan gila pujian. Orang yang gemar dipuji berarti ia sedang merampas hak Allah.  Kemudian setelah itu mohonlah ampun kepada Allah. Karena ketika kita menang atau sukses, pada saat yang sama ada saudara kita yang tersakiti perasaannya. Ketika kita berbelanja dengan harga yang murah, maka penjual merasa dirugikan. Ketika menjual barang dengan harga mahal, kita ingat ada pembeli yang merasa dirugikan.  Ketika menduduki sebuah jabatan, tentu ada saingan kita yang tersakiti, sedih karena jabatan yang diinginkannya diberikan Allah kepada kita. Munajat dan dzikir yang sangat tepat saat meraih kemenanga adalah kalimat subhanallah wabihamdihi, subhaanallahil adziim astaghfirullah. 

Pada peristiwa hijrah, sebelum sampai di kota Madinah, Rasulullah singgah di sebuah tempat bernama Quba. Beliau sempat membangun masjid yang dikenal dengan Masjid Quba.  Setelah selesai membagun masjid ini, Rasul meneruskan perjalanan hingga pusat kota Yatsrib dan juga membangun masjid, yang sekarang dikenal dengan masjid Nabawi. 

Setelah masjid, apa selanjutnya yang beliau bangun?  Beliau membangun sebuah rumah yang sangat sederhana.  Kalau kita melihat  komplek pekuburan beliau di Madinah yang hanya berukuran 4x4 M, yang tadinya merupakan bekas rumah beliau dengan Siti Aisyah, ini menandakan bahwa beliau sangat hidup sederhana. Aktivitas beliau terpusat di masjid. 

Beliau menyatakan bahwa langkah menuju masjid itu bernilai ibadah, menghapus dosa, mengangkat derajat, dan mendapatkan ketentraman.  Shalat fardlu yang paling baik adalah yang dilakukan berjamaah di masjid.  Dzikir yang terbaik itu yang dilakukan di masjid. Membaca al-Qur’an yang paling afdlol itu dilakukan di masjid. Demikian juga pertaubatan yang paling didengar Allah adalah ketika dilakukan di masjid.  

Para sahabat senantiasa merasa senang bertemu nabi, dan merasa senang diimami nabi, sehingga ketagihan menuju masjid. Dari masjid itulah Rasulullah menyampaikan pesan-pesan moral dengan santun, toleran dan kasih sayang. 

Dengan demam masjid ini, insya Allah kita selamat dan berbarokah dalam hidup, untuk sekarang dan masa datang.*** Prof. Dr. KH. Miftah Faridl adalah Ketua Umum MUI Kota Bandung


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR