Minggu, 20 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Tausyiah

Mencintai Allah

Sabtu, 12 Agustus 2017
Oleh: KH. Badruzzaman M. Yunus

MRB - Sebagai manusia, kita harus mencintai Allah. Itu pula yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Allah berfirman: “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S. Ali Imran:31)

Mengapa kita diperintahkan mencintai Allah? Karena Allah merupakan Dzat yang memberikan anugerah kepada kita tanpa terhingga. Bahkan anugerah itu tidak akan bisa terhitung jumlahnya. Allah menegaskan: “…Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya….”(Q.S. Ibrahim:34)

Dari sekian banyak nikmat Allah, terdapat tiga nikmat yang terbesar. Pertama, ni’matul wujud, yaitu kenikmatan kita diciptakan sebagai manusia. Kita merupakan makhluk termulia. Kita memang lahir dari orang tua yang memiliki ikatan suami isteri, tetapi itu semua hanya merupakan sebab saja. Pencipta utamanya adalah Allah. Dalam al-Qur’an ditegaskan: “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki”.(Q.S. asy-Syura:49)

Kedua, ni’matul imdad, yaitu kenikmatan adanya fasilitas yang telah disediakan Allah. Di dunia ini kita telah disediakan matahari, udara, air dan berbagai keperluan lain agar kita bertahan hidup. Semuanya disediakan untuk manusia. Bahkan malaikat pun diciptakan agar melayani manusia. Hanya saja satu hal yang harus diperhatikan oleh manusia yaitu harus mengabdi kepada Allah SWT.

Ketiga, ni’matut taklif, yaitu kenikmatan diberikan kewajiban oleh Allah. Kita diberikan kewajiban mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, melaksanakan puasa, menunaikan ibadah haji, dan lain-lain. Itu semua merupakan kenimatan dari Allah. Mengapa kewajiban dianggap sebagai nikmat? Karena setiap nikmat itu pasti ada guna dan manfaatnya bagi kita.

Ketika Allah mewajibkan sesuatu kepada kita, maka manfaatnya bukan untuk Allah. Tetapi kembali kepada kita. Bagi Allah tidak ada dampaknya sama sekali. Orang mau mendirikan shalat atau tidak, sama sekali tidak berpengaruh kepada Allah. Dampak manfaatnya tetap bagi kita. Dengan shalat kita akan mendapat manfaat berupa balasan pahala. Maka kewajiban dari Allah itu harus disikapi sebagai nikmat, bukan beban. Karena kebanyakan orang menganggap bahwa kewajiban dari Allah itu sebagai beban, maka ibadah itu akhirnya terasa berat. Sekarang, kita balik paradigmanya bahwa kewajiban itu sebagai nikmat. Ketika kewajiban dari Allah kita jadikan nikmat, maka kita tidak akan berat melakukannya.

Dengan ketiga kenikmatan itu, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencintai Allah. Tanda orang mencintai Allah, ia akan mengikuti aturan-aturan Rasul-Nya. Ia akan berakhlak mulia dan senantiasa beramal shaleh.

Kalau ia telah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kecintaan itu akan berbalas, yaitu Allah akan balik mencintai makhluk-Nya. Kecintaan Allah kepada hamba-Nya dibuktikan dengan pemberian pahala kepada setiap orang yang beramal shaleh. Bahkan pahala kebaikan itu dilipat gandakan berkali-kali lipat. Bukan hanya pahala, tetapi juga diberikan ampunan dari berbagai dosa. Sebagai manusia biasa, yang bukan nabi atau malaikat, kita pasti suatu ketika pernah melakukan kesalahan. Ada yang disengaja atau tidak. Itu pun kadang ditaubati, kadang tidak. Kita pun tidak tahu, entah diterima oleh Allah atau tidak taubat kita. Tapi ketika kita mencintai Allah, maka Allah akan mengampuni dosa kita, karena Allah memiliki sifat Pengampun dan Penyayang.

Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, sehingga kita senantiasa dianugerahi rahmat-Nya.*** Dr. KH. Badruzzaman M. Yunus, MA. adalah Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR