Jumat, 20 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Mimbar
Hasan Arif, Pemberontak dari Cimareme (1)

Sebuah Gerakan Bawah Tanah

Minggu, 20 Agustus 2017
IST.
HAJI Hasan Arif Tubagus Alpani meninggal seketika dengan sejumlah luka tembak di tubuhnya. Tujuh orang pengikutnya juga menemui ajal dengan cara yang sama. Kematian Hasan Arif menjadi penutup dari gerakan perlawanan rakyat Cimareme secara terbuka, yang menolak pungutan pajak padi sewenang-wenang yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda.*

MRB - Suara gaduh memecah keheningan Kampung Cimareme, Desa Sukasari, Kec. Banyuresmi, Kab. Garut. Ratusan orang bersenjata merangsek masuk ke rumah-rumah warga. Menarik ke luar lelaki yang dicurigai, menganiaya yang melawan. Sekelompok orang kemudian berhenti di depan sebuah rumah dekat masjid. Mereka mendobrak pintu. Seorang lelaki tegap yang tengah shalat sunat diberondong peluru dan tersungkur.

Haji Hasan Arif Tubagus Alpani, lelaki itu, meninggal seketika dengan sejumlah luka tembak di tubuhnya. Tujuh orang pengikutnya juga menemui ajal dengan cara yang sama. Kematian Hasan Arif menjadi penutup dari gerakan perlawanan rakyat Cimareme secara terbuka, yang menolak pungutan pajak padi sewenang-wenang yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda.

Peristiwa yang terjadi 91 tahun lalu itu, tepatnya pada 12 Agustus 1918, selalu dikenang dan menjadi bagian penting dalam sejarah warga Cimareme. Sebab itulah bulan Agustus memiliki makna tersendiri bagi masyarakat setempat. Biasanya, setiap tanggal tersebut sejumlah warga melakukan doa bersama di masjid Cimareme. Mengenang kembali kejadian itu dan mendoakan para syuhada yang gugur di tangan pasukan marsose.

Peristiwa pemberontakan Hasan Arif dan pengikutnya sangat jarang disinggung dalam pengajaran sejarah, khususnya di Jawa Barat. Orang-orang hanya akan mengetahul nama itu jika berkesempatan mengunjungi Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Di museum tersebut terdapat beduk, jubah putih dan beberapa senjata tajam, yang berkaitan dengan tokoh tersebut. Namun selebihnya, orang tidak banyak tahu akan perjuangan gigih Hasan Arif.

Cimareme berjarak sekitar 15 km dari pusat kota Garut atau terletak pada 30 derajat arah timur laut dari pusat kota. Dari arah Bandung, untuk menuju Cimareme bisa belok kiri di betulan Leles. Pada tahun 1918, di kawasan itu ada tiga masjid yang tersebar di tiga kampung berdekatan. Yaitu Cimareme, Babakan dan Cikadongdong. Masjid Cimareme saat itu merupakan pusat pengajaran Islam dan berfungsi sebagai pesantren. Di tempat itulah, Hasan Arif menanamkan ajaran Islam yang dikaitkan dengan perjuangan menentang penjajahan. Dia telah tumbuh menjadi tokoh sentral di tengah masyarakat.

Selain mengajarkan ilmu-ilmu agama yang pokok, Hasan Arif juga memberi perhatian khusus kepada ilmu-ilmu 'kadigjayaan’, dan kegiatan olah raga. Di Cimareme terdapat perkumpulan sepak bola “Kumpulan Voetbal Merdeka Tani’, dan perkumpulan ilmu bela diri pencak silat “Gerak Cepat”. Tokoh yang lahir tahun 1853 itu tampaknya memang mempersiapkan fisik para pengikutnya, untuk sebuah langkah perjuangan yang lebih jauh.

Sedangkan dari sisi politik, Hasan Arif mendirikan sebuah gerakan bawah tanah bernama Cimawa Rame pada tanggal 14 Agustus 1914. Organisasi ini bersifat rahasia, dan terdiri dari tokoh-tokoh teras Cimareme. Di antaranya, Atmaka pemegang urusan siasat (politik), Adikarta alias Haji Manan pemegang urusan kesejahteraan, Adinata alias Haji Manap mengurus soal mantera, Warga alias Haji Hasanuddin mengurus masalah kemanusiaan, H. Syamsuri urusan keagamaan, dan Wiguna urusan perhubungan.* Enton Supriyatna Sind - MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR