Minggu, 15 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Tentang Mushafahah

Minggu, 27 Agustus 2017
Oleh: H. Tjetje Soebrata

MRB - Bersalaman setelah shalat adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam karena bisa menambah eratnya persaudaraan sesama umat Islam. Aktivitas ini sama sekali tidak merusak shalat seseorang karena dilakukan setelah prosesi shalat selesai dengan sempurna.

Meskipun demikian, banyak orang yang mempertanyakan tentang hukum bersalaman. Perbincangan seputar ini masih terfokus tentang bid’ah tidaknya bersalaman ba’da shalat. Inilah yang perlu dijelaskan lebih lanjut.

Ada beberapa hadits yang menerangkan tentang bersalaman, diantaranya adalah hadits riwayat Abu Dawud. Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah SAW bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

Juga hadits riwayat Bukhari yang merupakan hadits ke 3360. Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya.

Qaladah bin Di’amah r.a. berkata: saya berkata kepada Anas bin Malik, apakah mushafahah itu dilakukan oleh para sahabat Rasul? Anas menjawab: ya (benar).

Hadits-hadits di atas adalah menunjuk pada mushafahah secara umum, yang meliputi baik mushafahah setelah shalat maupun di luar setelah shalat.

Jadi pada intinya mushafahah itu benar-benar disyariatkan baik setelah shalat maupun dalam waktu-waktu yang lainnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits di atas.

Pendapat empat ulama besar tentang mushafahah ini, menguatkan pentingnya bermushafahah bisa disimak .termasuk bermushafahah (bersalaman) setelah shalat.

Imam al-Thahawi berpendapat, bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim.

Pendapat Imam Izzuddin bin Abdissalam menyebutkan: Mushafahah setelah shalat adalah masuk dalam kategori bid’ah yang diperbolehkan.

Syeikh Abdul Ghani an-Nabilisi mengatakan, mushafahah setelah shalat masuk dalam keumuman hadits tentang mushafahah secara mutlak.

Sementara Imam Muhyidin an-Nawawi berpendapat: Sesungguhnya mushafahah setelah shalat dan mendoakan saudara Muslim supaya shalatnya diterima oleh Allah, dengan ungkapan (semoga Allah menerima shalat anda), adalah di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan menambah kedekatan (antar sesama) dan menjadi sebab eratnya hati dan menampakkan kesatuan antar sesama umat Islam.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR