Jumat, 3 Juli 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Masjid Qiblatain

Saksi Sejarah Perubahan Arah Kiblat

Kamis, 31 Agustus 2017
IST.
MASJID Qiblatain termasuk salah satu masjid yang menjadi tonggak sejarah syiar Islam. Di masjid inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu untuk mengubah arah kiblat shalat, dari Baitul Maqdis di Yerussalem (Palestina) ke Baitullah di Masjidilharam (Mekah).*

MRB - Madinah yang dikenal sebagai Kota Nabi itu menyimpan sejumlah tempat dan masjid bersejarah. Di samping Masjid Quba yang merupakan masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad SAW –dikerjakan “rereongan” oleh kaum Muhajirin dan Anshar, dan tentu Masjid Nabawi yang sangat dibanggakan Nabi dan diberkahi itu, juga terdapat Masjid Qiblatain.

Masjid Qiblatain termasuk salah satu masjid yang menjadi tonggak sejarah syiar Islam. Di masjid inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu untuk mengubah arah kiblat shalat, dari Baitul Maqdis di Yerussalem (Palestina) ke Baitullah di Masjidilharam (Mekah).

Masjid ini berjarak sekitar 7 kilometer dari Masjid Nabawi, di tepi jalan ke jurusan Wadi Aqiq, di atas bukit kecil di utara Harrah, Madinah. Semula dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah.

Pada tahun ke 2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab, Rasulullah berkunjung ke perkampungan Harrah untuk sekadar bersilaturrahmi dengan warga Muslim di sana. Ketika memasuki waktu Dhuhur, Rasulullah melaksanakan shalat di Masjid Salamah ini.

Dalam shalat tersebut mula-mula Rasulullah menghadap ke arah Masjidil Aqsa. Namun, pada rakaat kedua Rasulullah mendapat wahyu (Al-Baqarah: 144) untuk mengubah arah kiblat tersebut. Setelah turun ayat tersebut, Rasulullah pun menghentikan sementara shalatnya, kemudian meneruskan kembali dengan menghadap ke Masjidilharam di kota Mekah.

Adapun wahyu yang diturunkan Allah untuk mengubah arah kiblat tersebut: “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Allahnya dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (Albaqarah: 144).

Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini (Masjid Bani Salamah) dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua.

Masjid Qiblatain mengalami beberapa kali pemugaran di antaranya pada tahun 893 H atau 1543 M oleh Sultan Sulaiman. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sekarang juga mengadakan perluasan dan pembangunan konstruksi baru, namun tidak menghilangkan ciri kas masjid tersebut.* abu ainun - MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR