Jumat, 20 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Menahan Diri

Selasa, 12 September 2017
Oleh: H. Firman Rahmat

MRB - Harta, takhta, dan wanita adalah pemeo yang sangat terkenal. Ketiganya kerap diasosia­sikan sebagai ”faktor penghancur” kehidupan, karier, kedudukan bahkan kehormatan seorang pria. Tentunya, pemeo itu ti­dak muncul begitu saja karena memang banyak peristiwa faktual terkait dengan persoalan itu dan sejarah --sejak peradaban kuno hingga mo­dern— telah mencatatnya. Sekadar contoh, Bill Clinton dan Silvio Berlusconi adalah dua dari puluhan atau ribuan pria hebat berkaliber dunia, yang reputasinya jatuh karena wanita.

Di dalam negeri pun banyak contohnya. Yang paling aktual adalah kemelut di tubuh Partai Keadilan Sejah­tera (PKS). Selain dugaan suap dan korupsi impor da­ging sapi yang me­nyeret dan menjatuhkan Lutfi Hassan Ishaq dari kursi Presiden PKS, kasus ini juga diramai­kan dengan skandal antara tokoh-tokoh yang terlibat dalam kasus itu dengan sejumlah wanita --muda dan cantik tentunya.

Harta-takhta-wanita. Secara fitrah, pria memang mengorientasikan pikiran, kemampuan, dan langkahnya untuk menggapai tiga unsur itu. Bahwa dalam mencapai dan pencapainnya ada yang melakukannnya se­cara biasa atau tidak biasa, sukses atau tidak berhasil, itu persoalan lain. Namun, intinya, dalam konteks duniawi, tujuan seorang pria tidak jauh dari harta, takhta, dan wanita. ”This is a man’s world, this is a man’s world/But it wouldn’t be nothing, nothing without a woman or a girl…”, demikian James Brown dalam lagunya ”It’s A Man’s Man’s Man’s World” (Turn It Loose, 1966).

Ada hal yang menarik soal takhta, harta, dan wanita yang mengemuka dari pandangan motivator terkenal, Mario Teguh. Dalam acara ”Mario Teguh Golden Ways” edisi 9 Agustus 2009, dia kembali menegaskan, harta, takhta, dan wanita selama ini dianggap sebagai penja­tuh pria. Bahkan, sebesar-besarnya pria bisa jatuh oleh sekecil-kecilnya wanita.

”Harta, takhta, wanita justru adalah ukuran keutuhan keberhasilan seorang pria. Seorang pria yang berhasil, harus berharta, bertakhta, dan berwanita. Yang menja­dikannya gagal adalah bukan harta, takhta, wanita, te­tapi sikap yang salah, karena sikap yang salah adalah pembatal keberhasilan apa pun,” kata Mario Teguh.

Saya setuju dengan pandangannya itu. Untuk itu, adalah sesuatu yang penting untuk terus berusaha dan berikhtiar mencari harta dengan cara bekerja sebaik-baiknya agar bisa hidup dan menghidupi keluarga. Ti­dak kalah pentingnya untuk mencapai kedudukan tertentu, meski bukan takhta secara harfiah, agar lebih bisa membantu menyejahterakan keluarga dan orang lain. Soal wanita? Tentu saja sangat penting. Apa jadinya hidup tanpa wanita. Tapi, wanita seperti apa? Wanita sebagai istri yang mulia dan solehah, yang kita cintai dan mencintai kita, serta menjadi ibu teladan bagi anak-anak kita.

Sekali lagi, harta, tahta, dan wanita adalah tujuan umum dari kaum pria. Namun, ketiganya akan menjadi sumber bencana yang, menurut Mario Teguh, bisa jadi penjatuh jika kita salah menyikapinya. Memang, do­rongan untuk memiliki tiga unsur itu sangatlah besar. Makanya muncul istilah suku dijieun hulu, hulu di­jieun suku, segala daya upaya dilakukan untuk memperoleh sebesar-besarnya harta, setinggi-tingginya takhta (posisi, jabatan, kedudukan), dan mendapatkan secantik, semuda, dan, kalau perlu, sebanyak-banyaknya wanita.

Banyak yang berhasil, namun tak sedikit pula yang gagal. Namun, bagi mereka yang berhasil mendapatkan semua itu, persoalan tidak kemudian selesai. Banyak gangguan, cobaan, bahkan godaan yang, jika tidak bisa mengelolanya secara baik, yang didapat justru perma­salahan. Apa yang dialami beberapa tokoh di atas ada­lah contohnya.

Meski sudah banyak contoh, hasrat untuk memiliki dan me­nguasai harta, takhta, dan wanita tidak pernah berkurang. Terlebih dalam situasi dan kondisi kehidup­an yang nyaris serba­material seperti sekarang. Lihat sa­ja kehidupan di perkotaan. Bagi sebagian orang, waktu 24 jam sehari tampaknya tidak cukup. Selain sibuk be­kerja, waktu yang tersisa pun kerap dipakai meningkat­kan performa pribadinya. Tujuannya apalagi kalau bukan agar lebih cepat mendapatkan harta yang lebih banyak, kedudukan yang lebih tinggi. Dinamika seperti itu bukan lagi sekadar gaya hidup, tapi sudah jadi budaya dan keharusan.

Ketika kekuasaan dan kemampuan ada di tangan, apa sih yang tidak bisa peroleh? Ingin rumah sebesar apa, ingin mobil semewah apa, dan ingin wanita secantik apa? Dengan uang semua bisa didapat. Dengan keku­asa­an semua bisa diatur. Dan, ketika kita mampu me­menuhi semua keinginan itu, menahan diri menjadi perkara yang tidak mudah.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR