Senin, 22 Juli 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Gubug Pesantren Kyai Amin

Dari Pesantren Sederhana Ini, Lahir Pembaca Kitab Kuning Andal

Jumat, 15 September 2017
IST.
BERALASKAN papan kayu dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, pesantren asuhan Kyai Amin memang hanyalah bangunan sangat sederhana, berupa gubug. Tapi siapa sangka jika dari gubug ini, telah lahir pembaca-pembaca kitab kuning andal.*

MRB - Melihat fisik bangunan pesantren yang berada di pelosok Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah ini, sangat jauh dari kesan sederhana, apalagi mewah. Beralaskan papan kayu dengan dinding yang terbuat dari anyaman bambu, pesantren asuhan Kyai Amin memang hanyalah bangunan sangat sederhana. Tapi siapa sangka jika dari gubug ini, telah lahir pembaca-pembaca kitab kuning andal.

Pesantren Kyai Amin, begitu masyarakat sekitar menyebut pesantren salaf yang diasuh Kyai Amin Fauzan Badri. Pesantren yang berada di Desa Brakas, Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan ini, dikenal dengan metode singkat belajar ilmu ‘alat (gramatika bahasa Arab). Dengan metode yang dimiliki pesantren ini, hanya dibutuhkan waktu sekitar 8 sampai 20 bulan saja untuk bisa membaca kitab gundul secara lancar serta lengkap dengan makna dan gramatikanya. Padahal umumnya, seorang santri butuh waktu minimal tiga tahun untuk bisa membaca dan memaknai kitab ‘gundul’. Itu pun harus ditempa ngaji ilmu ‘alat setiap hari.

Muhammad Amir Hasan misalnya, santri yang baru sembilan bulan belajar di Pesantren Kyai Amin ini sudah bisa membaca Kitab Fathul Qarib karya Abu Abdillah Muhammad bin Qosim al-Ghazzi dengan lancar. Bahkan ia pun mampu membaca makna, menjabarkan i’rab (perubahan harakat di akhir kalimat), dan melafalkan maraji’ buku yang ditulis tanpa harakat dan terjemahan.

Begitu juga dengan Ahmad Badawi yang mampu membaca dengan lancar kitab Fathul Qarib lengkap dengan maknanya. Seperti halnya Muhammad Amir Hasan, bocah asal Pati, Jawa Tengah inipun baru delapan bulan mondok di Pesantren Kyai Amin.

Kondisi bangunan pesantren yang seadanya, tidak membuat malas para santri untuk belajar. Bagi mereka, bukan halangan tidur berdempetan di kamar sempit dan harus mengantri untuk mandi. Ya, di pesantren ini hanya ada dua kamar untuk tidur 25 santri serta hanya ada satu kamar mandi untuk digunakan semua santri.

Tidak heran jika banyak orang tua berpikir dua kali untuk menitipkan anaknya belajar di sini. “Tidak tega dengan kondisi pesantren,” begitu biasanya alasan mereka.

Namun karena pesantren ini mempunyai metode yang mampu mengajarkan santri membaca kitab kuning dalam tempo singkat, akhirnya para orang tua mau memasukkan anaknya di Pesantren Kyai Amin.

Di Pesantren Kyai Amin, para santri belajar menggunakan metode Al Ikhtishor. “Santri setiap hari cukup belajar metode Al-Ikhtishor ini satu jam saja, karena syarat untuk mempelajari metode ini adalah tidak boleh lupa antara pelajaran pertama sampai terakhir. Pasalnya, setiap bab dalam Al-Ikhtishor ini berkaitan satu sama lain. Sehingga dalam dua kitab itu merupakan satu mata rantai yang tidak terputus. Kalau santri lupa soal bab sebelumnya, itu menutup jalan untuk bisa pada bab selanjutnya, karena antara satu bab dengan bab lainnya saling kait mengait, maka santri cukup belajar satu jam saja, agar dia tidak lupa dengan pelajaran-pelajaran sebelumnya,” ungkap Kyai Amin.

Kyai Amin menuturkan, proses pengajaran Al-Ikhtishor dilakukan setiap pagi secara privat, empat mata antara dirinya dengan santri. Satu per satu santri mengaji dengannya.

Di pesantren ini tidak ada masa pengajian bersama-sama dimulai. “Kalau hari ini ada santri datang, berarti besok pagi dia mulai belajar. Jadi antara satu santri dengan santri lainnya, mulainya beda dan khatamnya juga beda,” tutunya.

Lalu untuk menguatkan ingatan santri, setiap ba’da Ashar digelar setoran hafalan, dan pada malam harinya santri diwajibkan muthala’ah yang dipimpin santri senior. “Setiap satu bahasan dikaji tiga kali dalam satu hari,” terangnya.

Soal muthala’ah yang dipimpin santri senior, menurut Kyai Amin, cara ini ditempuh untuk menyiapkan santri senior agar bisa mengajar Al-Ikhtishor. “Nanti manfaatnya dia ngajar Al-Ikhtishor sudah bisa,” terangnya.

Selain Al-Ikhtishor Jumlah Ismiyah dan Fi’liyah, Kyai Amin juga menulis kitab kecil sebagai rujukan (maraji’) bagi dua kitab sebelumnya. Kitab berukuran kecil itu menukil dari sejumlah kitab Alfiah dan sharaf. Jika sukses meng-khatamkan Al-Ikhtishor, santri sudah siap mengaji kitab kuning. Dalam praktik tersebut dibagi menjadi tiga tahapan, pemula, menengah, dan tinggi. Masing-masing tahapan ditempuh selama 3 hingga 6 bulan. Pada tahap pemula, mengaji kitab Fathul Qarib. Tahap menengah kitab Tahrir dan tahap tinggi, mengaji kitab Nihayatuz Zayn. Artinya, seorang santri dijamin mahir membaca kitab kuning dalam tempo 20 bulan. Yakni 2 bulan mengaji Al-Ikhtishor, dan 18 bulan mengaji tiga kitab.

Kepada para santrinya, Kyai Amin selalu berpesan , “Agar bisa cepat membaca kitab kuning, kita harus ingat tiga hal: harus teliti kata perkata; harus bisa menalar susunan kalimat secara logis; dan harus menguasai gramatika (kaidah) secara matang”.* ati/kemenag.go.id – MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR