Senin, 16 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Kabar

Hingga Rabu (27/9), Jamaah Haji Indonesia Wafat di Tanah Suci Berjumlah 615 Orang

Sabtu, 30 September 2017

MRB - Masa operasional haji 1438H/2017M sudah hampir berakhir. Sejak 25 September 2017, seluruh jamaah haji di Mekah sudah diberangkatkan menuju Madinah. Fase pemulangan jamaah haji Indonesia gelombang kedua melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah tinggal delapan hari lagi.

Rilis data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) mencatat bahwa sampai hari Rabu (27/9/2017), total jamaah wafat berjumlah 615 orang. Jumlah ini terdiri dari 10 jamaah wafat di Jedah, 449 wafat di Mekah, 67 wafat di Madinah, 21 wafat di Arafah, dan 68 jamaah wafat di Mina. Sebanyak 25 orang dari jumlah yang wafat adalah jamaah haji khusus.

Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri, Ahda Barori mengatakan, ahli waris jamaah haji Indonesia yang wafat akan mendapatkan asuransi. “Ahli waris jamaah wafat akan mendapat klaim asuransi senilai Rp 15.100.000,” kata Ahda seperti diberitakan Kemenag.go.id.

Menurut Ahda, seluruh jamaah haji Indonesia diasuransikan dengan premi senilai Rp 50 ribu. Premi ini dibayarkan dari dana optimalisasi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). Besaran premi ini merupakan kesepakatan antara pemerintah dengan Komisi VIII DPR RI.

Asuransi berlaku sejak jamaah haji keluar dari rumah masing-masing menuju Embarkasi sampai dengan kembali dari Tanah Suci, sebelum sampai di rumah. “Jika sudah sampai di rumah, lalu wafat, itu tidak termasuk yang mendapat asuransi,” tuturnya.

Selain diberikan kepada jamaah wafat, asuransi juga diberikan kepada jamaah yang terkena musibah hingga mengalami cacat tetap. Klaim asuransinya sekitar 200% dari asuransi kematian. Untuk tahun ini, tidak ada jamaah yang mendapat asuransi akibat musibah maupun cacat tetap.

Mengenai proses pengajuan klaim asuransi, Ahda mengatakan, akan dilakukan oleh Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU). Nantinya, dana asuransi tersebut akan ditransfer ke rekening jamaah untuk dicairkan oleh ahli waris.

Pengajuan klaim oleh Ditjen PHU, lanjut Ahda, dimaksudkan untuk mempercepat proses. Apalagi, kalau diserahkan kepada ahli waris, banyak di antara mereka yang tidak mau mengurus sehingga tidak semuanya terserap.

Ahda mengingatkan kepada ahli waris jamaah wafat, supaya tidak percaya kepada ada oknum yang mengaku-ngaku akan mengurus klaim asuransi keluarganya. “Jamaah tidak perlu mengurus. Sebab, pihak asuransi begitu sudah diklaim oleh kita, langsung ditransfer. Tahun lalu, satu bulan sesudah operasional proses pembayaran asuransi sudah selesai,” ujarnya.* ati – MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR