Minggu, 22 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Masjid Cheng Hoo

Monumen Sekaligus Pusat Kegiatan Masyarakat Muslim Tionghoa

Rabu, 11 Oktober 2017
IST.
MASJID Cheng Hoo terletak di Jalan Gading, Ketabang, Gengteng, Surabaya. Masjid ini resmi digunakan mulai 13 Oktober 2002. Seperti layaknya bangunan-bangunan tradisional China, masjid ini didominasi warna merah, biru, hijau, dan kuning yang menyimbolkan kebahagiaan, kemasyhuran, harapan, dan kemakmuran. Ornamennya kental nuansa Tiongkok tempo dulu.*

MRB - Arsitektur masjid ini mirip dengan bangunan-bangunan yang ada di Cina, bahkan lebih mirip dengan kelenteng, tempat ibadat penganut Konghucu. Memang, arsitektur Masjid Cheng Hoo Surabaya ini, sangat erat kaitannya dengan Laksamana Cheng Hoo yang namanya diabadikan sebagai nama masjid ini.

Cheng Hoo adalah seorang Laksamana dari Cina yang beragama Islam. Dalam perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, Cheng Ho bukan hanya berdagang dan menjalin persahabatan, tetapi juga menyebarkan agama Islam. Pada abad ke 15 pada masa Dinasti Ming (1368-1643) orang-orang Tionghoa dari Yunnan mulai berdatangan untuk menyebarkan agama Islam, terutama di pulau Jawa. Laksamana Cheng Hoo atau disebut juga Admiral Zhang Hee atau Sam Poo Kong atau Pompu Awang, pada tahun 1410 dan tahun 1416 bersama armadanya mendarat di Pantai Simongan, Semarang. Laksamana Cheng Hoo sekaligus merupakan utusan Kaisar Yung Lo untuk mengunjungi Raja Majapahit yang juga bertujuan untuk menyebarkan agama Islam.

Masjid Cheng Hoo yang luasnya sekitar 21 x 11 m2 dan mampu menampung sekitar 200 jemaah ini, dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap Laksanama Cheng Hoo dan upayanya menyebarkan agama Islam. Tak heran jika arsitektur masjid ini mirip dengan bangunan di China, negara asal sang Laksamana. Kalau diamati, arsitektur masjid ini sangat mirip dengan Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun pada tahun 996 Masehi. Gaya Niu Jie tampak pada bagian puncak, atau atap utama, dan mahkota masjid. Selebihnya, hasil perpaduan arsitektur Timur Tengah dan budaya lokal, Jawa.

Masjid Cheng Hoo terletak di Jalan Gading, Ketabang, Gengteng, Surabaya. Masjid ini resmi digunakan mulai 13 Oktober 2002. Seperti layaknya bangunan-bangunan tradisional China, masjid ini didominasi warna merah, biru, hijau, dan kuning yang menyimbolkan kebahagiaan, kemasyhuran, harapan, dan kemakmuran. Ornamennya kental nuansa Tiongkok tempo dulu. Masjid ini memiliki delapan sisi di bagian atas bangunan utama. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda, terdapat juga relief naga dan patung singa dari lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Di sisi kiri bangunan terdapat bedug untuk menandai waktu shalat tiba.

Bagian atas bangunan yang bertingkat tiga merupakan pengaruh Hindu Jawa. Bentuknya segi delapan dan menyerupai pagoda. Dalam kepercayaan Tionghoa, angka 8 berarti Fat atau keberuntungan. Di bagian serambi masjid terdapat lima anak tangga yang merepresentasikan Rukun Islam. Sedangkan enam buah anak tangga di bagian dalam masjid merepresentasikan Rukun Iman.

Selain menikmati keindahan arsitektur bangunan masjid, pengunjung juga dapat melihat relief Laksamana Cheng Hoo bersama kapal yang digunakannya saat mengarungi Samudera Hindia. Salah satu pesan yang hendak disampaikan melalui relief ini adalah agar umat Islam tetap rendah hati dalam menjalani hidup sehari-hari.

Di dalam kompleks masjid terdapat sekolah TK, lapangan olahraga, kantor, serta tempat kursus bahasa Mandarin, dan kantin. Sehingga pengunjung, khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar masjid, dapat merasakan manfaat lebih dari tempat ini. Selain aktif digunakan sebagai tempat ibadah harian dan saat hari raya Idulfitri dan Iduladha, berbagai kegiatan sosial seperti distribusi sembako murah, donor darah juga kerap diadakan di sini.* ati - MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR