Minggu, 9 Agustus 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Madrasah, Mengapa Tidak?

Senin, 23 Oktober 2017
Oleh: Lilis Ummi Fa'iezah, S.Pd. MA

MRB - Berbicara tentang madrasah adalah berbicara mengenai sekolah yang oleh masyarakat masih dipandang sebelah mata dan sering menjadi alternatif kedua dalam memilih sekolah. Madrasah masih dianggap sebagai left behind school (sekolah tertinggal) penampung siswa ‘buangan’ dari sekolah umum. Para lulusannyapun dianggap bermutu rendah.

Saat ini anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Di kota-kota besar seperti Malang, Yogyakarta, Solo, Jakarta dan yang lainnya, madrasah sudah menunjukkan jati dirinya dan mampu bersaing dengan sekolah umum. Bahkan sejak lahirnya Undang-undang Sisdiknas no. 2 tahun 1989 madrasah telah menyandang predikat baru sebagai sekolah umum bercirikan Islam yang maju dan setara dengan sekolah umum yang ada. Madrasah sebenarnya menjanjikan ‘pendidikan plus’ yaitu pendidikan umum sekaligus pendidikan khusus agama Islam.

Dalam situasi di mana terjadi degradasi nilai moral di negeri ini, madrasah berusaha memberikan solusi. Walaupun tidak semudah membalik telapak tangan, berbagai cara dilakukan madrasah untuk ikut menjaga moral generasi muda. Paling tidak di madrasah, pendidikan karakter tidak berhenti sebatas teori saja, namun diterapkan melalui pembiasaan-pembiasaan positif sehari-hari. Penanaman karakter secara nyata seperti keikutsertaan dalam aktifitas sosial kemasyarakatan, peduli lingkungan, mengikuti takziah dan shalat jenasah telah menjadi agenda rutin madrasah sejak lama. Harapannya, siswa dapat membentengi dirinya dengan karakter yang baik karena pendidikan karakter akan lebih mengena bila diterapkan langsung dalam kehidupan yang nyata.

Lickona (2012) dalam Education for Characters mengatakan bahwa ada sembilan hal yang menjadi indikasi penurunan nilai moral generasi muda. Kesembilan hal ini adalah kekerasan/anarki, pencurian, tindakan curang, pengabaian aturan, tawuran, ketidaktoleran, penggunaan bahasa yang tidak baik, pengetahuan sexual yang terlalu dini dan sikap merusak diri sendiri. Kesembilan hal ini harus mendapat perhatian yang serius agar generasi muda menjadi generasi pilihan di masa depan. Pekerjaan besar bagi seluruh institusi pendidikan, tak terkecuali madrasah untuk menuntaskan masalah tersebut.

Kemunduran moral generasi muda tidaklah tanpa sebab. Pada situasi ketika para generasi muda ini hanya mendapatkan sedikit pendidikan nilai dari orang tua atau orang-orang terdekatnya, mereka akan mencari kedamaian di luar lingkungannya. Menghadapi masalah tersebut, peranan sekolah atau madrasah sebagai tempat pendidikan formal menjadi sangat penting. Madrasah berperan sebagai lingkungan sosial kecil yang mampu mewakili lingkungan rumah yang baik bagi generasi penerus tersebut. Madrasah memilih pendekatan agama sebagai dasar pembentukan karakter. Untuk itu, madrasah mencoba memadupadankan nilai-nilai ilmiah dan agama Islam dalam mendidik generasi bangsa.

Peran guru sebagai penyampai ilmu, motivator sekaligus pemberi contoh nilai moral yang baik sangat menentukan keberhasilan generasi muda ini. Dalam berbagai kajian diungkapkan bahwa bila ingin menjadikan generasi muda sebagai generasi yang unggul, para guru harus mampu menjadi subyek perubahan. Mereka tidak hanya mengajar namun juga menginspirasi anak didik untuk mengubah diri mereka ke arah kebaikan. Setiap sekolah pasti telah menjalankan hal itu. Namun madrasah menawarkan pengelolaan pendidikan yang lebih dari sekolah umum.

Pertama, di madrasah, semua guru walaupun pengampu mata pelajaran umum adalah guru agama. Mereka harus menyelipkan nilai-nilai agama Islam dalam setiap pembelajarannya. Materi pembelajaran yang diberikan juga sebisa mungkin terkait dengan materi yang ada dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi. Jelas, madrasah sebenarnya adalah sekolah umum plus di mana semua aktifitas di sekolah yang dilakukan selalu bercirikan agama Islam.

Kedua, kurikulum memuat pelajaran agama Islam seperti; Fikih, Alqur’an Hadits, Akidah Ahlak dan Sejarah Kebangkitan Islam. Tidak hanya itu, kegiatan kegiatan ekstra kurikuler pembiasaan agama seperti hafalan dan tilawatil Al Qur’an juga menjadi prioritas utama.

Walaupun banyak madrasah tidak mempunyai asrama seperti pesantren, paling tidak madrasah mencoba menjawab keinginan masyarakat agar anak didik mendapatkan pendidikan agama lebih mendalam dibanding dengan sekolah umum. Oleh karena itu, tidak salah apabila masyarakat menjadikan madrasah sebagai pilihan pertama. Madrasah pasti lebih baik.*** Penulis adalah guru MTsN Yogyakarta 1, lulusan Curtin University of Technology, Western Australia.


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR