Jumat, 20 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Tamu

Kamis, 26 Oktober 2017
Oleh: H. Ahmad Yusuf

MRB - Dalam istilah bahasa Sunda, ada yang disebut ”tamu”, ada pula ”semah”. Untuk dua kata itu juga ada kepanjangannya dalam konteks ”kirata” (dikira-kira tapi ­nyata), yaitu ”tamu” artinya ”ditata ­jeung dijamu”, sedangkan semah ”ngahesekeun nu boga imah”.

Konon, kedatangan tamu jauh atau tamu yang langka berkunjung, sering ditandai dengan hadirnya seekor ­kupu-kupu yang tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah. Seorang tamu yang datang ke rumah, haruslah diterima dan diberi tempat yang merenah (enak dan nyaman), juga harus dijamu dengan sedikitnya minuman.

Masyarakat Sunda di perkampungan, sering kali mejamu tamu dengan someah darehdeh. Sering kali, tuan rumah dagdag-degdeg apabila kedatangan tamu dari kota. Buah-buahan di ­kebun, seperti pisang segera diala. Bahkan ayam yang hanya seekor pun di kandang dengan rela dipeuncit (disembelih) untuk dihidangkan.

Sebaliknya, orang desa yang berkunjung ke kota, malah sering dipandang sebelah mata. Seakan kedatangannya akan membuat susah. Mengurangi jatah makan di rumah. Padahal kedatangan seorang tamu merupakan anugerah. Namun, ciri kesundaan yang someah hade ka semah, masih melekat pada benak warga Kota Bandung. Sebagai buktinya, masyarakat selalu welcome pada pendatang. Bahkan lewat ­sejumlah pembicaraan dengan warga pendatang (tamu), paling nyaman untuk bertamu bahkan sampai menetap untuk melakukan usaha.

Dalam ruang lingkup kecil bertetangga dan berkerabat, ­seringkali orang tersinggung apabila tak diundang menjadi tamu ke dalam sebuah perhelatan perkawinan. Begitu pula sebaliknya, ketika seseorang yang diundang tak datang akan membuat ­murka sahibul bait (tuan rumah).

Dalam tataran sebagai warga negara, seseorang akan merasa tersanjung dan bahagia apabila diundang menjadi tamu negara untuk menyaksikan upacara bendera. Misalnya saja pada ­hari-hari ­kenegaraan seperti memperingati Proklamasi Kemerdekaan yang diadakan setiap tanggal 17 Agustus. Dengan demikian, segala per­siapan mulai dari baju dan sepatu baru, serta rencana keberangkatan disusun sedemikian rupa. Bahkan undangan itu akan diuar-uar pada kerabat dan tetangga.

Terlebih lagi seseorang yang diundang menjadi tamu Allah ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. Keharuan dan kegembiraan akan mewarnai dari mulai persiapan sampai pada puncaknya menjadi tamu Allah. Saat memasuki Masjidil Haram dan melihat Kabah, tak terasa air mata pun mengalir deras.

Sebagai tamu Allah, para jemaah disebut merupakan tamu ­pilihan. Tak semua orang berkesempatan menjadi tamu-Nya. Adanya harta benda yang dimiliki seseorang, sering kali terbuki belum menjamin hadirnya ”undangan” untuk mendapatkan kenikmatan menjadi tamu Allah.

Ribuan bahkan jutaan orang sedang menunggu menjadi tamu Allah. Sementara banyak pula orang bertamu ke Baitullah ­menjalani umrah. Kepergiannya untuk berumrah dengan ber­bagai niat dan tujuannya yang diinginkan.

Kembali pada soal kedatangan dan cara memperlakukan tamu, dalam bab adab-adab seorang Muslim dinyatakan bahwa tak boleh bertamu dalam jangka waktu lebih dari tiga hari. Meski demikian, tentu bagi tuan rumah, kedatangan tamu dalam keadaan apa pun kondisinya, haruslah diperlakukan dengan baik. Wajib ditata­ ­jeung dijamu.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR