Minggu, 9 Agustus 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah

Minggu, 29 Oktober 2017
Oleh: Nur Hasanah Rahmawati, S Ag, MM

MRB - Beberapa kali saya dan teman-teman alumni madrasah mengadakan reuni. Subhanallah, tak menyangka teman-teman yang dulu culun sekarang sudah menjadi dokter, direktur, dosen, perwira, konsultan, pejabat, duta besar, wirausahawan, kontraktor, bahkan ada yang memilih menjadi kyai di pesantren yang dirintisnya sendiri. Memang ada beberapa teman yang kurang “berhasil” dilihat dari sisi materi, namun penampilan mereka yang dianggap “kurang beruntung” itu pun tetap berwibawa dan bersahaja. Karena di luar “ketidakberhasilannya” dari sisi duniawi tersebut mereka tetap “pede” dengan kadar keimanan dan ketaqwaannya yang bisa dibilang “lebih” dari orang kebanyakan. Bekal keimanan dan ketaqwaan itulah yang membuat mereka tidak pernah merasa rendah diri.

Kesan pertama bertemu mereka adalah nuansa islami yang kental meskipun latar belakang mereka berbeda-beda. Cara berbicara, berperilaku, dan bergaul pun tampak tawadhu’, rendah hati, tidak ada kesan menyombongkan diri atau “sok” berhasil yang ditunjukkan dari golongan “The Have”. Tidak ada pula kesan “minder” dari teman-teman yang tergolong “The Middle and Lower”. Situasi akrab segera terjalin, sehingga meskipun saya “hanya” seorang guru, namun keberadaan saya tetap dihargai sama dengan mereka yang sudah S3 atau bos besar.

Kami memperbincangkan banyak hal, tentang keluarga, pekerjaan, dan tak ketinggalan mengenang kembali masa-masa indah di madrasah. Belajar Bahasa Arab, Al-Qur’an Hadist, Fiqih, Akidah Akhlaq dan SKI, mata pelajaran yang hanya didapatkan di Madrasah. Di samping kita harus belajar mata pelajaran lain yang sama dengan sekolah umum. Memang, saat itu kami merasa berat menjadi siswa di “Sekolah Plus Bercirikan Islam” yang bernama “Madrasah” tersebut. Namun kami semua tidak pernah menyesal dengan perjuangan berat kami. Hikmah dari perjuangan itu adalah kedewasaan kami dalam berpikir dan bertindak, juga bekal ajaran agama yang kuat dari madrasah telah menjadikan kami menjadi seperti sekarang ini.

Pembicaraan lalu mengarah pada topik yang sedang “hangat” akhir-akhir ini, yaitu perubahan kurikulum, dari kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013. Kurikulum 2013 adalah kurikulum terbaru yang hadir sebagai salah satu solusi mengatasi pengaruh buruk era globalisasi. Kurikulum tersebut mulai memberikan pencerahan pada pendidikan spiritual, di mana dalam silabus dan kompetensi dasar kurikulum tersebut ditulis adanya “KI (1)” yang menegaskan bahwa siswa harus menguasai kompetensi spiritual. Memang kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dimaksudkan bisa mewujudkan tujuan pendidikan yang telah tersurat jelas di dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (3) yang mengamanatkan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.

Diperjelas dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatakan bahwa: Tujuan Pendidikan Nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Komentar teman-teman serempak mengatakan “Itu mah sudah bukan hal baru buat kami siswa madrasah. Kompetensi spiritual kami telah terasah sejak lama sebelum adanya kurikulum 2013. Loh kok sekarang pemerintah baru “nyadar” kalau pendidikan spiritual itu sangat urgent diberikan kepada siswa sejak usia dini? Mengapa mereka mencanangkan kurikulum yang memuat kompetensi spiritual tersebut di saat situasi dekadensi moral bangsa sudah terpuruk?”

Sementara di madrasah hal tersebut bukan hal yang baru. Di samping siswa secara khusus mendapatkan mata pelajaran agama, guru-guru madrasah yang mengampu mata pelajaran umum pun sudah lebih baik pemahaman agamanya. Secara logika dapat disimpulkan bahwa madrasah akan lebih berhasil menerapkan kurikulum 2013, terutama dalam pencapaian Kompetensi Spiritual KI (1) dan Kompetensi Sosial KI (2). Dan secara tidak langsung madrasah akan lebih cepat berperan dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang menitikberatkan pada pembentukan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia. Singkat kata tempat yang tepat untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan UUD 45 dan UU Sisdiknas adalah madrasah.

Saya semakin bangga menjadi alumni madrasah. Dan saat ini merasa tersanjung menjadi guru madrasah. Akhir-akhir ini gaung ketenaran madrasah mulai menggema. Madrasah unggulan telah tersebar di seantero negeri. Kehebatan madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan tak diragukan lagi. Dalam berbagai kompetisi dengan sekolah umum, madrasah telah terbukti lebih unggul. Tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga bidang pengetahuan umum.

Melihat pesatnya kemajuan madrasah, sempat terbersit dalam pikiran saya bahwa suatu saat nanti madrasah akan menjadi pilihan nomer satu, bahkan pelajar-pelajar dari luar negeri, seperti Cina, Jepang, Thailand, bahkan Eropa akan berduyun-duyun ke Indonesia untuk mendapatkan pendidikan terbaik di madrasah. Hal itu bukan tak mungkin terjadi. Saya teringat sebuah artikel yang pernah saya baca tentang salah satu siswa madrasah di India, bernama Puja Kshetrapal yang berusia 15 tahun. Dia fasih menerjemahkan bahasa Arab ke dalam bahasa Bengali. Ternyata, dia bersama hampir setengah dari 200 siswa kelas kesepuluh di Madrasah Tinggi Chatuspalli, desa Orgram di Negara Bagian Bengal Barat, India, adalah beragama Hindu. Fakta telah membuktikan bahwa banyak pelajar non Muslim di sana yang berburu sekolah di madrasah karena mengejar kualitas pendidikannya. Apakah hal tersebut bisa terjadi di Indonesia? Tentu, atas ijin dan ridho Allah.

I love madarasah. Saya cinta madrasah. Kecintaan saya terhadap madrasah membangkitkan keyakinan saya bahwa ke depannya, madrasah, yang usianya jauh lebih muda dari sekolah umum, akan semakin berjaya, bahkan dalam waktu yang tak lama lagi akan bisa disejajarkan dengan sekolah umum. Saya optimis bahwa Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah.*** Penulis adalah Team Media Relation Kanwil Kemenag Provinsi DIY, pengajar Bahasa Inggris di MTsN Maguwoharjo Depok Sleman dan Instruktur Kurikulum 2013 Provinsi DIY.

 


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR