Minggu, 19 Agustus 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Mimbar
Lukman Hakim Saifuddin

Agama adalah Pembawa Kedamaian

Kamis, 2 November 2017
IST.
MENTERI Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin.*

MBR - Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan. “Tidak ada agama yang meminta umatnya untuk berkonflik. Justru, substansi agama adalah pembawa kedamaian,” katanya.

Pernyataan Menag disampaikan saat menghadiri acara Peluncuran dan Diskusi Buku “Ketika Agama Bawa Damai, Bukan Perang: Belajar dari ‘Imam dan Pastor”, Rabu (1/11/2017), di Auditorium HM. Rasjidi Gd. Kementerian Agama, Jalan MH. Thamrin, Jakarta. Acara pelucuran dan diskusi buku ini terselenggara atas kerjasama antara Kementerian Agama melalui Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB), Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina, dan Yayasan TIFA.

Hadir sebagai narasumber, Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sydney Jones, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta Ahmad Syafii Mufid, dan Direktur Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina Ihsan Ali Fauzi.

Menag sebagai pembicara kunci dalam diskusi tersebut mengatakan, buku “Ketika Agama Bawa Damai, Bukan Perang: Belajar dari ‘Imam dan Pastor” menceritakan tentang pengalaman Imam Ashafa (58 tahun) dan Pastor James ( 57 tahun) di Nigeria. “Ada lima hal yang bisa dipelajari dair buku ini,” katanya.

Pertama, adalah munculnya kesadaran bahwa agama membawa kedamaian. Inilah subtansi agama. Seluruh agama mengajarkan kedamaian. “Dari namanya saja sudah Islam, serumpun dengan kata salaam, yaitu damai. Ajaran utama Agama Kristen adalah menebar kasih” katanya.

Sementara dalam agama Hindu, lanjutnya, ada ajaran tentang dharma. Juga dalam agama lain. “Karenanya, konflik atau kekerasan adalah lawan dari semua agama. Kesadaran inilah yang membuat mereka berdua berdamai,” lanjutnya.

Masih menurut Menag, setelah kesadaran, maka ada keinginan untuk mengevaluasi diri. Lalu terus memperbaiki diri. Lalu tidak sampai di sini, kedua orang yang patut dicontoh ini juga membuat institusi atau lembaga.

“Lalu mereka membangun jaringan dengan berbagai pihak. Sehingga, yang terakhir, mereka dengan mudah dalam menkampanyekan hal ini. Hal ini adalah pengalaman dan pembelajaran yang sangat baik, yaitu untuk mengembalikan agama kepada substansinnya, yaitu damai,” tegasnya.* ati – MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR