Minggu, 19 Agustus 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Mimbar
Dr. Muhammad Saleh bin Taher al-Bantani

Menteri Arab Saudi Keturunan Banten

Rabu, 8 November 2017
IST.
MENTERI Haji dan Umrah Arab Saudi, Muhammad Saleh bin Taher al-Bantani, keturunan Banten, Indonesia.*

MBR – Pascaucapan terima kasihnya kepada negara Indonesia atas kerja samanya dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun 1439H/2017M, nama Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Muhammad Saleh bin Taher al-Bantani mendadak terkenal di Indonesia. Pasalnya, nama akhir sang menteri mirip dengan nama salah satu provinsi di Indonesia, yaitu Banten.

Tidak salah memang kalau banyak orang menduga salah satu menteri di negeri minyak tersebut ada kaitannya dengan Banten. Ya, meskipun lahir di Arab Saudi, namun Muhammad Saleh bin Taher al-Bantani mempunyai darah keturunan Indonesia, tepatnya Banten.

Dikutip dari arabnews.com, pria bergelar doktor ini merupakan pakar rekayasa komputer lulusan Teknik Komputer dari Universitas Colorado, Amerika Serikat. Sebelumnya, Saleh bersekolah dengan mengambil Teknik Elektro dari King Fahd University of Petroleum and Minerals.

Sebelum dipercaya menjadi Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi pada 9 Mei 2016, Ia dikenal pula sebagai peneliti dan menulis banyak jurnal ilmiah global dengan catatan 100 lebih penelitian ilmilah yang telah terpublikasi. Selain menjadi CEO Saudi Post, Mohammad Saleh menjabat sebagai Deputi Menteri Haji dan Dekan Fakultas Ilmu Komputer dan Teknik Universitas Raja Fahd.

Ketika Arab Saudi melakukan perombakan di kabinet dengan mengubah nama Kementerian Haji menjadi Kementerian Haji dan Umrah, nama Muhammad Saleh bin Taher al-Bantani terpilih untuk memimpin kementerian tersebut. Ia dianggap sosok yang pas untuk mendukuing kebijakan Arab Saudi melalui "Saudi Vision 2030" yang bertujuan mendatangkan investasi pengganti minyak sebagai sumber utama pendapatan negara melalui pelayanan ibadah haji.

Sebagai pakar rekayasa kompurter, ia diminta untuk menerapkan sistem e-Hajj secara penuh ke seluruh dunia pada tahun ini. E-hajj adalah sistem informasi haji dan umrah yang terintegrasi dengan sejumlah negara. Arab Saudi sebenarnya menghendaki teknologi itu sudah diaplikasikan ke semua negara pada 2015.

Indonesia pun dijadikan pilot project soal penggunaan e-hajj karena jamaahnya paling banyak di dunia. Itu sebabnya pemerintah Arab Saudi segera melakukan sosialisasi pemberlakukan e-hajj kepada otoritas penyelenggara haji Indonesia sekaligus pula mengintegrasikan sistem teknologi informasi dan komunikasi (ITC) di Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kementerian Agama.* ati – MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR