Senin, 19 Agustus 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Kabar

Konferensi Internasional Mushaf Al-Quran Indonesia Hasilkan Enam Rekomendasi

Minggu, 19 November 2017
IST.
PARA peserta Konferensi Internasional Mushaf Al-Quran Indonesia.*

MRB - Konferensi Internasional Mushaf Al-Quran Indonesia telah berakhir pada Rabu (16/11/2017) kemarin. Acara yang dilaksanakan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ) Kementerian Agama tersebut, berlangsung sejak 14 November di Bekasi, Jawa Barat dengan mengangkat tema “Mushaf Al-Quran Standar dalam Perspektif Ilmu Rasm, Dabt, dan Waqf wa Ibtida”.

Konferensi yang diikuti para pakar Al -Quran, dalam dan luar negeri tersebut melahirkan enam rekomendasi. Berikut ini enam butir rekomendasi Konferensi Internasional Mushaf Al-Quran Standar yang dibacakan salah seorang peserta, Badri Yunardi pada acara penutupan, Kamis (16/11). Pertama, salah satu bentuk upaya umat Islam dalam menjaga Al-Quran sejak diturunkan selain menghafalkan adalah menyalinnya dalam bentuk tulisan. Setiap penulisan Al-Quran hendaknya merujuk pada sistem penulisan (rasm) Al-Quran seperti yang telah dilakukan pada masa Usman bin ‘Affan yang kemudian banyak diriwayatkan oleh Imam Abu Amar ad-Dani dan Abu Dawud Sulaiman Ibn Najah. Setiap penulisan Al-Quran dengan rasm usmani dapat dibenarkan selama terdapat riwayat yang dijadikan rujukan.

Kedua, sejak awal perumusannya pada tahun 1974, Mushaf Standar disepakati oleh para ulama Indonesia ditulis dengan Rasm Usmani. Namun hingga ditetapkan, belum tersedia penjelasan secara ilmiah dan komprehensif terkait riwayat rasm yang digunakan. Berdasarkan hasil kajian tim Lajnah pada tahun 2017 ini disimpulkan bahwa Rasm Usmani Mushaf Standar lebih mempunyai kesesuaian dengan riwayat Imam Ad-Dani, salah satu riwayat yang masih dipakai dalam penulisan Al-Quran di dunia Islam dengan tingkat kesesuaiannya mencapai 91%. Atas dasar itu, upaya penyempurnaan lebih memungkinkan jika diarahkan kepada riwayat ad-Dani, meskipun membuat edisi mushaf dengan mengacu riwayat Abu Dawud tetap dapat dimungkinkan sebagai bentuk upaya melestarikan seluruh riwayat Rasm Usmani yang pernah ada.

Ketiga, dalam melakukan penyempurnaan, perlu ada kerangka acuan atau panduan yang dapat dijadikan pedoman, yaitu sebagaimana beberapa hal berikut: (a). Mendahulukan riwayat yang disepakati (muttafaq ‘alaih); (b) Jika terjadi pendapat (mutkhtalaf fihi), maka dipilih riwayat ad-Dani; dan (c) Jika tidak ditemukan pada riwayat ad-Dani, maka dicarikan sandarannya dari sumber lainnya.

Keempat, penyempurnaan dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh Lajnah dengan melibatkan para pakar yang terkait dan dilakukan dengan perencanaan yang matang dan target yang jelas. Hasil penyempurnaan dibahas pada forum berikutnya dengan menghadirkan representasi dari pondok pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga terkait.

Kelima, penyempurnaan yang harus dilakukan dalam rangka penguatan landasan ilmiah Mushaf Standar tidak berhenti pada aspek rasm saja, namun juga pada aspek dabt dan waqf wa ibtida’. Penyempurnaan pada aspek rasm tetap harus menjadi prioritas.

Keenam, setiap upaya penyempurnaan Mushaf Standar selain mempertimbangkan aspek ilmiahnya, juga perlu memperhatikan aspek kemudahan, kearifan lokal, dan implikasi bagi seluruh stakeholder yang terkait.* ati – MasjidRaya.com


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR