Minggu, 22 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Inspirasi
Inspirasi

Janganlah Menjadi Gelas

Minggu, 18 Februari 2018

MRB- Seorang guru menghampiri muridnya ketika jam pelajaran selesai. Ada salah seorang murid yang belakangan ini wajahnya selalu murung.

"Mengapa Kau selalu murung, Nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" Sang guru bertanya.

"Pak, belakangan ini hidupku penuh dengan masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habisnya...," jawabnya.

Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari biar ku perbaiki suasana hatimu."

Si Murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan dua genggam garam di tangannya.

"Coba ambil segenggam garam dan masukan ke segelas air itu," kata Sang Guru. 

"Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."

Si Murid pun melakukannya. Wajahnya pun kini meringis, karena meminum air asin. 

"Bagai mana rasanya?" Tanya Sang Guru.

"Asin, dan perutku jadi mual," jawab Si Murid dengan wajah yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.

"Sekarang Kau ikut aku," Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka.

"Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."

Si Murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin dimulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru, begitu pikirnya.
"Sekarang kamu coba minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau. Si Murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya,

"Bagaimana rasanya?" 

"Segar, segar sekali…," kata Si Murid sambil mengelap mulutnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Sudah pasti air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.

"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"

"Tidak sama sekali," kata Si Murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.

Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.

"Nak…," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang kamu alami sepanjang kehidupanmu itu, sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu.

Jumlah tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan. "Tapi Nak, 'rasa asin' dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya 'qalbu' (hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah menjadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."

Kesimpulannya: Janganlah berpikiran sempit, karena kita punya dua mata, juga otak untuk berpandangan luas. Pandanglah ke depan seluas-luasnya, maka masalah yang kita hadapi akan terasa lebih mudah, walaupun butuh pengorbanan.

Sekali lagi…, janganlah menjadi gelas…!* inmotivasi

 


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR