Jumat, 20 September 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Tausyiah

Beramallah

Jumat, 6 April 2018
Oleh: KH Rachmat Syafe'i

MRB - Sekarang ini banyak sekali persoalan yang dihadapi umat Islam. Diantaranya banyak berita yang mengganggu kenyamanan kaum muslimin, berupa berita-berita bohong dan keji. Allah berpesan dalam al-Qur’an: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.”(Q.S. an-Nuur:19)

Kita harus menjaga diri dalam menggunakan fasilitas teknologi penyebar berita dan bagaimana menyikapi berita yang tersebar. Sekarang ini kita memasuki zaman fasik, sehingga berita yang menyebar belum tentu kebanarannya. Kita wajib menyeleksi berita-berita itu, sebab kalu tidak, akan terjadi malapetaka. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”(Q.S. al-Hujurat:6)

Dalam keadaan seperti sekarang ini, alangkah baiknya umat Islam lebih giat lagi beramal shaleh dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah berpesan: “Wahai manusia bertaubatlah kepada Allah sebelum kalian meninggal dunia, dan bersegeralah melaksanakan amal shaleh sebelum kalian dalam kesulitan, dan hubungkanlah antara kamu dengan rab(Tuhan)-mu dengan cara banyak dzikir dan banyak bershadaqah baik dalam keadaan terang-terangan ataupun tersembunyi, maka kalian akan mendapatkan rezeki dan pertolongan serta dicukupkan kebutuhannya oleh Allah.” Dengan melakukan hal itu semua, maka kita akan memperoleh kelapangan dalam segala urusan yang kita hadapi, baik persoalan pribadi, masyarakat hingga urusan Negara.

Sekarang ini banyak orang yang mengukur kehidupannya dengan materi, sehingga kadang lupa bersyukur. Suatu ketika Tholhah dan Usamah datang kepada Rasulullah. Tholhah minta dido’akan supaya mendapat rezeki dan keturunan yang shaleh. Rasulullah pun mendo’akannya. Tetapi giliran Usamah meminta kepada Rasulullah agar dido’akan sebagaimana Tholhah, tetapi malah Rasulullah menasehatinya: “Sedikit tetapi mampu bersyukur lebih baik daripada banyak tetapi tidak mampu bersyukur”. Hal ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa meningkatkan sikap syukur, sehingga karunia Allah terus bertambah.

Setiap orang berkeinginan mendapatkan rezeki, termasuk memperoleh keturunan. Hal itu memang manusiawi. Allah menerangkan: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”(Q.S. al-Kahfi:46) Jelaslah di sini, harta dan keturunan tidak memiliki nilai apa-apa apabila tidak dibarengi dengan amal shaleh.

Kalau tidak dibarengi amal shaleh, keluarga yang dipandang sebagai kekayaan yang sangat berharga itu tentu akan berubah menjadi musuh. Allah menegaskan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka… (Q.S. at-Thaghabun:14)

Oleh sebab itu, semoga kita bisa menjalani kehidupan ini dengan penuh amal shaleh dan akhlak mulia.*** Prof. Dr. KH. Rachmat Syafe'i, Lc., MA. adalah Ketua Umum MUI Jawa Barat dan Imam Besar Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat.


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR