Minggu, 19 Agustus 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Gua Hira

Tempat "Pelantikan" Muhammad Menjadi Rasul

Jumat, 6 April 2018
IST.
GUA Hira digunakan oleh Nabi Muhammad SAW untuk bertahannus (bertafakur) dan beribadah sebelum jadi nabi dan menerima wahyu yang pertama dari Allah SWT sekaligus dinobatkan sebagai rasul.*

MRB - Gua Hira merupakan celah sempit di Gunung Hira, terletak di sebelah timur laut kota Mekah, di pinggir jalan menuju Ji’ranah. Celah sempit di puncak gunung ini digunakan oleh Nabi Muhammad SAW untuk bertahannus (bertafakur) dan beribadah sebelum jadi nabi dan menerima wahyu yang pertama dari Allah SWT sekaligus dinobatkan sebagai rasul.

Gunung Hira berupa batu terjal yang kering dan hampir tidak ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan kecuali lumut-lumut halus. Untuk mencapai puncak Hira, diperlukan waktu sekitar satu jam berjalan kaki dari kaki bukit melalui jalan setapak. Kira-kira 10 meter menjelang puncak terdapat sebuah gua yang dikenal dengan nama gunung itu sendiri.

Gua ini sempit dan hanya bisa menampung empat orang duduk atau tidak lebih seorang berbaring tidak sempurna. Tingginya sekitar dua meter. Di sekitarnya terdapat batu-batu besar berwarna hitam kemerah-merahan yang menutupinya. Karena cahaya terhalang masuk oleh batu-batu itu, maka di dalamnya selalu gelap. Kondisi gua dan sekitarnya yang demikian menimbulkan rasa takut bagi orang yang menyaksikannya. Karena itu jarang ada orang yang bisa bertahan lama di dalamnya kecuali orang yang betul-betul berani, apalagi pada waktu malam hari.

Sejak Gua Hira mulai dikenal lima belas abad yang lalu, sampai sekarang keadaannya masih belum banyak berubah. Gua Hira tidak dibangun dan dikembangkan. Saat ini, di samping gua itu terdapat tulisan ‘Ghor Khira’ berwarna merah yang berarti Gua Hira. Di atas tulisan itu juga dituliskan dua ayat awal surat Al Alaq dengan cat warna hijau. Gua Hira terletak persis di samping tulisan itu.

Ketika menginjak usia 40 tahun, Muhammad lebih banyak melakukan tahannus daripada waktu-waktu sebelumnya. Pada bulan Ramadhan dibawanya perbekalan lebih banyak dari biasanya, karena akan bertahannus lebih lama dari waktu-waktu sebelumnya.

Pada malam 17 Ramadhan, bertepatan dengan 6 Agustus 610 Masehi, pada waktu Muhammad sedang ber-tahannus, datanglah Malaikat Jibril AS menyuruhnya membaca , katanya, “Bacalah!” Dengan terkejut dan ketakutan Muhammad menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Ia dirangkul oleh Malaikat Jibril AS sehingga napasnya sesak, lalu dilepaskannya lagi sambil disuruhnya membaca sekali lagi, “Bacalah!” Akan tetapi, Muhammad masih tetap menjawab, “Saya tidak bias membaca.”

Begitulah berulang sampai tiga kali, dan akhirnya Muhammad berkata, “Apa yang saya baca?” Maka Jibril AS membacakan awal surah al-Alaq (QS-96:1-5). Inilah wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan ini pula saat pengangkatannya menjadi Rasulullah terakhir untuk seluruh alam.

Sejak itu Gunung Hira terkenal dengan sebutan Jabal al-Nur (Gunung Cahaya) karena wahyu yang turun itu laksana cahaya yang menguak gulita: gulita jahiliyah.* abu ainun - MasjidRaya.com


KATA KUNCI:
muhammad

BAGIKAN
BERI KOMENTAR