Senin, 23 April 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Tausyiah

Tentang Rezeki

Selasa, 10 April 2018
Oleh: Dr. KH. Badruzzaman M. Yunus, MA

MRB - Di antara banyak masalah yang dikhawatirkan orang adalah masalah rezeki. Mereka khawatir tidak makan atau tidak mendapatkan rezeki. Allah telah mengingatkan dalam satu hadits qudsi: “Wahai anak Adam, janganlah khawatir kehabisan rezeki selama gudang-gudang-Ku penuh, tidak habis-habis.” Gudang Allah adalah alam semesta ini. Artinya, selama alam semesta ini ada, rezeki tidak akan pernah habis.

Selanjutnya Allah menegaskan, “Aku ciptakan segala sesuatu untukmu.” Pada hakikatnya, seluruh makhluk Allah itu diciptakan untuk manusia. Bahkan malaikat pun diciptakan untuk melayani manusia. Allah memberikan rezeki kepada manusia berakal melalui usaha. Dalam posisi ini, usaha bukanlah segala-galanya. Ia hanya sebab untuk menghasilkan rezeki. Kadang-kadang manusia berusaha sekuat tenaga, tetapi tidak berhasil. Ada juga orang yang tidak berusaha, tetapi rezekinya yang datang sendiri.

Bagi makhluk Allah yang tidak berakal, rezeki bisa datang sendiri. Misalnya orang gila, rezekinya langsung diberikan Allah melalui orang yang terketuk hatinya. Tidak ada orang gila yang berdagang atau berusaha. Pekerjaannya hanya diam atau jalan-jalan. Demikian juga hewan dan binatang tidak berakal lainnya, Allah telah menyediakan rezekinya.

Begitu juga orang yang telah berupaya sekuat tenaga dan semaksimal mungkin, tetapi ternyata menemui jalan buntu. Pada posisi ini Allah akan memberikan rezeki dari jalan lain. Misalnya dari orang yang terketuk hatinya. Sebagai contoh, Siti Hajar ketika hijrah dari Palestina ke suatu tempat yang sangat gersang, yang sekarang dikenal sebagai Makkah. Beliau mengalami kesulitan, karena kehabisan perbekalan. Padahal anaknya yang bernama Ismail, terus-menerus menangis kehausan. Siti Hajar berusaha semaksimal mungkin mencari makanan dan minuman, naik dan turun bukit, sampai-sampai Bukit Safa dan Marwah didakinya berkali-kali. Tetapi usaha Beliau buntu. Akhirnya pertolongan Allah datang dengan memancarnya air zam-zam yang keluar tidak jauh dari tempat Ismail berada. Di sini kita harus berkeyakinan penuh bahwa Allah yang menciptakan, menghidupkan, memberi rezeki, dan memanggil kita ke sisi-Nya.

Dalam hadits qudsi itu dilanjutkan, “Taatlah engkau pada-Ku, maka segala sesuatu akan tunduk padamu.” Jelaslah di sini kalau kita ingin tenang dan bahagia di dunia ini, kuncinya taatlah kepada Allah. Ketaatan kita tidak dibatasi waktu dan tempat, tetapi kapan dan di mana saja kita berada harus tetap taat kepada Allah.

Ketika kita taat kepada Allah, maka Allah menyediakan pahala. Allah menaburkan pahala di setiap tempat dan aspek kehidupan. Pandai-pandailah mengambil pahala. Pada hakikatnya, kita berkumpul melaksanakan ibadah shalat, berarti sedang mengambil pahala. Ketika berada di kantor, kita mengambil pahala yang telah disediakan Allah di kantor. Ketika berbuat baik di jalan raya, maka hakikatnya kita sedang mengambil pahala yang disebar Allah di jalanan. Itulah Allah memberikan pahala kepada umat.

Dalam hadits qudsi Allah melanjutkan, “Kalau kalian ridla dengan bagian yang telah Aku berikan, maka Aku akan menentramkan hatimu.” Mengapa kita harus ridla dengan bagian yang telah dibagikan Allah? Karena masing-masing kita ada bagian yang telah Allah tetapkan. Apa yang telah terjadi, itu semua telah termaktub di lauhil mahfudz.

Itulah yang terbaik bagi kita dalam pandangan Allah SWT. Apa yang telah kita terima merupakan sesuatu yang terbaik, meskipun menurut kita tidak baik. Karena pandangan kita itu relatif. Kadang-kadang yang menurut kita jelek, menurut Allah itu baik. Hal yang menurut kita baik, menurut Allah jelek. Menurut kita baik, mungkin menurut Allah juga baik. Sesuatu yang menurut kita jelek, bisa jadi menurut Allah juga jelek. Tetapi yang sudah terjadi pada kita, semuanya adalah terbaik dalam pandangan Allah SWT.

Kalau kita tidak ridla pada apa yang telah diberikan Allah, maka dalam ujung hadits qudsi itu ditegaskan, “Demi keperkasaan-Ku dan kemulian-Ku, kau akan dikuasai dunia.” Ketika kita dikuasai dunia, sekecil apa pun dunia itu, pasti akan merepotan kita. Tetapi ketika kita menguasai dunia, sebesar apa pun dunia itu, kita tidak akan pernah susah.

Oleh sebab itu, kita harus ridla pada apa yang telah dberikan Allah, dan selalu berupaya semaksimal mungkin pada apa-apa yang belum diberikan Allah.***


BAGIKAN
BERI KOMENTAR