Rabu, 18 Juli 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Muhasabah

"Lalu, di Mana Allah?"

Sabtu, 14 April 2018
Oleh: HD Sutarjan

MRB - Alkisah, ketika Khalifah Umar bin Khathab melakukan perjalanan dari Madinah ke Mekah. Di tengah jalan Khalifah Umar berjumpa dengan seorang anak gembala yang tampak sibuk mengurus kambing-kambingnya. Seketika itu muncul keinginan Khalifah Umar untuk menguji kejujuran si gembala.

Kata Khalifah Umar, “Wahai gembala, juallah kepadaku seekor kambingmu.”

“Aku hanya seorang budak, tidak berhak menjualnya,” jawab si gembala.

“Katakan saja nanti kepada tuanmu, satu ekor kambingmu dimakan serigala,” lanjut Khalifah Umar. Kemudian si gembala menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Lalu, di mana Allah?”

Khalifah Umar tertegun karena jawaban itu. Sambil meneteskan air mata ia pun berkata, “Kalimat ‘di mana Allah’ itu telah memerdekakan kamu di dunia ini, semoga dengan kalimat ini pula akan memerdekakan kamu di akhirat kelak.”

Kisah di atas merupakan gambaran pribadi yang jujur, menjalankan kewajiban dengan disiplin yang kuat, tidak akan melakukan kebohongan walau diiming-imingi dengan keuntungan materi.

Kita pernah, bahkan mungkin sering membaca atau mendengar kisah tersebut. Tetapi, sejauh mana kita mencontoh dan mengimplementasikannya dalam hidup berkeluarga, bertetangga, bekerja di kantor, atau keseharian kita dalam bermasyarakat.

Dalam kehidupan kita sekarang ini, bahkan lebih banyak godaan yang melemahkan iman. Lebih banyak tantangan untuk menyampaikan yang benar. Lebih banyak tuntutan dan rayuan untuk memenuhi materi dalam hedonisme kehidupan yang serba ada. Jika kita tidak hati-hati dalam menghadapi semuanya itu, akan mejauhkan kita dari nilai-nilai taqwa. Padahal, kalau perilaku seseorang jauh dari nilai-nilai taqwa tentu keberkahan yang diberikan Allah akan jauh pula.

Untuk mencapai kualitas kepribadian seorang hamba seperti kisah di atas, adalah dengan khusyu’ melakukan ibadah puasa. Jika ibadah puasa itu betul-betul diamalkan hanya untuk memperoleh ridho Allah, dan dilaksanakan sesuai tuntunan sunnah nabi, Allah menjamin seorang hamba itu akan mendapat derajat taqwa.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR