Rabu, 20 Juni 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Tausyiah

Luasnya Ampunan Allah

Senin, 28 Mei 2018
Oleh: KH. A. Thonthowi Musaddad, MA

MRB - Ketika bulan Ramadlan, salah satu do’a yang paling banyak dipanjatkan kaum muslimin adalah “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii, ya Allah Engkaulah Maha Pema’af, senang memberikan ma’af, maka ma’afkanlah aku”. Lepas dari bulan Ramadlan, tidak serta merta lepas pula dari keutamaan ibadah dan luasnya ampunan Allah. Tetapi keutamaan dan ampunan Allah berjalan sepanjang hayat.

Allah akan memberikan nilai kepada setiap orang yang berbuat baik tanpa terbatas waktu. Bahkan kebaikan itu masih dalam angan-angan sekalipun. Apabila ada orang berniat melakukan kebaikan, maka Allah sudah menghitungnya sebagai satu poin kebaikan. Sedangkan apabila ia berniat melakukan kejahatan, maka niat tersebut tidak dihitung sebagai poin dosa.

Kemudian apabila orang yang berniat kebaikan itu dibuktikan dalam bentuk amal nyata, maka Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda sesuai jenis amal yang dilakukannya, mulai dari nilai sepuluh hingga tanpa batas. Misalnya shalat berjama’ah dilipatgandakan poinnya menjadi 27, shadaqah di jalan Allah dilipatgandakan menjadi 700, ibadah di Masjid Nabawi Madinah bernilai 1000 poin, ibadah di Masjidil haram bernilai 100.000 poin, hingga poin tanpa batas bagi hamba-hamba Allah yang sabar. Sedangkan apabila orang yang berniat jahat itu ia melakukan kejahatan dalam bentuk nyata, maka Allah menjadikan baginya satu poin dosa saja. Tidak dilipatgandakan. Ini berlaku kapan saja, tidak hanya pada bulan Ramadlan.

Ayat-ayat al-Qur’an yang menjelaskan tentang berlipat gandanya pahala itu sangat banyak, diantaranya Firman Allah: “Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)”.(Q.S. al-An’am:160)

Demikian juga betapa besarnya pahala infaq di jalan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”(Q.S. al-Baqarah:261).

Bahkan Allah memberikan pahala yang tanpa batas bagi orang-orang sabar. Firman Allah: “…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”(Q.S. az-Zumar:10)

Di saat pahala dilipatgandakan dan kejelekan hanya dinilai satu poin, ternyata ampunan dosa diberikan Allah setiap saat hingga waktu berkala. Ampunan Allah yang diberikan setiap waktu, misalnya Allah akan memberikan ampunan kepada orang yang melakukan ibadah shalat sunnah, berdzikir, membaca al-Qur’an, bershalawat, berbakti kepada kedua orang tua, saling melayani antara suami-isteri, bersilaturahim dan lain-lain. Kegiatan seperti ini kita lakukan setiap saat, sehingga ampunan Allah senantiasa turun kepada kita tanpa henti.

Demikian juga kita akan menemukan ampunan Allah dalam skala harian, misalnya ketika kita melaksanakan shalat lima waktu, mencari nafkah, shalat tahajjud, shalat dhuha dan lain-lain. Kegiatan ini mesti istiqamah kita lakukan setiap hari, sehingga menambah kesucian diri kita dari berbagai macam dosa.

Ada juga sistem ampunan Allah dalam skala mingguan misalnya ketika kita melakukan shalat Jum’at, puasa sunnah hari Senin – Kamis, dan lain-lain. Apabila ibadah skala mingguan ini kita lakukan dengan baik, maka kita akan terjaga dari dosa.

Lebih jauh lagi, kita juga memiliki sistem penghapus dosa dalam skala tahunan, misalnya ketika bulan Ramadlan, waktu mengeluarkan zakat mal, zakat fitrah, shalat idul fitri, idul Adha, puasa Arafah, puasa Asyura, dan lain-lain.

Bahkan di ujung hayat ketika sudah wafat, kita masih diberikan ampunan dosa melalui shalat jenazah yang dilakukan orang lain. Dalam shalat itu kita dimintakan ampun agar diampuni dosa dan dikasihi Allah.

Demikian sangat luasnya keutamaan dan ampunan Allah ini, maka selamanya kita harus tetap melakukan kebaikan.*** KH. A. Thonthowi Musaddad, MA adalah pimpinan Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah Kabupaten Garut


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR