Rabu, 23 Oktober 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Menghapus "Keakuan"

Selasa, 31 Juli 2018
Oleh: HD Sutarjan

MRB - Makna terbesar yang terkandung dalam pelaksanaan ibadah haji adalah tentang persatuan dan kesatuan umat. Ajaran ini tercermin sejak orang yang melaksanakan ibadah haji memasuki miqat. Di sini mereka harus berganti pakaian karena pakaian melambangkan pola, status dan perbedaan-perbedaan tertentu. Pakaian menciptakan “batas” palsu yang tidak jarang menyebabkan perpecahan di antara manusia. Selanjutnya dari perpecahan itu timbul konsep “aku”, bukan “kami atau kita”, sebagaimana yang mengakibatkan munculnya sikap individualisme.

Penonjolan “keakuan” adalah perilaku orang musyrik yang dilarang oleh Allah SWT: “Janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah agama mereka dan mereka menjadi beberapa partai. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar-Ruum 31-32).

Mulai dari miqat jamaah mengenakan pakaian yang sama yaitu kain kapan pembungkus mayat yang terdiri dari dua helai kain putih yang sederhana. Semua memakai pakaian seperti ini. Tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang miskin, yang cukup makan dan yang kurang makan, yang dimuliakan dan yang dihinakan, yang bahagia dan yang sengsara, yang terhormat dan orang kebanyakan, yang berasal dari Barat dan yang berasal dari Timur.

Mereka memakai pakaian yang sama, berangkat pada waktu dan tempat yang sama dan akan bertemu pada waktu dan tempat yang sama pula. Mereka beraktivitas yang sama dan menggunakan kalimat yang sama: “Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kekuatan hanyalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu”.

Manusia yang tadinya terpecah-pecah dalam berbagai ras, kelompok, suku dan keluarga dengan ibadah haji dihimpun oleh Allah SWT dengan berbagai faktor kesamaan agar mereka menjadi satu. Hal ini mengisyaratkan bahwa segala problematika umat Islam akan dapat terselesaikan secara mendasar apabila mereka bersatu dan bersama-sama dalam bersikap dan berbuat.

Rasulullah SAW menjawab Hudzaifah bin Yaman, ketika menanyakan bagaimana cara menyelesaikan problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Beliau bersabda: “Hendaknya engkau tetap dalam Jamaah Muslimin dan Imam mereka” (HR. Bukhari). Jamaah merupakan wujud kebersamaan dan Imamah merupakan wujud kesatuan.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR