Rabu, 17 Oktober 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Spirit Ihram

Sabtu, 4 Agustus 2018
Oleh: HD Sutarjan

MRB - Berhaji memiliki nilai yang besar jika kita mampu memaknainya. Salah satu caranya adalah mengungkap makna di balik syarat dan rukunnya. Makna sosial ibadah haji dapat diambil dari serangkaian kegiatan yang dilakukan selama ibadah haji berlangsung.

Mari kita maknai salah satu dari rangkaian ritual ibadah haji. Semisal, dalam konteks niat yang mengharuskan mengenakan pakaian ihram. Ternyata haji memiliki makna yang lebih universal dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Di Miqat Makany di tempat ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan setiap orang, setiap kaum, setiap bangsa, harus ditanggalkan. “Pakaian biasa” ditanggalkan dan “pakaian ihram” dikenakan –demikian ungkapan filosopis seorang Quraish Shihab.

Ihram, mengandung makna melepaskan dan membebaskan diri dari lambang material dan ikatan kemanusiaan. Dengan berpakaian ihram maka manusia mampu melihat manusia sebagai manusia karena semua manusia melepas bungkusan pakaian manusianya yang sering menjadi simbol kepalsuan dan kebohongan. Ihram juga bermakna mengosongkan diri dari mentalitas keduniawiaan, membersihkan diri dari nafsu serakah, kesombongan serta kesewenang-wenangan.

Pakaian ihram menyimbolkan egalitarianisme bahwa manusia tidak dipandang dari pangkat dan kedudukannya, melainkan kadar takwanya (Q.S:49: 13). Manusia dituntut untuk senantiasa bersikap wajar dan tidak berlebihan dalam hidup ini. Dengan pakaian jauh dari model pakaian modern, menggunakan pakaian yang sederhana, tanpa membedakan status sosial, mengindikasikan bahwa dalam hidup ini kita jangan terjebak dalam egoisme kehidupan.

Semangat ihram melalui sikap hidup kita di antaranya melepaskan atribut-atribut kekayaan dan jauh dari kesan keangkuhan diri, dapat merasakan betapa indah hidup ini dengan persaudaraan. Saling bantu-membantu antarsesama menciptakan equilibrium (keseimbangan hidup).

Maka, jika sekembalinya dari Tanah Suci, masih ada keangkuhan dalam diri, masih adanya pandangan perbedaan derajat kemanusiaan, masih menindas orang lain, sesungguhnya kita belum bisa menanggalkan “pakaian biasa”, belum berihram yang notabene belum “berhaji”.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR