Jumat, 22 November 2019 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Muhasabah

Bersyukur Sepanjang Hayat

Selasa, 14 Agustus 2018
Oleh: H. Muhammad Yahya Ajlani

MRB - Kerap kali kita membatasi syukur dengan karunia besar, yang dengan karunia itu digelar acara syukuran. Padahal begitu banyaknya karunia Allah yang kita terima setiap saat dan tidak pernah putus. Sesusah apapun hidup kita, pasti di dalamnya masih memiliki kenikmatan. Maka, karena nikmat itu tidak pernah putus, bersyukur pun harus dilakukan sepanjang hayat tanpa terbatas waktu.

Kita bisa memperhatikan, bagaimana Rasulullah mengajarkan do’a bangun tidur. Jika dipahami pemaknaannya secara sungguh-sungguh, dapat membangkitkan rasa syukur yang luar biasa. Sebagaimana dijelaskan dalam al Qur'an bahwa tidur adalah kematian (39:42). Karena itu do'a yang dipanjatkan saat bangun tidur adalah: “alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menghidupkan kita setelah kematian". Sebenarnya, dzikir bangun tidur tidak hanya sekadar menanamkan rasa syukur yang luar biasa atas nikmat kehidupan kembali, tapi juga yang lebih penting adalah semangat juang dan spirit baru untuk menjalani kehidupan selanjutnya dengan penuh apresiasi terhadap apapun yang menghubungkan kepada Allah baik ibadah mahdloh (langsung) maupun muamalah.

Rasa syukur atas kehidupan baru dan spirit baru yang melahirkan apresiasi terhadap ibadah mahdloh menyebabkan seseorang tidak akan pernah lelah beribadah. Bahkan, melaksanakan ibadah tidak lagi menjadi beban, tapi malah menjadi kesenangan. Seperti halnya Rasulullah SAW dalam sabdanya: "telah dijadikan kesenanganku dalam shalat". Demikian pula apresiasi dalam hal muamalah, seseorang yang bersyukur tidak akan pernah merasa lelah melakukan pengabdian dalam bentuk ibadah sosial.

Orang yang senantiasa bersyukur, akan terpelihara kenikmatannya. Karunia Allah akan tetap stabil berada pada pribadi-pribadi bersyukur. Maka seorang muslim mestinya berusaha semaksimal mungkin untuk memelihara dan menjaga dirinya dengan menjauhi hal-hal yang dapat membuat anugerah tersebut dihentikan, karena dipandang tidak dapat menggunakan anugerah-anugerah-Nya di jalan yang diridlai-Nya. Allah berfirman: “Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(Q.S. al-Anfal:53) Dosa, kemaksiatan dan kekufuran lainnya dapat merubah kenikmatan kenjadi kesengsaraan hidup.

Tidak hanya stabil, orang yang senantiasa bersyukur, nikmatnya akan senantiasa bertambah. Karunia Allah akan senantiasa tercurah mengalir kepadanya tanpa henti. Allah menegaskan: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih".(Q.S. Ibrahim:7).

Lebih tinggi dari itu, orang-orang bersyukur hidupnya berada dalam ridla Allah. Al-Qur’an menerangkan: “… dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridlai bagimu;…”(Q.S. Az-Zumar:7) Mungkin saja orang yang kufur masih memiliki harta, jabatan dan segala sesuatu yang dipandang nikmat baginya, tetapi semuanya belum tentu merupakan ridla Allah. Boleh jadi merupakan istidraj, yang tentu akan membawa kesengsaraan dunia akhirat. Sedangkan bagi orang yang bersyukur, sekecil apapun kenikmatan yang diterima itu merupakan rahmat.

Oleh sebab itu, rasa syukur harus ditamankan dalam jiwa setiap pribadi muslim, sehingga kehidupannya senantiasa terus meningkat dan ada dalam ridla Allah SWT.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR