Kamis, 15 November 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Telaah

Pererat Persatuan Umat

Kamis, 25 Oktober 2018
Oleh: Abu Ainun

MRB - Islam lahir di muka bumi ini, sebenarnya membawa pesan yang sangat indah yaitu kesejahteraan lahir dan batin, hidup dalam kebahagiaan dan kedamaian serta menjauhi pertentangan apalagi pertengkaran yang menjurus kepada peperangan. Sudah menjadi fitrah manusia, kehidupan di dunia dan akhirat nanti ingin dilalui dengan penuh keindahan.

Namun harapan tersebut ternyata kenyataannya jauh bertolak belakang, sesama muslim saja kerapkali timbul persengkataan dan pertengkaran. Perbedaan pendapat seringkali berujung permusuhan. Masalah kecil saja menjadi ramai dan dibesar-besarkan. Padahal Islam tidak mengajarkan untuk saling bermusuhan hanya karena berbeda pendapat.

Perbedaan pendapat memang sudah menjadi bagian kehidupan manusia, Namun justru dalam perbedaan itu, terdapat hikmah yang tidak ternilai harganya. Boleh-boleh saja, misalnya, berbeda pendapat tentang masalah usholi atau qunut di waktu subuh, tetapi tetap tidak perlu sampai bertengkar atau bermusuhan. Biasanya yang meributkan atau mempertengkarkan adalah masyarakat yang pengetahuan agama Islamnya masih dangkal.

Masalah perbedaan pendapat antar sesama umat Islam, sebenarnya telah berlangsung lama. Namun bagi para ulama yang fasih dan menguasai ajaran Islam, perbedaan semacam itu tidak pernah diperbesar, apalagi saling mengklaim dengan sebutan bid'ah. Biasanya yang meributkan masalah tersebut, memiliki pengetahuan Islam yang belum sempurna, atau boleh jadi ia baru belajar Islam lewat perbincangan atau bacaan buku. Itu karenanya, belajar ilmu-ilmu Islam haruslah integral terpadu dan banyak diskusi dengan pakar yang menguasai keislaman. Tidak cukup sebatas membaca tekstual yang tercantum dalam buku.

Islam dengan Al-Qur'an dan hadits sebagai "way of life" telah sempurna sebagai aspek hukum norma etika tentang kehidupan. Namun justru perbedaan timbul, sebagai akibat dari interprestasi terhadap ayat Al Qur'an dan hadits. Tetapi perbedaan itu pun dibenarkan, sepanjang perbedaan itu tidak menyangkut masalah prinsip.

Di sinilah dalam Islam dikenal istilah ijtihad; yaitu melakukan kajian yang mendalam terhadap suatu masalah yang tidak tercantum dalam Al Qur'an dan hadits. Namun untuk melakukan ijtihad sendiri tidak sembarang orng, haruslah seorang ulama yang sudah diakui kredibilitasnya. Maka konsekuensi logis orang yang melakukan ijtihad adalah salah atau benar, namun keduanya tetap memperoleh pahala karena hasil ijtihad itu.

Maka orang yang cerdas dan menguasai Islam secara menyeluruh, tidak akan meributkan dan mempersoalkan perbedaan pendapat, sepanjang perbedaan pendapat itu bukan prinsip, tetapi masalah furuiyah. Itu karenanya, Allah memperingatkan kaum muslimin untuk menjauhi pertengkaran yang akan menyeret ke jurang permusuhan dan pertentangan yang tidak pernah ada penyelesaiannya.

Berpegang kepada "tali Allah" (bihablillah jami'an) merupakan kunci strategi kekuatan umat Islam dalam menghadapi fitnah dan rongrongan dari orang kafir, yang dewasa ini semakin gencar menyerang umat Islam dengan tudingan sebagai teroris, Islam fundamentalis, dan sebutan lain yang menyakitkan.

Oleh karena itu, tidak ada lagi jalan yang dapat memenangkan selain mempererat kesatuan dan persatuan umat Islam. Jauhi perbedaan, satukan langkah untuk menghadapi tantangan berat yang digencarkan oleh orang-orang kafir.***


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR