Kamis, 2 April 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Tausyiyah

Muslim Indonesia Berwajah Damai

Kamis, 5 Maret 2020

Nama agama  biasanya dikaitkan  dengan nama orang atau  nama pembawa ajaran agama itu. Misalnya agama Budha, Yahudi, Kristen atau  Zoroaster. Disebut Budha, karena penemu ajarannya bernama Sidharta Gautama Budha. Yahudi, Judaisme, agama yang dianut orang-orang Yahudi. Namanya disandarkan kepada  nama tempat dimana agama itu lahir,  daerah Judea. Judea  diambil dari seseorang  bernama Yahuda. Yahuda adalah kakak Nabi Yusuf, anak Ya’kub as. Kristen, sebutan ini erat hubungannya dengan nama pengajarnya atau yang dipujanya, Yesus Christ. Pengikutnya disebut Kristen. Kaum muslimin menyebutnya nashroni, sebagaimana tercantum  dalam al-Qur’an.  Nashroni adalah daerah asal Yesus, Nazareth. Demikian pula Agama Zoroaster di Persia, sebutan ini dilekatkan kepada seorang pengajarnya bernama Zoroaster.

Berbeda dengan agama Islam. Nama Islam  tidak dikaitkan dengan nama  pembawanya, Nabi  Muhammad saw atau kepada nama tempat dimana Islam lahir, yakni daerah Arab. Menyamakan dengan Kristen sebagai pengikut Yesus kristus,  para orientalis menyebut Islam dengan istilah “Mohammadanism” atau “Mohammadan”. Sebutan ini jelas salah! Sebab  Islam bukan faham Nabi Muhammad atau pemujaan terhadap Nabi Muhammad.

Yang memberi nama Islam bukan manusia, tapi Allah Swt. Dalam Al-Qur’an kata Islam disebut sebanyak 8 kali, yaitu dalam surat ali-Imram ayat 19 dan 85, surat al-Maidah ayat 3, surat al-An’am ayat 125, surat az-Zumar ayat 22, surat As-Shaf ayat 7, surat al-Hujurat ayat 17, dan surat at-Taubah ayat 74. Misalnya firman Allah: “sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam” (Q.S. Ali-Imran: 19).

Secara etimologis Islam berasal dari kata salima, artinya selamat, sentausa, damai, sejahtera atau pasrah. Dari kata ini kemudian dibentuk kata aslama, yang berarti menyelamatkan, menyejahterakan, mendamaikan, memasrahkan. Atau berarti memelihara diri dalam keadaan selamat sentausa. Menyerahkan diri atas dasar ketundukan, ketaatan dan kepatuhan kepada Allah Swt. Jadi, tidak ada hubungannya dengan nama orang atau tempat. Penganutnya disebut muslim, artinya orang yang patuh, tunduk, taat, berserah diri, selamat dan menyelamatkan. Diperkuat dengan hadits Rasul: “almuslimu man salimal muslimuna min lisanihi wayadihi”, Muslim adalah orang yang menyelamatkan (memberi kedamaian)  muslim lainnya dengan lisan dan perbuatannya” (alhadits).

Seluruh dunia mengenal Indonesia . Indonesia dikenal bukan karena keindahan alamnya saja, tapi juga keramahan dan sopan santunnya, kelembutan bahasanya, budaya tolong menolong dan kekeluargaannya. Para tamu asing  yang datang ke Indonesia merasa nyaman, aman, betah, dan  ingin tinggal di  Indonesia. Mereka tahu, penyebab  keramahan orang Indonesia  berkah ajaran agama yang dianutnya: Islam. Non muslim yang jujur mengakui, dimanapun mereka tinggal, merasa terlindungi  jika berada di tengah-tengah masyarakat muslim. Terutama masyarakat muslim Indonesia.

Dr. Mitsuo Nakamura, Antrolopolog Jepang, penulis produktif mengenai  ormas Islam  Indonesia. Matin Van Bruinessen, orang Belanda, kini Alhamdulillah Muslim,  penulis dan peneliti masalah   tarekat, salah satunya tentang Tarekat Naqsabandiyah. James Siegel, Profesor Antropologi dan Kajian Asia di Universitas Cornel di Amerika Serikat, bukunya berjudul “The Rope of God”, ulasan tentang sejarah Kontemporer Aceh. Dan banyak bule-bule lain yang datang ke Indonesia baik untuk keperluan wisata maupun penelitian, berkesimpulan,  kesan  “barat”  bahwa Islam berwajah garang, seperti gambaran muslim di tempat lain, tidak terbukti setelah bergaul dengan masyarakat muslim Indonesia.

Wajah muslim Indonesia itu  lugu, familiar dan bersahaja. Cara berpikirnya jernih. Mengutamakan gotong royong dan musyawarah. Busananya  biasa saja, sama sekali tidak mirip dengan busana yang dipakai Nabinya. Muslim Sunda pakai baju kampret  (seperti pakaian silat), berpeci dan bersarung. Muslim Jawa pakai batik dan blankon.  Muslim Aceh berkoko hitam dan pakai peci tinggi seperti yang di pakai Teuku Umar atau Cik Ditiro. Namun demikian mereka salat, puasa, haji, zakat,  baik kepada sesama manusia, dan mengutamakan budi pekerti: akhlak!

Kalau ada perbedaan faham, dihadapinya dengan arif.  Ikhtilaf dianggapnya sebagai  wasilah memperluas wawasan. Menghindari bicara kasar, tidak ada umpatan, sumpah serapah, caci maki, fitnah, intrik, bid’ah membid’ahkan, kafir mengkafirkan, apalagi tindakan brutal dan  kekerasaan.  Prinsip hidup dan etika dijaga dengan baik. Dengan orang yang berbeda agama, dia katakan: “agamamu bagimu, agamaku bagiku. Jika ada perbedaan dengan sesamanya, dia katakan: “amalmu bagimu, amalku bagiku”.

Seperti inilah potret  wajah muslim Indonesia dulu,  yang kita ketahui dari penampilan para kiai, ulama,  dan guru guru  di pesantren. Kalau,  kini, kita jumpai ada  muslim  berwajah lain?  Wallahu a’lam!

H. Muhtar Gandaatmaja

Ketua DKM Masjid Raya Bandung

 


KATA KUNCI:
#muslimdamai

BAGIKAN
BERI KOMENTAR