Kamis, 24 September 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Inspirasi
Renungan Silaturahmi dari Menara Kembar

BERBAIK SANGKA DAN MEMAAFKAN

Selasa, 26 Mei 2020
H. Muhtar Gandaatmaja

MRB- Lima atau enam bulan lalu, tanggal persis kejadiannya lupa. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh.  Senior, guru dan sekaligus sahabatku, KH. Mustafid Amna, MA.  Tertabrak sepeda motor. Sebelah kakinya patah, tidak bisa jalan. Ketika ditanya siapa yang nabrak bagaimana penyelesaiannya?  “Sudahlah, gak apa-apa. Saya percaya dia tidak punya niat mencelakakan saya dan saya pun tidak mau celaka, terima saja.” Katanya lirih menahan sakit.

Dalam perjalanan menuju rumah, saya merenung haru dan bangga punya guru seperti beliau. “Inilah salah satu tanda-tanda manusia yang luas wawasan , kuat iman,  jiwanya matang emosi terkendali dan punya kesabaran yang tangguh.

Dalam hal kejadian itu, beliau  mengambil posisi dan keputusan yang tepat sebagai seorang Ulama. Kasus dan peristiwa hukum tidak selalu harus diselesaikan melalui proses pengadilan, terutama kasus perdata. Seperti Umar bin Khotob ra membebaskan pencuri karena lapar, mencuri terpaksa.

Musyawarah dan saling memaafkan itu berat, tapi indah. Kelak berakhir dengan sesuatu yang indah pula: berbuah kekeluargaan dan persaudaraan. Tidak menjadi permusuhan dan kebencian.

Kejadian serupa menimpa kakak kandung kami belasan tahun lalu ketabrak sepeda motor kepalanya kena benturan hebat.  Walau kuat puasa, sejak kejadian itu kini hanya bisa diam di rumah, memori ingatan masa lalu masih baik,  tapi justru agak kesulitan menyimpan informasi baru di file ingatannya. Sama juga jawaban nya dengan pak Mustafid, ketika mau diapakan ini yang nabrak? Kakak saya bilang waktu itu: “Sudah jangan diperpanjang, kasihan yang nabraknya orang gak punya.” katanya. Yang lucu Ibu saya (kami memangilnya ema), doanya dari semua pembaca,  kini 99 tahun usianya. Waktu jalan ke Masjid dari belakang ditabrak sepeda dengan kecepatan tinggi, ema terpelanting jidatnya berdarah dan dijahit. Ketika anak itu minta maaf, ema malah ngasih uang. Kasihan katanya dia enggak sengaja.

Terusiklah rasa kemanusiaan kita,  jika  sesuatu yang sesungguhnya bisa diselesaikan dengan cara minta maaf dan memaafkan harus berakhir di Pengadilan dan penjara. Tahun 2009, nenek Minah (55) tak pernah menyangka perbuatan isengnya memetik 3 buah kakao di perkebunan milik PT Rumpun Sari Antan (RSA), Banyumas Jawa Tengah harus masuk penjara. Tahun 2017, peristiwa ini benar-benar ajib, tak percaya kita,, tapi nyata. Menimpa seorang Ibu, panggilannya “Amih” (sengaja nama aslinya kami sembunyikan) Kota kabupaten di jabar. Sang Ibu digugat anak dan menantunya gara-gara pinjam uang  Rp 40 juta lebih hingga melakukan gugatan perdata dengan nilai ganti rugi mencapai Rp 1,8 miliar. Tahun 2018, seorang nenek berusia 92 tahun bernama Saulina Boru Sitorus, divonis penjara Pengadilan Negeri Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara. Penyebabnya karena sang nenek menebang pohon durian sebesar lima inci. Kalau dituangkan contoh model ini tidak akan muat halaman ini.

Diriwayatkan bahwa suatu pagi Rosulullah Saw. Menghampiri para sahabatnya, lalu baginda Nabi menyapa mereka: “Bagaimana keadaanmu pagi ini?” Para sahabat menjawab: “Pagi ini (Alhamdulillah) kami dalam keadaan iman.” Kemudian Rasul bertanya lagi: “apa tandanya bahwa kalian adalah orang yang beriman”? Para Sahabat menjawab: “Kami sabar ketika mendapat balai (musibah, ujian dan bencana), bersyukur atas nikmat Allah, dan kami ridho/ihlas atas ketetapan Allah SWT.  Rosulullah bersabda: “Kalian adalah Mu’min yang sesungguhnya, demi Tuhan pemilik Ka’bah.”

Sabda Rasul SAW. “Sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka dia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya, sehingga dia melakukan amal keburukan.”

Maafkan dan doa'akanlah!

Wallahu A’lam.

Penulis: Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar

Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja Bandung


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR