Rabu, 15 Juli 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan dari Menara Kembar

Tawadlu

Selasa, 2 Juni 2020
H. Muhtar Gandaatmaja

MRB-”Zayyin nafsaka bilma’shiyati wa laa tuzayyin nafsaka biththoati.” : Hiasi dirimu dengan kemaksiyatan dan jangan hiasi dirimu dengan ketaatan. (Dari kitab atau buku apa sumber ungkapan ini, saya lupa, sedang dicari. Diterima ketika   kelas 1 Tsnawiyah dari guru pelajaran Mahfuzhot, 1972 lalu). Analogi amal dan pelakunya ibarat baju dengan pemakainya. Baju yang dipakai tidak akan pernah dicuci kalau pemakainya beranggapan masih bersih. Manusiapun tidak akan pernah bertobat kalau dirinya merasa bersih.

Sekurang-kurangnya dua hal penting yang harus melekat pada diri manusia, yaitu “merasa” dan “tahu diri.” Merasa, atau “rasa karumasaan”, kata orang Sunda. , ”Roso rumongso”, kata orang Jawa, adalah  pengakuan  tulus bahwa dirinya tidak steril dari dosa. Banyak kekurangan dan merasa tidak punya kelebihan apa-apa. Sedangkan “tahu diri” merupakan kesadaran diri terhadap  martabat dan posisinya: siapa saya, sebagai apa dan punya kehebatan apa-apa. Dalam terminologi akhlak, merasa dan tahu diri disebut “tawadhu” yaitu rendah hati. 

Tawadlu punya arti lebih luas,  bukan sekedar  rendah hati, tapi adanya pengakuan hati yang tulus terhadap kelebihan orang lain. Dirinya sendiri diposisikan sebagai orang yang tidak tahu apa-apa; banyak dosa, tidak bersih; miskin ilmu dan pengalaman. Yang tinggi ilmunya, mulia akhlaknya, saleh, dan jujur bukan saya atau kami, tapi dia dan mereka. (DR. Zamakhsyari Dhofier: Tradisi Pesantren). 

Al-Qur’an surat al-Kahfi: 110, menuturkan bahwa  Rasul Saw yang mulia, menyejajarkan dirinya dengan kita,: “…sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu….” Dari sisi kemanusiaannya, Rasul Saw memang sama dengan manusia pada umumnya,  butuh makan, minum, tidur, beristri, beranak; bisa tertawa juga bisa menangis. Walaupun  demikian,   posisi,  martabat dan tugasnya sebagai  Nabi dan Rasul Allah,  pasti  sangat berbeda jauh dengan kita.

Kalimat  “aku hanya manusia seperti kamu,” sesungguhnya bukti  tingginya akhlak Rasul. Beliau adalah teladan yang rendah hati . Kunci pembeda pada penggalan ayat selanjutnya, “...yang telah menerima wahyu…”.   Siapa yang menerima wahyu kalau bukan orang-orang suci dan pilihan Allah? Ke-geer-an (baca:tak tahu diri) kalau menyamakan Rasul dengan dirinya dalam segala hal.

Orang berilmu dan berakhlak mulia ketika ia mengatakan tidak tahu apa-apa,   bukan berarti bodoh. Dia sedang menyembunyikan  kepintarannya: rendah hati. Orang berilmu itu, katanya, seperti padi, semakin berisi semakin merunduk. Tanda keluasan ilmunya membekas dalam kesehariannya. Bersahaja, “handap asor jeung someah” (rendah hati dan ramah). Tutur bahasanya baik, bicara seperlunya, terjaga lisannya agar sedapat mungkin tidak ada orang yang terluka karena kata-katanya. Walaupun serba tahu,  tapi tidak sok tahu.

Banyak ayat al-Qur’an atau hadits kita jumpai melarang  “ujub.” Antara lain: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu” (.Asy-Syu’aro: 215). Dalam An-Najm: 32, lebih jelas, Allah melarang manusia mengaku bersih. “…maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang-orang yang bertakwa.”

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku: bertawadlulah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.” (H.R. Muslim). Kata Rasul saw orang tawadlu itu akan dimulyakan Allah, sebaliknya orang yang menganggap diri baik akan dihinakan. “Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seorang yang memaafkan melainkan kemulyaan. Dan tiada orang yang tawadlu karena Allah melainkan dimulyakan oleh-Nya.” (H.R. Muslim). “Layak sekali bagi Allah, tiada sesuatu di dunia ini yang akan menyombongkan diri melainkan direndahkan oleh-Nya.” (H.R. Bukhori). Wallahu A’lam.        

Penulis : Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar

               Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR