Sabtu, 31 Oktober 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan Menara Kembar

KEARIFAN

Selasa, 30 Juni 2020
H. Muhtar Gandaatmaja
Rubrik Khusus Ketua DKM setiap Selasa

MRB - Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan “arif” dengan bijaksana; cerdik dan pandai; berilmu,  paham; atau mengerti.  Kearifan berarti kebijaksanaan. Kata ” Hakim,” bahasa Arab, diartikan dengan bijaksana atau orang yang berilmu dan berwawasan. Karena hakim kalau memutus suatu perkara bukan atas dasar nafsunya, melainkan karena kebijaksanaan,  kebenaran dan keadilan. Kearifan dalam pengertian bijaksana, dalam istilah Sunda dimaknai sebagai orang  yang “leuleus jeujeur laer tali aisan.”

Alkisah, seorang raja yang gagah perkasa, pinter, ganteng dan tentu flamboyan. Karena kecelakaan,  mata sebelahnya buta. Ia murung, namun hasrat hati agar nampak gagah tetap bergairah. Sang raja memanggil para pelukis supaya menggambar dirinya sebagai raja yang terkesan  tegap dan berwibawa. Lukisan yang dapat memuaskan hatinya  akan mendapat imbalan hadiah.  Sebaliknya, yang mengecewakannya akan masuk penjara. Karenanya  yang datang memenuhi undangan raja bukan pelukis abal abal, bermutu rendah, mereka para professional dibidangnya.  Hanya tiga pelukis yang lolos dari seleksi ketat setelah menyingkirkan ratusan pesaingnya

Pelukis pertama adalah sang idealist, jujur, kadang polos  apa adanya,  melukis sang raja sedang duduk di Singgasana gading kencana bersulam benang emas. Lukisannya bagus  raja kelihatan puas. Namun beberapa saat kemudian raut  wajahnya  berubah, kulit dahinya mengerut . Dia panggil sang pelukis seraya  berbisik ke telinganya: “Lukisanmu bagus nyaris persis seperti diriku, kamu jujur apa adanya, tapi kamu mempermalukan rupaku dengan mata sebelahku, kamu tidak taktis.” Raja menyuruh prajuritnya memenjarakan pelukis ini.

Belajar dari pelukis pertama,  melukis raja apa adanya dengan mata satu, resikonya dijebloskan ke  penjara. Maka  sang maestro melukis raja dengan mata komplit.  Raja memanggilnya dan bicara perlahan nyaris tak terdengar, suaranya berdesis karena marah yang tertahan: “Lukisanmu bagus, aku puas, dan aku bangga seolah bisa melihat lagi. Tapi kamu tidak jujur, menipu orang-orang semata  ingin memuaskan hatiku,  kamu lukis dalam keadaan kedua biji mataku lengkap.” Prajurit memenjarakannya.

Pelukis ketiga, ketika dipanggil tidak secepat pelukis pertama dan kedua memenuhi undangan raja. Ia meng ulu-ulur waktu sebab tahu resikonya kalau raja tidak berkenan. Siang malam tafakur dan bermunajat kepada Yang Mahasegalanya agar raja senang, tidak apa adanya, tidak memanipulasi fakta dan  selamat tidak dipenjara.  Setelah beberapa hari “berkholwat”, seperti apa yang akan dia lukis sudah ada dalam benak pikirannya. Dengan mengucap bismillah, dia datang menghadap raja.

Coretan sang pelukis diatas kanvas, Raja tidak digambarkan sedang duduk di  kursi singgasana, namun digambarkan  sedang berburu di hutan  dengan menunggangi  kuda arab yang terkenal itu, kemudian raja  seakan akan sedang memicingkan sebelah matanya sambil siap segera melepaskan anak panah keluar melesat dari busurnya mengarah ke seekor rusa jantan.  Raja terseyum bangga menerima lukisan ini. Dengan suara lantang raja bicara: “Orang ini punya KEARIFAN, ia tidak  hanya pandai  melukis, tapi juga  bijaksana,  tidak mempermalukan aku dengan mataku yang faktanya cacat sebelah,   karena  mataku tertutup “oleh kesan lukisan”  seolah aku sedang memicingkan mata. Diapun tidak mendustakan fakta dengan melengkapi mataku. Dia berhak mendapat hadiah sebagaimana aku janjikan!” Teriak Raja mengakhiri pidato singkatnya. Sang  pelukis melaksanakan perintah Al-Qur’an: “….. bil hikmah wal mauizhotil hasanah……”   (An-Nahl: 125).  Selamat merenung!   Wallahu A’lam.

Penulis: Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar - Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja Bandung



BAGIKAN
BERI KOMENTAR