Minggu, 25 Oktober 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan Menara Kembar

PAHLAWAN KELUARGA

Selasa, 7 Juli 2020
H. Muhtar Gandaatmaja
Rubrik Khusus Ketua DKM MRB setiap hari Selasa

MRB-Judul di atas mungkin tidak lumrah,  umumnya  sebutan pahlawan dilekatkan kepada tentara yang gugur di medan perang. Atau disematkan kepada mereka yang tewas ketika melaksanakan tugas. Tempat  pemakamannya pun eksklusif “ Taman Pahlawan.”

Kata Pahlawan, bahasa Sansekerta,  “phala-wan” yaitu orang yang bisa menghasilkan buah (phala) yang berkualitas bagi bangsa, negara, dan agama.  Atau,  kata Pahlawan merupakan  gabungan kata “Pahala”  dengan kata “wan” .  Setiap ada akhiran kata  “wan” biasanya menunjukan arti “banyak, ”  “lebih,”  atau “sempurna.” Kata juta, bila ditambah kata wan menjadi “jutawan,” artinya orang yang banyak duit (sekarang Milyuner atau trilyuner?). Rupa-wan berarti cantik atau ganteng. Derma-wan artinya orang yang banyak berderma, amat peduli pada orang lain, atau orang yang suka menolong.  Warta-wan artinya orang yang ahli  (bukan tukang) memberitakan.  Dan “pahlawan,”  berarti orang yang  banyak pahalanya.

Ulama, Kiayi, Guru, olah ragawan,   atlit, artis, komedian dan siapa saja yang telah berjasa dan memberi manfaat untuk masyarakat luas, tidak salah  kalau kita gelari pahlawan sesuai bidangnya. Tenaga Kerja Indonesia (TKI), yang bekerja di luar negeri, disebut pahlawan. Pahlawan devisa. Mereka memang layak jadi pahlawan, sebab jasanya bukan hanya  menyumbangkan real dan dolar saja ke kas Negara, tapi juga atas “keikhlasannya” dikuras dan diperas dengan berbagai macam  “pungli”  di Bandara.

Tahun 1990-an, di Amerika, ada kontes keluarga. Yang dinilai: ter-utuh dan ter-lama membina rumah tangga, tidak ada perceraian dan  anak-anak mulus terdidik hingga mereka berkeluarga. Yang berhasil mencapai prestasi tersebut  mendapat  hadiah dan dinobatkan sebagai pahlawan. Beralasan memang, Amerika khususnya,  sudah lama resah menghadapi persoalan keluarga warganya. Masalah brocken home,  anak-anak  yang menjadi liar, minuman keras, narkoba, pergaulan dan sex bebas  mewabah, dari waktu ke waktu  menunjukan angka yang sangat mengkhawatirkan. Makanya bagi keluarga yang mampu mempertahankan keutuhan keluarganya berhak mendapat hadiah fantastis.

Entahlah, bermula dari mana, kerap terdengar dalam nasihat pernikahan, istilah rumah tangga  dengan kalimat “…bagai mengarungi bahtera ….., “ Dalam bahasa Sunda popular terdengar ucapan “…dina raraga  ngojayan sagaraning …..” Mungkin, namanya juga mungkin, bisa benar bisa salah, karena membina rumah tangga itu tidak  sederhana dan mudah, maka  tingkat kompleksitas dan kerumitannya dianalogikan laksana mengarungi  lautan. Setiap waktu berhadapan dengan  badai, topan, angin kencang  dan gelombang  dahsyat. Jika selamat dari semuanya,  kelak akan menemukan pantai kebahagiaan diseberang sana.

Rumah tangga adalah  satuan masyarakat terkecil  dalam  masyarakat luas. Para Arif Bijaksana berkata:  jika  rumah tangga tegak maka tegaklah masyarakat.  Bila rusak maka rusak pula masyarakat dan bangsa. Sebab, masyarakat  luas lahir dari masyarakat terkecil, yaitu rumah tangga.

Saya, anda, kami dan kita semua tentu berharap, idealnya,  di usia   senja  tetap  mesra dengan pasangan kita.  Tawa canda ria dengan anak cucu melengkapi  suka bahagia dimasa tua. Pulang ke kampung abadi , negeri Akhirat, sudah disiapkan   “rumah idaman”  : Surga. Tak perlu resah dan gelisah meninggalkan anak cucu  tercinta di alam maya, karena mereka telah berhasil menyandang gelar yang  jauh lebih mulia dari sekedar sarjana, yaitu   “Anak solih/solihah.”  Gelar itu mereka peroleh berkah susah  payah kita. Kita akan tersenyum di alam keabadian memetik buah dari pohon yang kita tanam di alam dunia, yaitu ridho, maghfirah dan rahmat Allah SWT.

Semakin lengkap kebahagiaan kita di alam keabadian  manakala setiap saat menerima butiran mutiara dan berlian terbuat dari tetesan air mata anak kita  sewaktu  berdo’a  usai sholat lima waktu, sholat dhuha  ---dan mudah-mudahan---  do’a  di sepertiga akhir malam.  Mereka  bersimpuh mohon kepada Allah SWT:  “Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro.”  Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa kedua orangtuaku dan cintailah keduanya sebagaimana mereka mencintai aku diwaktu kecil. Amin….Amin….Amin Ya Rabbal ‘Alamin!. Wallahu A’lam

Penulis: Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar/ Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja Bandung



BAGIKAN
BERI KOMENTAR