Minggu, 9 Agustus 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan di Menara Kembar

MENUTUP AIB

Selasa, 14 Juli 2020
H. Muhtar Gandaatmaja
Rubrik Khusus Ketua DKM MRB setiap hari Selasa

MRB-Tak ada gading yang tak retak. Tak satupun manusia yang  steril dari dosa dan maksiyat. Kesalahan, cacat, cela, kekurangan, ketidak lengkapan atau  ketidak sempurnaan melekat di diri manusia sebagai bani adam yang dimulyakan-Nya. Semua hal negative   ini kita sebut “aib.”  Umum nya manusia sedapat mungkin menutupi aib dirinya agar tidak diketahui orang lain. Yang bersangkutan akan marah bila aibnya dibuka atau disebarkan.

Di abad teknologi informasi  yang karakternya serba terbuka, dimungkinkan apa saja berkaitan dengan rahasia sekalipun agak sulit bisa kita tutupi dengan rapat. Karenanya,  celah celah ini dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk  kepentingan sesaat. Norma hukum tentang boleh tidaknya atau apakah halal atau haram, tidak menjadi pertimbangan lagi. Haramnya “tajasus (mencari cari kesalahan orang), ghibah (membuka keburukan orang), fitnah (menceritakan sesuatu yang tidak dilakukan orang)  dan namimah”  (mengadu domba) lalu mempublikasikannya, dianggap halal.

Apa yang disampaikan POLRI  mengejutkan  orang yang berpikiran waras. Di saat kita sibuk menghadapi wabah berbahaya,  covied-19, ditemukan lebih dari 3500 kasus berita hoax berseliweran tiap hari.  Disebarkan oleh lebih dari  800.000 orang lewat medsos. Kaget, terkesima dan tercengang karena tak percaya kalau para  kreatornya itu ada yang dosen IT di PT tertentu, guru, bapak /ibu “yang terhormat” dan  orang yang biasa  memosisikan dirinya sebagai barisan  “ulama.”  Padahal mereka   tahu  asbanun nuzul  (sebab turunnya Al-Qur’an)  surat  Al-Hujurat: 12,  itu merupakan teguran Allah kepada orang yang menyebarkan “dengkuran tidur Salman Al-Faritsi.” Salman Alfaritsi, salah seorang sahabat setia Nabi SAW tidurnya mendengkur. Dengkuran tidur saja dianggap aib bagi yang bersangkutan dan haram hukumnya disebarkan.

Suatu waktu, Rasulullah SAW makan bersama para sahabatnya menikmati hidangan  daging unta. Di tengah kenikmatan itu ada diantara sahabatnya yang “buang  gas”  berbau tak sedap. Yang hadir bereaksi tak senang atas kejadian itu, tapi tidak tahu siapa yang kentut.  Adzan Maghrib berkumandang. Rasulullah SAW pun bersabda, “Siapa yang makan daging unta, hendaklah  berwudhu.” (HR.  Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Mendengar sabda Nabi SAW, para sahabat yang ikut makan daging unta  semuanya berwudhu.  Tahukah rahasianya? Betul sekali! Sahabat yang buang  gas sembarangan tadi, terselamatkan aibnya. Terjaga kehormatannya. Sampai akhir cerita tak ada yang tahu siapa yang membuat ulah buang  gas sembarangan.   Luar biasa akhlak Rasul SAW, beliaupun bersabda:  “Siapa yang menutupi aib seorang Muslim maka Allah akan menutupi aibnya  di dunia dan akhirat. Dan, siapa mengumbar aib saudaranya sesama Muslim maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya di dunia dan akhirat.” (HR Ibnu Majah).

Kisah serupa tentang buang gas (bahasa kasarnya kentut), menimpa seorang wanita paruh baya, yang datang menghadap Hatim Al-Asham, nama lengkapnya adalah Abu Abdul Rahman Hatim bin Alwan, terkenal dengan gelar “Al-Asham,” dia termasuk tokoh guru besar (syaikh) khurasan. Hatim dijuluki Al-Asham (orang yang tuli) bukan karena ia tuli, tetapi berpura-pura tuli untuk menjaga kehormatan seseorang hingga ia dijuluki dengan Al-Asham.

Wanita itu datang ke Majelis Hatim untuk menanyakan suatu masalah. Tidak sengaja, wanita ini kentut dengan suara terdengar keras. Wajahnya memerah dan menunduk dalam-dalam karena malu. Sambil menahan rasa malu, ia tetap memberanikan diri bertanya. Kemudian, Imam Hatim berseru keras padanya, “Apa yang kau katakan barusan? Aku tidak mendengarnya. Coba ulangi dan keraskan suaramu ya!” Mendengar ini, sang wanita merasa lega, karena mengira Hatim tuli sehingga beliau tidak mendengar suara kentutnya tadi.

Kalimat “Coba keraskan suaramu!” menjadi kebiasaan Imam Hatim selama 15 tahun. Ya, beliau menunggu sampai wanita penanya itu wafat. Barulah setelah itu, ia kembali menunjukkan pendengaran beliau sebenarnya normal dan baik-baik saja. Ternyata, selama ini beliau hanya pura-pura tuli untuk menutup aib dan menjaga perasaan wanita itu. Tapi, beliau terlanjur digelari Al-Asham atau si tuli dan beliau ihlas atas panggilan itu. Konon akhirnya nanti,  dalam sebuah Anekdot  Sufi, Sang Guru saleh ini masuk surga karena akhlaknya  ini.  Wallahu A’lam!

Penulis: Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar/ Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja Bandung



BAGIKAN
BERI KOMENTAR