Minggu, 9 Agustus 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan di Menara Kembar

BEDA PENDAPAT

Selasa, 21 Juli 2020
H. Muhtar Gandaatmaja
Rubrik Khusus Ketua DKM MRB setiap hari Selasa

Tahun 1990-an putri kami berusia 6 tahun. Sering sakit panas kalau makan pedas atau es karena radang amandel. Ikhtiar agar sehat diperiksakan ke Dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan (THT). Advice beliau amandel harus segera dibuang, dioperasi. Alasannya,  tidak baik buat pertumbuhannya kalau terlalu sering sakit-sakitan. Walau tidak masuk kategori operasi berat ngeri juga mendengar kata kata operasi. Untuk menguatkan pendapat Ahli THT, kami datangi Dokter Spesialis Anak, sebagai upaya second opinion barangkali ada alternative selain harus dioperasi. Apa jawaban Dokter  Anak? Jangan  operasi! Amandel atau tonsil merupakan dua kelenjar kecil yang ada di tenggorokan. Organ ini berfungsi untuk mencegah infeksi, khususnya pada anak-anak. Seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh semakin kuat sehingga fungsi amandel mulai tergantikan. Ketika fungsinya tergantikan, amandel secara perlahan akan menyusut. Demikian Dokter Spesialis Anak menjelaskan.

Dua dokter yang membuat kami bingung ini, Alhamdulillah, masih ada. Yang satu sudah tidak buka praktek karena kurang sehat, yang satunya masih aktif. Dua-duanya dokter spesialis, Muslim, Profesor dan kedua dokter ini langganan kami karena cocok. Tapi satu dengan yang lainnya tidak sama pendapatnya dalam urusan yang sama. Saya mengira,  orang yang basic ilmunya eksak mesti sama pendapatnya. Namun demikian mereka berdua tetap baik, saling menghormati dan memuliakan, tak ada satupun diantara mereka, karena beda pendapat,  saling merendahkan. Mereka tidak mengeluarkan dalil ayat Al-Qur’an dan hadits menjalankan misi kemanusiaannya yang beradab, cukup dengan senyumannya yang manis, masing-masing mereka saling titip salam kalau kami mengunjungi tempat prakteknya. 

Anak perlu penanganan segera, sementara pendapat dua dokter ini berbeda. Masalah ini kami lempar ke publik lewat surat pembaca HU Pikiran Rakyat. Jawaban pro kontra operasi atau tidak nyaris beda tipis. Walau sedikit bedanya kami ambil terbanyak, yaitu tidak dioperasi. Alhamdulillah anak kami sehat, kini telah berputra satu, putri dua.

Berkaca dari dua dokter yang sama-sama berlatar belakang keilmuan eksak, tapi masih bisa saling memaklumi dalam perbedaan,  orang yang berbasis ilmu sosial, baik sosial politik, ekonomi, budaya maupun sosial keagamaan mestinya  lebih memaklumi bahwa beda itu sunatullah, suatu keniscayaan. Tak mungkin satu dengan yang lainnya saling memaksakan diseragamkan dalam segala hal. Islam agama yang luhur dan tak ada yang melebihi keluhurannya karena  diitebarkan dengan senyum sang Rasul SAW pembawa kedamaian.

Ketika berhadapan dengan orang yang berbeda agama, Allah mengajarkan kita, “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6) Ketika bicara perbedaan pendapat dengan sesama muslim, Rasul SAW bersabda (walau hadits ini dalam perbincangan kesahihannya : “Perbedaan faham atas ummatku adalah rahmat.” Tentang bagaimana seharusnya bersikap dengan sesama muslim Nabi SAW memberi nasehat: ''Janganlah kamu sekalian saling mendengki,  menipu, memarahi dan saling membenci. Muslim yang satu adalah bersaudara dengan Muslim yang lain. Oleh karena itu, ia tidak boleh menganiaya, mencampakan  dan menghinanya. Takwa itu ada di sini (Rasul menunjuk dadanya tiga kali). Seseorang itu cukup dianggap jahat bila ia menghina saudaranya sesama Muslim. Setiap Muslim yang satu terhadap Muslim yang lainnya haram (menumpahkan) darahnya, mengganggu harta  dan kehormatannya.'' (HR.  Muslim).

Kini, ada sekelompok kecil muslimin yang mengklim paling Islam dan menafikan yang lain. Mereka yang pemahaman  agama atau politiknya beda dengan kelompoknya dianggap kafir, anti agama dan  dicap menistakan ulamanya. Dalam Jurnal Ilmu dan Kebudayaan, Ulumul Qur’an, No. 2 th 1992, halaman 76-96, mengupas tentang “Sistem Nilai Nilai Islam? Dari Balik Catatan Harian Ahmad Wahib Wahab,” Dipenggalan uraian yang agak panjang itu ada beberapa alinea yang memaparkan  bahwa Ahmad Wahib Wahab  dan Johan Effendi, keluar dari sebuah organisasi Mahasiswa Islam tertentu (menjaga nama baiknya kami tidak menyebut dengan jelas sebagaimana dalam Jurnal tsb), karena tidak suka dengan kelakuan  sebagian teman aktivisnya yang benci PKI, tapi cara cara PKI, yang bertentangan dengan ajaran Islam,  mereka lakukan. Apa kelakuan PKI? PKI suka mencaci maki, bringas, sangar, kejam dan membunuh; di kalangan  intelektualnya biasa melancarkan fitnah, adu domba, memutar balikan fakta  dan menghalalkan segala cara. Wallahu A’lam.

Penulis: Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar/ Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja Bandung



BAGIKAN
BERI KOMENTAR