Rabu, 28 Oktober 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan Akhir Pekan

DUNIA PENTING, AKHIRAT LEBIH PENTING

Sabtu, 25 Juli 2020
H. Muhammad Yahya Ajlani
Rubrik Khusus setiap hari Sabtu

Dalam sepekan ini, saya banyak menerima kabar duka, terutama adanya guru, tokoh, teman, jama’ah, dan tetangga yang meninggal dunia. Dalam fikiran saya langsung trebersit persoalan akhirat; tempat tinggal masa depan manusia menjalani kehidupan hakiki.

Sebenarnya persoalan suka dan duka itu biasa-biasa saja, tidak aneh, karena sudah merupakan ketentuan Allah bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Tetapi yang membuat termenung karena kita pasti akan menyusul mereka menuju alam baka setelah kehidupan dunia ini.

Dunia dan akhirat merupakan dua sisi yang tidak bisa dipisahkan. Dunia merupakan kehidupan masa kini, dan akhirat merupakan kehidupan masa mendatang. Kehidupan masa kini tidak akan bermakna kalau tidak dijalani dengan benar, dan kehidupan akhirat pun akan sia-sia kalau tidak disiapkan sejak sekarang. Sehingga antara kehidupan dunia dan akhirat harus berjalan seiring, tidak ada yang dirugikan atau diabaikan.

Tetapi kalau dilihat dari sudut prioritas, maka kehidupan akhirat harus lebih diprioritaskan. Hal ini bisa kita lihat dari banyak keterangan al Qur’an. Pertama, dalam ayat-ayat al-Qur'an Allah menyuruh kita bergegas dan berlomba-lomba dalam mempersiapkan bekal akhirat. Firman-Nya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.(Q.S. Ali Imran:133) Dalam ayat lain juga dijelaskan: “Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya”.(Q.S. Al-Hadid:21) Sementara ketika membicarakan persoalan-persoalan dunia, al-Qur'an menerangkannya dengan redaksi datar, biasa-biasa saja, tanpa harus bersegera atau bergegas. Firman Allah: “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.(Q.S. Al-Mulk:15). Dalam ayat ini, Allah hanya menyuruh berjalan, bukan berlari (bergegas). Artinya, berusaha meraih dunia bukan tujuan utama dalam hidup, tetapi sekedar sarana saja.

Kedua, kedudukan akhirat lebih baik dari dunia. Firman Allah: “Dan sesungguhnya akhir (akhirat) itu lebih baik bagimu dari permulaan (dunia)”.(Q.S. Adh-Dhuha[93]:4) Melalui ayat ini kita tentu sepakat bahwa memprioritaskan yang lebih baik harus diutamakan daripada yang sekedar baik saja. Dunia itu memang baik, tetapi akhirat lebih baik.

Ketiga, kehidupan akhirat kekal abadi, sementara kehidupan dunia itu ada batas akhirnya. Firman Allah: “Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”.(Q.S. Al-A'la[87]:17) Melalui ayat ini, kita bisa memahami bahwa mempersiapkan sesuatu yang lebih lama, bahkan kekal abadi, tentu harus diutamakan daripada kehidupan yang sementara.

Tetapi, sekalipun kehidupan akhirat itu harus mendapat prioritas utama, kehidupan dunia pun tidak boleh dilupakan. Allah menegaskan: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...”.(Q.S. Al-Qashash[28]:77)

Usaha untuk kepentingan dunia tetap harus maksimal, tetapi tidak mengorbankan kepentingan akhirat. Kehidupan akhirat adalah kelanjutan dari kehidupan dunia. Bahkan kemuliaan seseorang di akhirat sana merupakan akibat dari amal baiknya selama di dunia. Kehinaan dan kesengsaraan di akhirat sana, merupakan akibat dari amal buruknya selama di dunia. Amal baik dan buruk akan berhenti setelah orang itu meninggal dunia, tetapi hisab (hitungan amal) tidak akan pernah terhenti.

Oleh sebab itu, segala macam aktifitas di dunia ini harus dimaksudkan atau dikaitkan dengan kepentingan akhirat. Semua amal yang tidak dikaitkan dengan kepentingan akhirat tidak akan ada gunanya. Orang yang beramal dunia hanya untuk dunia, di akhirat kelak tidak akan mendapat apa-apa.[] Wallahu a’lam

Penulis : Pengurus DKM Masjid Raya Bandung & Ketua Yayasan Baitul Ma’mur


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR