Kamis, 24 September 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Mimbar
Prof. DR. KH. Muhammad Solehudin, M.Pd., MA

Khotib Idul Adha 1441 H di Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat

Selasa, 4 Agustus 2020
Khotib Idul Adha 1441 H Bapak Prof. DR. KH. M. SOLEHUDDIN, M.Pd., MA (Rektor/Guru Besar UPI Bandung)

MENGHADAPI COVID-19

BELAJAR DARI UJIAN HIDUP NABIYULLAH IBRAHIM AS

Khutbah I

الله اكبر الله اكبر الله اكبر، الله اكبر الله اكبر الله اكبر، الله اكبر الله اكبر الله اكبر

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا سُبُلَ السَّلَام وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِالنَّبِي الْكَرِ يْمِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ اِلَهَ إلَّا الله

وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، ذُو الْجَلَالِ وَالْاِكْرَام، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مٌحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُلُهُ،

الَلّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَرِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مٌحَمَّدٍوَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَا بِهِ وَالتَّا بِعِيْنَ بِإِحْسَا نِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرٌوْن، أٌوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله وَ طَا عَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْن،

قال الله تَعَا لَى في الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ : أعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّجِيْم: يَآ أَيُّهَاالَّذِيْنَ اَمَنُوْا اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

Para Hadirin Jamaah I’dul Adha yang Dirahmati Allah SWT!

Alahamdulillah, pada hari ini  kita masih bisa menyelenggarakan shalat I’dul Adha yang disertai dengan mengumandangkan kalimat takbir untuk membesarkan nama Allah di seluruh pelosok dunia. Kegiatan shalat I’dul Adha ini bisa berfungsi sebagai syi’ar Islam. Melalui shalat I’dul Adha, Islam menjadi dikenal dan diketahui oleh masyarakat dunia. Begitu pula, berkumandangnya kalimat takbir merupakan wujud upaya penghinaan diri manusia (sebagai makhluq) di hadapan Allah Yang Maha Besar (sebagai Khaliq). Allah sangat tidak suka kepada hamba-hamba-Nya yang takabur karena memang hanya Allah lah yang Maha Besar.

Para Hadirin Jamaah I’dul Adha yang Dimuliakan Allah SWT!

Selain shalat I’dul Adha, terdapat pula dua ibadah tahunan lainnya yang secara bersamaan diselenggarakan pada saat ini, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Tiga ibadah ini mengingatkan kita kepada Nabiyullah Ibrahim AS. Terdapat banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah perjuangan Nabi Ibrahim AS ini. Di antaranya adalah ujian dan perjuangan Ibrahim dalam menghadapi kaumnya yang dhalim serta dalam mengawali ibadah qurban.

Para Hadirin Jamaah I’dul Adha yang Dirahmati Allah SWT!

Salah satu ujian yang dihadapi Ibrahim AS adalah ketika dia harus menghadapi kaumnya di bawah pemerintahan raja Namrud yang sangat dhalim. Meskipun menghadapi resiko yang sangat membahayakan, tapi Nabi Ibrahim AS tidak pernah surut dan bahkan semakin terbuka dalam melakukan dakwahnya. Bahkan, Ibrahim berani menghancurkan berhala-berhala yang menjadi sembahan mereka. Dengan perilaku Ibrahim seperti itu, kaumnya tentu sangat marah sehingga membakar Ibrahim hidup-hidup. Kisah kebiadaban kaum Nabi Ibrahim AS ini diungkapkan dalam QS Al-Anbiya (21: 52-70). Dalam Surat Al-Anbiya ini dikisahkan bagaimana perdebatan Ibrahim AS dengan kaumnya yang sesat karena menyembah berhala-berhala yang sama sekali tidak memberi manfaat kepada mereka. Namun kaumnya berdalih bahwa mereka melakukannya karena mengikuti tradisi nenek moyang mereka. Selanjutnya, Ibrahim menjelaskan bahwa mereka dan nenek moyang mereka berada dalam kesesatan serta menjelaskan kepada mereka bahwa Tuhan mereka itu adalah Tuhan Pemilik dan Pencipta langit dan bumi. Namun, mereka tetap tidak mau beriman kepada Nabi Ibrahim sehingga Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala sembahan mereka tersebut. Tentu saja mereka sangat marah dengan perilaku Ibrahim yang dianggap keterlaluan tersebut sehingga mereka secara beramai-ramai membakar Ibrahim hidup-hidup. Namun ketika mereka membakar Ibrahim, Allah berfirman agar api menjadi dingin dan penyelamat bagi Ibrahim. Diungkapkan dalam QS Al-Anbiya (21: 68-70):

قَالُواْ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓاْ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَٰعِلِينَ . قُلۡنَا يَٰنَارُ كُونِي بَرۡدٗا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ . وَأَرَادُواْ بِهِۦ كَيۡدٗا فَجَعَلۡنَٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ 

Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak” (68). Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim" (69). Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi (70).

Para Hadirin Jamaah I’dul Adha yang Dimuliakan Allah SWT!

Dalam peristiwa tersebut, pertama Ibrahim memperlihatkan keteladanan bahwa keyakinannya kepada Allah SWT tidak membuatnya ragu dalam berdakwah walaupun menghadapi tantangan yang luar biasa. Kedua, bahwa dakwah itu perlu didukung dengan pengetahuan dan kemampuan untuk menjelaskan kebenaran atau kemampuan untuk berargumen. Ketiga, kita tidak boleh membenarkan sesuatu yang telah biasa kalau memang kebiasaan itu merupakan sesuatu yang keliru, tetapi sebaliknya kita harus membiasakan atau mentradisikan sesuatu yang benar. Keempat, kalau pertolongan Allah itu sudah datang, maka tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menghalanginya.

اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Para Hadirin Jamah I’dul Adha yang Dirahmati Allah SWT!

Ujian berat lainnya yang dihadapi Ibrahim adalah ketika menerima perintah untuk menyembelih putra tercintanya Ismail. Dalam Q.S. Ash Shaaffaat (37: 102-107), Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim AS untuk mempersembahkan putranya Ismail. Ini merupakan suatu perintah yang sangat berat dan bahkan tidak masuk akal kalau menurut pikiran biasa. Namun Ibrahim dan Ismail mematuhi perintah tersebut tanpa keraguan sedikit pun.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللّٰهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ . فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ . وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ . قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ . إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ . وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ 

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!". Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (102). Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya) (103). Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim (104), sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107).

Para Hadirin Jamah I’dul Adha yang Dirahmati Allah SWT!

Pada kisah Ibrahim-Ismail tersebut sungguh terjadi peristiwa dramatis luar biasa yang mengandung banyak pelajaran. Pertama, bagaimana keimanan kepada Allah itu telah membuat mereka tidak ragu untuk melakukan apa pun, termasuk untuk melakukan tindakan yang menurut pikiran orang biasa tidak masuk akal. Kedua, kesabaran mereka dalam menghadapi ujian dari Allah SWT membuat mereka merasa nyaman dan tidak berkeluh kesah dalam menjalaninya. Ketiga, kecintaan dan kepasrahan mereka terhadap Allah mengalahkan kecintaan terhadap siapa dan apa pun yang ada di dunia ini. Bisa dibayangkan oleh kita tentang kecintaan Ibrahim kepada Ismail yang memang sudah sejak lama didambakannya. Tapi kecintaan Ibrahim kepada anaknya itu sama sekali tidak mengalahkan kecintaannya kepada Allah SWT. Keempat, dalam kisah Ibrahim-Ismail ini terjadi proses dialogis antara bapak dan anak yang sangat bernilai pendidikan. Sebagai orang tua, Ibrahim tidak berlaku otoriter atau semena-mena kepada anak, melainkan meminta pertimbangan anak akan mimpinya itu dengan mengucapkan, “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!". Dan perilaku Ibrahim sebagai orang tua yang sangat cerdas dan bijaksana itu dibalas dengan jawaban yang sangat cerdas pula dan penuh hormat oleh Ismail sebagai anak dengan ungkapan, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".  

اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Para Hadirin Jamah I’dul Adha yang Dirahmati Allah SWT!

Sekarang umat manusia di dunia sedang menghadapi ujian yang berat, yaitu menghadapi musibah pandemi Covid-19. Data yang tercatat hingga tanggal 24 Juli 2020  menunjukkan bahwa Covid-19 ini telah menimpa 215 negara di dunia dengan jumlah kasus yang terkena sebanyak 15.651.601 orang, yang meninggal tercatat sebanyak 636.464 orang dan yang sembuh sebanyak 9.535.208 orang. Di Indonesia sendiri, Covid-19 telah menimpa 43 provinsi dan 454 kabupaten/kota dengan jumlah kasus seluruhnya 93.657 orang; yang meninggal berjumlah 4.576 orang dan yang sembuh berjumlah 52.164 orang. Musibah pandemi Covid-19 ini telah memberikan dampak luar biasa terhadap kehidupan kita baik terhadap bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan, pariwisata, maupun berbagai bidang kehidupan lainnya. Tidak sedikit pula di antara kita yang dicekam rasa ketakutan, putus asa, kejenuhan, tersiksa, dan/atau berbagai perasaan negatif lainnya. Namun sebagai umat Muslim, mudah-mudahan kita semua bisa belajar dari pengalaman Ibrahim dalam menjalani ujian yang berat ini, sehingga bisa menghadapi dan menyikapi pandemi Covid-19 dengan tepat dan wajar sesuai dengan tuntunan agama Islam. Untuk itu, izinkan khatib menyampaikan beberapa ayat Al-Quran yang mudah-mudahan bisa menuntun kita untuk  berperilaku tepat dan proporsional dalam menghadapi Covid-19 ini.

Para Hadirin Jamah I’dul Adha yang Dirahmati Allah SWT!

Dalam QS Ali Imran (3: 185) diungkapkan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan mati.

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

Kematian adalah keniscayaan bagi setiap yang bernyawa. Persoalannya tinggal waktu, tempat, proses kematian, dan penyebabnya. Namun, kematian itu hanya akan terjadi dengan izin Allah SWT. Demikian diungkapkan pada QS Ali Imran (3: 145).

وَمَا كَانَ لِنَفۡسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللّٰهِ كِتَٰبٗا مُّؤَجَّلٗاۗ

“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.”

Begitu pula, setiap umat atau manusia itu sudah memiliki azalnya masing-masing yang tidak bisa dipercepat dan tidak bisa ditunda (QS Al-A’raf/7: 34).

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ 

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat  mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”

Oleh karena itu, bila waktu kematian itu sudah tiba, tidak mungkin seseorang dapat menghindarinya dimana pun ia berada. Ini dinyatakan dalam QS An-Nisa (4: 78):

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٖ مُّشَيَّدَةٖۗ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”(102)

Sedangkan dalam QS Al ‘Imran (3: 133) diperintahkan untuk segera mendapat ampunan Allah sebagai prasyarat masuk surga.

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (133)

Para Hadirin Jamah I’dul Adha yang Dirahmati Allah SWT!

Dengan keterangan ayat-ayat di atas, mestinya orang-orang yang beriman itu tidak perlu terlalu takut dengan Covid-19 karena umur setiap orang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Kematian itu tidak akan pernah terjadi tanpa izin Allah. Keterangan ini diperkuat lagi dengan sejumlah ayat lainnya, di antaranya dalam QS At-Taghabun (64: 11):

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللّٰهِۗ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah.”

Namun, para hadirin, dengan keterangan-keterangan di atas bukan berarti kita bisa hidup dengan seenaknya atau sembarangan. Bukan berarti kita bisa lalai dan tidak mengindahkan protokol kesehatan. Sebab pada QS Al-Muddatstsir (74: 38) dikemukakan:

كُلُّ نَفۡسِۢ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ 

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”

Begitu pun dalam QS An-Najm (39) juga dinyatakan:

وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ 

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”

Dengan dua ayat ini kita diingatkan bahwa kita bertanggung jawab penuh terhadap apa yang kita perbuat, dan kita hanya akan memperoleh apa yang kita lakukan. Jadi kalau kita hidup berdisiplin sesuai protokol kesehatan, insyaallah kita akan terhindar dari bahaya Covid-19 ini. Tapi bila kita mengabaikan protokol kesehatan, ya siap-siap saja untuk terkena Covid-19 ini.

Hal terkhir yang harus kita lakukan tentu saja adalah berdo’a kepada Allah SWT agar kita selalu mendapat perlindungan-Nya.Dalam QS Al-Baqarah (2:186) Allah berfirman:

أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ 

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS Al-Baqarah/2:186).

اللهُ أَكْبَر اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ

Para Hadirin Jamah I’dul Adha yang Dirahmati Allah SWT!

Dari penjelasan di atas, insyaallah kita bisa mengembangkan sikap hidup dan perilaku yang tepat, sehat, dan proporsional dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Pertama, dengan beriman penuh pada qada dan qadar dari Allah SWT, insyaallah kita akan hidup tenang dan tidak khawatir secara berlebihan karena umur itu sudah ada jatahnya masing-masing dan kematian itu merupakan sesuatu yang pasti terjadi bagi setiap yang bernyawa. Kedua, kematian dan musibah itu tidak akan pernah terjadi kecuali dengan izin Allah, termasuk bagi orang-orang yang terkena Covid-19 sekali pun. Ketiga, namun kita tidak boleh takabur dan menantang bahaya dengan hidup ceroboh karena semua amal kita akan kembali ke kita. Sebaliknya, kita wajib berikhtiar secara maksimal untuk menjemput qada dan qadar yang yang baik dari Allah SWT., termasuk untuk menghindari Covid-19 ini. Untuk itu, guna mencegah Covid-19, kita wajib melaksanakan protokol kesehatan sebagaimana yang direkomendasikan oleh para ahli medis. Keempat, kita wajib berdo’a kepada Allah SWT agar kita terhindar dari berbagai penyakit dan musibah lainnya yang berbahaya bagi kita.

أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لَيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَر اَللهُ أَكْبَرُ . اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا اِلهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ.لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلي كُلِّ شَيْئٍ قَديْرٌ.اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلي اّلِ سَيِّدنَا مُحَمَّدٍ  كَمَا صَلَيْتَ عَلَي سَيِّدِنَا اِبْرَا هِيْمَ وَعَلَي اّلِ سَيِّدِنَا اِبْرَا هِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَي اّلِ سَيِّدنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَرَكْتَ عَلَي سَيِّدِنَا اِبْرَا هِيْمَ وَعَلَي اّلِ سَيِّدِنَا اِبْرَا هِيْمَ . فَي الْعَا لَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَّجِيْدُ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ الله: اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ.

Para Hadirin Jamaah Idhul Adha yang Dirahmati Allah SWT.

Pada khutbah kedua ini, marilah kita panjatkan do’a kepada Allah SWT. Mudah-mudahan kita dijadikan sebagai Muslim yang bisa meneladani Nabiyullah Ibrahim dan Ismail AS yang secara historis memiliki keterkaitan dengan ibadah Haji dan Ibadah Qurban sebagaimana yang telah disyariatkan kepada kita semua. Mudah-mudahan kita diberi keimanan yang kokoh seperti yang dimiliki mereka, kecintaan kepada Allah yang melebihi kecintaan kepada apa pun dan siapa pun di dunia ini, kemampuan untuk senantiasa menghindarkan diri dari berbagai godaan syaithan yang selalu menyesatkan kita, kesabaran dan keikhlasan dalam beribadah dan dalam menghadapi musibah, serta diberi kemampuan untuk mendidik anak dan keturunan kita sesuai dengan tuntunan Allah SWT dan sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

نَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ ٣  xاَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

اَللَّهُمَّ اَعِنَّا عَلَي ذِ كْرِكَ وَشٌكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. يَامُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبِنَاعَلَي دِيْنِكَ وَعَلَي طَاعَتِكَ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَعُوْذُبِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَالْقَرَنِ وَمِنْ سَيِّءِ الْاَسْقَامِ

رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ 

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِيٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ 

رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَيۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةٗ مُّسۡلِمَةٗ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَيۡنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

رَبّنا أوزِعۡنآ أَنۡ نَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيّنا وَعَلَىٰ وَٰلِدِيْنَا وَأَنۡ  نَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنَا بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ . وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

 

Khutbah Idul Adha 1441 H. Jum'at 31 Juli 2020 di Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat oleh Bapak Prof. DR. KH. M. SOLEHUDDIN, M.Pd., MA (Rektor/Guru Besar UPI Bandung)



BAGIKAN
BERI KOMENTAR