Kamis, 24 September 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan Menara Kembar

MULYAKAN BANI ADAM

Selasa, 11 Agustus 2020
H. Muhtar Gandaatmaja
Rubrik Khusus Ketua DKM MRB setiap hari Selasa

Putri Cina, demikian rakyat Majapahit memanggilnya. Namanya Siu Ban Ci atau Tan Eng Kian Binti  Tan Go Hwat,  pedagang  plus ulama etnis Tionghoa, panggilannya  Syekh Bentong  Bin Syekh Quro Bin Syeh Yusuf Siddik Bin Syeh Jamaludin Akbar Al-Husain, salah seorang penyebar  Islam di Tanah Sunda: Karawang, Cirebon dan sekitarnya.

Siu Ban Ci, alias Putri Cina adalah  satu dari tiga  istri Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya Kelima, yang memerintah sampai 1478.  Darinya lahir  Raden Fatah dan Raden Kusen. Raden Fatah   kelak menjadi Sultan Demak Bintoro.  Zaman Majapahit  banyak etnis Tionghoa memeluk Islam di era Kekaisaran Dinasti Ming  (1368 - 1644).  Datang ke Nusantara, umumnya,  ikut  armada besar Laksamana Cheng Ho dengan tujuan dagang, misi penyebaran Islam, dan menjalin hubungan persahabatan lintas negara.  Leluhur mereka datang ke Nusantara lebih awal  dari bangsa lainnya yaitu abad ke-5 (tahun 414) dibanding India abad ke-17 dan Bangsa Arab Hadrami, Yaman,  abad ke-18.

Walaupun  begitu,  waktu lama atau sebentar, baginya tidak otomatis menjadi jaminan kenyamanan hidupnya. “Saya  ini Jawa atau China?”  tanyanya dalam hati. Sebagai permaisuri raja Jawa yang telah melebur dalam bahasa dan budaya setempat, Putri China Jawa banget. Namun,  di luar tembok istana  ia sering menyaksikan kaumnya diperlakukan tidak adil dan  dianggap orang asing. Keresahan  hatinya makin dalam  usai mendengar nasihat  Sabdo Palon-Nayagenggong, penasihat kerajaan. Dunia pewayangan menyebutnya Lurah Semar Bradanaya, bahwa “Putri  Cina dan kaumnya lain dengan mereka, tapi sama dengan mereka.”  Artinya, ketika dalam keadaan damai sama dengan mereka karena sama-sama manusia. Tapi ketika dalam keadaan pecah pertikaian,  Cina bukan manusia karena tidak sama dengan mereka.

Sudah sejak  “doeloe” , bila Negara dalam keadaan  “bermasalah,”  apakah karena  masalah  politik,  social,  ekonomi,  budaya maupun  hal  lain menyangkut kehormatan seseorang,  dan diperlukan orang atau kelompok sebagai  “tumbal” untuk pengalihan perhatian, maka  warga Negara etnis   China lah yang dianggap tepat menjadi “kambing hitam.”  Rentetan peristiwa penistaan terhadap  nilai-nilai kemanusiaan  yang adil dan beradab,  menimpa Etnis Tionghoa antara lain : Tahun 1470 di Batavia, Kompeni melakukan aksi   penjarahan  dan   perkosaan. Sekira  10.000 orang Cina  di bantai. Hal serupa terjadi di Kudus tahun  1916.  Tahun 1946 di Tangerang, harta mereka dijarah, mayatnya ditumpuk  dan   rumahnya dibakar. Tahun  1949 ada gerakan bumi hangus warga Cina di Kertosono, Nganjuk, Caruban, Madiun, Blitar, Tulunggagung dan  Kediri. Di Bandung, 1973, penghancuran dan perusakan toko-toko  milik WNI etnis Tionghoa, penyebabnya  tukang sado dipukuli  orang  Cina. Tidak kalah mengerikan pada peristiwa 13-15 Mei 1998 di Jakarta, etnis China menjadi korban perkosaan, penculikan, pembunuhan, serta rumah dan toko miliknya dibakar menjelang suksesi dari orde baru ke orde reformasi,  21 Mei 1998.  Terkenal dengan sebutan “Peristiwa Kerusuhan  Mei 98.”

Sekarang, pembantaian besar dan terbuka memang tidak ada. Entahlah kalau diberi kesempatan berkuasa.   Tapi menebar kebencian dan intimidasi  pada satu kelompok minoritas tertentu masih  kerap terjadi. Termasuk kejadian di Solo dan Trenggalek baru-baru ini.  Bagi  golongan pragmatisme  yang  menghalalkan segala cara, tidak ada urusan apakah Negara ini hancur atau tidak asal tercapai cita-cita.  Mengusung isue PKI, China, Syi’ah dan kelompok Ahli Bid’ah dan Khurafat  masih dianggap relevan, walaupun bagi masyarakat cerdas hal seperti itu dianggap kadaluarsa.

Aneh tapi nyata!  Dalam gerakan demonstrasi yang berturut turut, pernahkah ada isue pengganyangan terhadap Amerika? Tidak ada! Padahal bukan rahasia lagi kegaduhan bangsa di dunia, termasuk Indonesia sejak Soekarno sampai sekarang,  tidak ada yang lepas dari keikutsertaan  Amerika dan sekutunya.  Kehancuran  negara-negara Islam seperti Libiya, Irak, Syiria, Mesir, Libanon, Yaman, Palestina,  Iran (diobok-obok) dan lain-lain, disetiap peristiwa itu, “ada  Amerika.”

Putri Cina menghela nafas panjang. Matanya menerawang ke angkasa. Sepenggal bait sajak “T’ao Ch’ien”  yang ditulis abad ke empat Masehi,  ia ucapkan dengan  nyaris tak bersuara,   bibirnya  tertutup  linangan air mata:

“……………… Kita datang ke dunia ini sebagai saudara;

Tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah?”

Mungkinkah dia pun menanyakan, apa  sesungguhnya makna firman Tuhan: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (saling menyayangi). Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al-Hujurat: 13). Wallahu A’lam

 Penulis: Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar/ Ketua Yayasan al-hijaz  Aswaja Bandung



BAGIKAN
BERI KOMENTAR