Jumat, 4 Desember 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan dari Menara Kembar

BARU BELAJAR

Selasa, 18 Agustus 2020
Rubrik Khusus Ketua DKM MRB setiap Selasa

Tahun 1964-an, usia saya menginjak  5  tahun 5 bulan, masuk SDN. Alat belajar tulis menulis waktu itu  “gerip” dan “sabak.” Yang diajarkan selama dua bulan cuma angka satu berderet deret mirip deretan pagar bambu. Meskipun begitu jangan tanya bahagia atau tidak, jelas,  sangat bahagia!  Kelewat bahagia senang unjuk kemampuan. Baru bisa “melukis” angka satu saja bangganya luar biasa seolah sudah tahu segalanya. Adik dan teman periode di bawahnya,  saya  ajari, seolah saya jadi gurunya. Kenapa begitu? Jawabannya: Karena baru belajar!  

Seseorang  sedang belajar sepeda motor. Membedakan mana gas, kopling dan rem saja sering keliru, tapi gayanya kaya pembalap. Bawaannya tancap gas ngebut tidak menghiraukan keselamatan. Kenapa begitu? Maklum baru belajar.

Contoh berikut,  maaf mungkin menyinggung komunitas  tertentu, makanya saya minta maaf dahulu.  Transgender atau Transpuan, istilah yang dilekatkan kepada  kelompok  yang merubah jenis kelamin. Laki-laki  yang berubah statusnya jadi perempuan, gayanya lebih kemayu, gemulai dan lebih perempuan dari perempuan yang sebenarnya. Kenapa? Karena baru belajar jadi perempuan. Maaf, contoh ini saya ambil untuk menggambarkan bahwa kondisi kejiwaan seseorang  yang baru belajar tingkah lakunya seperti itu, merasa lebih hebat dari  pengajar.

Mereka sedang dalam “proses menjadi”  bukan “sudah jadi.”  Maklum baru belajar, wajar kalau salah dan nabrak sana sini. Hadits Nabi SAW: “Jadilah engkau orang berilmu, atau orang yang menuntut ilmu, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang menyukai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima maka kamu akan celaka” (H.R. Baihaqi), mengajari  kita agar “sadar posisi.” Di posisi mana kita sekarang berada?

Anak anak membaca Al-Qur’an, baik tajwid maupun makhroj hurufnya banyak yang salah, enggak apa-apa wajar,  namanya juga anak-anak lagi pula sedang belajar, kalau rajin berlatih nanti juga mahir. Kuncinya sadar posisi bahwa dirinya sedang belajar. Yang merepotkan kalau  salah memposisikan diri, baru belajar ngaku Ulama.  

Bahaya jatuh dari sepeda motor, tidak seserius bahaya ketika agama dipegang bukan oleh ahlinya. Agama akan binasa bila dipegang santri (saja tidak) ngaku Kiayi. Akan dibawa kemana umat? Ke Jakarta baru sekali. Kebetulan menggunakan  jalur Tol Cipularang. Pulang dari Jakarta  testimoni kepada khalayak bahwa kalau ke Jakarta jalan yang “benar” harus lewat Cipularang! Yang tidak lewat jalan itu berarti “sesat.”  Yang pernah ke Jakarta melalui Sukabumi, Puncak, Jonggol, lewat jalur khusus naik Kereta Api atau lewat udara naik Pesawat Terbang, pasti tertawa mendengarnya.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak mencabut ilmu sekaligus dari hamba-Nya, tetapi Dia mencabut ilmu tersebut dengan diwafatkannya para ulama. Sehingga, tidak ada satu ulama pun yang tersisa. Pada saat itulah manusia mengangkat pemimpin dari mereka yang bodoh. Dan pada saat pimpinan yang bodoh tersebut ditanyai, maka para pemimpin tersebut memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari)  

Wallahu A’lam.

Penulis:
Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar
Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja Bandung


KATA KUNCI:

BAGIKAN
BERI KOMENTAR