Kamis, 24 September 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan dari Menara Kembar

HIJRAH

Selasa, 25 Agustus 2020
H. Muhtar Gandaatmaja
Rubrik Khusus Ketua DKM MRB setiap Selasa

Membaca  kata “hijrah”  ingat  acara seremonial  memperingati tahun baru Islam dan  perjalanan hijrahnya Nabi SAW dari Makah ke Madinah. Diperingati  di Masjid, Mushola, Sekolah dan lain-lain. Sekarang, mungkin, disampaikan secara virtual. Mengenalkan sejarah hijrah ke masyarakat luas dengan ceramah,  diskusi dan pertemuan ilmiah lainnya.

Mengenang pristiwa  “hijrah” dengan cara-cara konvensional seperti  itu, kini,   agak kalah cepat dengan popularitas  sebutan “hijrah”  yang sedang  trending di kalangan anak muda. Gerakannya tidak sebatas rutinitias kajian materi keagamaan mingguan seperti “Shift Weekend” yang diikuti remaja, pemuda dan mahasiswa  Bandung, atau “Kajian Musawarah” di Jakarta yang dikelola para artis, merekapun melebarkan sayap “dakwah”nya melalui Komunitas Motor, Kafe, Fashion, Wisata Alam dan lain-lain.

Banyak factor penyebab lompatan mereka melampaui cara-cara yang konvensional, antara lain:  Pertama, segmen pasarnya jelas yaitu anak muda dan Mahasiswa. Kedua, metodanya tepat sasaran. Mengikuti selera anak-anak muda. Ketiga,  Finansial yang baik dan tata kelola keuangan yang relative baik juga.  Keempat, memanfatkan semangat  kelompok anak muda yang “baru bangun” dari tidur  hura-hura dan foya-foya menjadi sadar akan pentingnya masa depan. Kelima, rata-rata menguasai “Information technology (IT)” , teknologi informasi,  yang relative baik. Keenam, percaya diri kadang terkesan nekad. Ketujuh, mempunyai pesona magnetis karena baik peserta maupun pengelola melibatkan para selebriti:  artis penyanyi  atau  bintang film yang sudah insaf alias “tobat”, meminjam istilah mereka, “ sudah hijrah.”

Dibanding dengan jamaah yang berasal dari luar kalangan artis,  “Para bintang” umumnya punya  Fans fanatik dan follower ratusan ribu sampai jutaan. Sekedar mengumpulkan massa untuk panggung hiburan atau pengajian buat mereka mudah.   Dengan modal popularitas  apapun bisa dilakukan, termasuk berkiprah di jalur  politik ikut  “nyaleg” atau  “menemani” Bapak/Ibu yang berhajat  menjadi  Kepala Daerah. Bagi para “Cagub,” “Cawal,” atau “Cabup” celebrity ini menjadi “dewa penolong” sebagai pendulang suara.  Dibeberapa tempat kehadirannya  terbukti penting. Berkah mereka, ada kepala daerah mampu bertahan dua periode karena baik periode pertama maupun  kedua didampingi artis terkenal.

Asal jamaah yang bergabung dengan komunitas  ini secara  garis besar  ada  dua kelompok,  yaitu Mahasiswa dari  Perguruan Tinggi, sebagai  jamaah periode paling awal  sekira  tahun 1980-an,  dan kelompok artis yang hadir belakangan. Perkembangan berikutnya diminati oleh kaum muda dari berbagai lapisan anggota masyarakat.  Jamaah yang berasal dari Kampus terindikasi relative lebih militan, eksklusif dan terkesan radikal. Hal ini, dimungkinkan,  erat  hubungannya  dengan pengaruh para mentor atau guru  yang mengajari mereka dari latar belakang alumni   Timur Tengah, khususnya Arab Saudi yang umumnya beraliran Salafi (Wahabi), dari  Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin,  Hizbut Tahrir dan lain-lain.  Sejak 10 atau  15 tahun lalu, selain jamaah dari lingkungan kampus dan para artis,  kelompok ini pun merambah ke pemuda bertattoo, -- salah satu program dakwahnya adalah hapus tattoo gratis, ke lingkungan  guru-guru  baik swasta maupun  negeri  dan menembus ke jamaah pengajian karyawan BUMN. 

Seandainya agenda kegiatannya konsisten dan fokus pada masalah pendidikan dan dakwah,  mengeluarkan  saudaranya dari “lingkaran gelap”  ke “titik terang”; sedikit membuka diri agar tidak dicap eksklusif dan membaur ke semua lapisan masyarakat, kita yakin, bukan saja tumbuh semakin besar, komunitas ini akan menjadi semakin diperhitungkan.

Sebaliknya, jika tidak membuka diri, eksklusif,  terpedaya ikut berhura-hura dalam parlemen jalanan,  terbawa arus dalam pusaran politik praktis,  menunjukan “sikap permusuhan dan kebencian” terhadap kelompok lain yang tidak sejalan dengan kelompoknya,  mengkafirkan sesama muslim, mengkritik pemerintah dengan cara yang tidak sehat, sulit dibayangkan apa yang akan terjadi ke depan.  Wallahu A’lam !

Penulis : Ketua DKM Masjid Raya Bandung Jabar & Ketua Yayasan al-hijaz Aswaja Bandung



BAGIKAN
BERI KOMENTAR