Rabu, 25 November 2020 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Syiar
Renungan Akhir Pekan

TEMAN ABADI

Sabtu, 12 September 2020
H. Muhammad Yahya Ajlani
Rubrik Khusus setiap Sabtu

Hatim al-Asham dan Syaqiq al-Balkhi merupakan teman akrab yang sudah terjalin cukup lama. Pada suatu kesempatan,  antara keduanya terjadi percakapan ringan seputar perjalanan hidup masing-masing, yang dalam tulisan singkat ini, hanya akan disampaikan satu penggal percakapan saja.

Syaqiq bertanya kepada Hatim,  “Wahai Hatim, sudah 30 tahun kita berteman,  apa yang telah kamu peroleh selama ini?  Hatim menjawab: “telah aku peroleh ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat. Inilah yang mencukupi diriku unuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Aku telah puas mengamati bermacam-macam makhluk. Aku lihat mereka masing-masing memiliki kekasih sebagai tambatan hatinya. Sebagian dari mereka ada yang didampingi kekasihnya hanya sampai menjelang kematian.  Ada juga yang mendampingi sampai ke liang kubur. Sesudah itu, semuanya kembali dan meninggalkannya sendirian dikuburan.  Tidak seorang pun yang bersedia menemaninya masuk ke liang kubur”.

Hatim berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan pembicaraannya, “setelah melihat kejadian itu, terbersitlah dalam pikiranku bahwa kekasih yang paling utama ialah yang menyertai seseorang masuk ke liang kubur dan memberikan hiburan didalamnya. Hal ini hanya aku temui dalam amal shaleh.  Oleh karena itu, amal shaleh aku jadikan sebagai kekasih, agar kelak bisa menjadi pelita dalam kuburku, menghibur dan tidak meninggalkanku seorang diri”. Itulah sepenggal percakapan dari delapan poin percakapan Syaqiq dan Hatim yang dimuat al-Ghazali dalam sebuah buku tipis berjudul  ayyuhal walad.

Apa yang diungkapkan Hatim ini, patut menjadi renungan kita semua.  Karena hakikat kehidupan kita di dunia ini adalah untuk beramal shaleh.  Keshalehan bisa dilakukan oleh setiap orang, tidak terbatas orang kaya, pintar, dan memiliki jabatan, tetapi orang miskin, awam dan rakyat biasa pun memiliki peluang yang sama untuk beramal shaleh.

Suatu amal shaleh baru dapat bernilai apabila disertai dengan keimanan yang mantap. Tanpa keimanan, amal shaleh baru tampak indah, tetapi belum bernilai. Allah berfirman: “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim”.(Q.S. Ali Imran:57)

Rasulullah SAW. menegaskan: “beramallah untuk duniamu menurut kadar hidup kamu di dalamnya. Beramallah untuk akhiratmu menurut kadar kamu kekal didalamnya. Dan beramallah untuk Allah sesuai dengan kebutuhanmu kepada-Nya. Serta beramallah untuk neraka sesuai dengan kemampuan menerima siksa”. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam, sehingga kita bisa bertanya kepada diri sendiri. Berapa lamakah kita hidup di dunia? Seberapa lamakah kita akan hidup di akhirat?  Sejauh manakah kebutuhan kita kepada Allah? Seberapa kuatkah kita menerima siksa di Neraka?  Tentu  hidup kita di dunia hanya sementara, karena kehidupan yang sebenarnya ada di akhirat nanti. Kita insan lemah sehingga setiap saat memerlukan pertolongan Allah, dan tidak ada seorang pun yang kuat menerima siksa di Neraka.

Oleh sebab itu, semua yang kita miliki diupayakan menjadi sarana beramal shaleh, sehingga kita akan memiliki teman abadi di saat teman karib meninggalkan kita semua, yaitu amal shaleh yang akan menemani gelap gulitanya alam kubur.[]

Penulis : Pengurus DKM Masjid Raya Bandung dan Ketua Yayasan Baitul Ma'mur



BAGIKAN
BERI KOMENTAR