Selasa, 23 Januari 2018 | MasjidRaya.comTentang Kami | Kontak Kami
Masjid Raya Bandung
Provinsi Jawa Baratmedia silaturahmi umat
Dakwah
Muhasabah

Jati Diri Muslim

Sabtu, 6 Januari 2018
Oleh: HD Sutarjan

MRB - Pada suatu saat Rasulullah SAW menerima tamu, seorang pria dari kalangan musyrik Arab jahiliyah. Nabi menerima tamu itu sebagaimana layaknya beliau menerima tamu yang lain, dihormati selayaknya dan dipersilahkan duduk di ruang yang telah disediakan. Rasulullah menyuguhkan kepada tamu itu segelas air susu murni. 

Demikianlah kebiasaan dan kebanggaan orang-orang Arab pada waktu itu, mereka sangat berbahagia sekali apabila dapat menyuguhkan pada tamunya air susu murni yang mereka perah dari kambing atau unta. 

Setalah disuguhi segelas air susu, tamu itu meminumnya sampai habis. Kemudian Rasulullah menyediakan gelas yang keduanya, itupun diminum sampai habis. Lalu Rasulullah menyediakan gelas yang ketiga itupun diminum sampai habis. Hal itu terus berlangsung sampai tujuh gelas. 

Pertemuan itu kemudian berlalu begitu saja, tidak ada hal yang perlu dicatat, pria Arab jahiliyah kembali ke rumahnya dan Rasulullah pun melaksanakan aktivitas dakwahnya sebagaimana biasa. 

Kira-kira beberapa bulan setelah itu, pria Arab jahiliyah tadi masuk Islam. Sebagai seorang mualaf dia merasa ketinggalan dengan para sahabat lain, karena itu dia terus mempelajari agama dengan sungguh-sungguh dan mengamalkannya dengan baik. 

Dalam jangka waktu tidak begitu lama, pria mualaf itu telah menjadi seorang Muslim yang sangat baik. Setelah menjadi pria Muslim yang baik dia mengujungi rumah Rasulullah kembali. Rasulullah menerima tamu mualaf ini, langsung teringat dengan kunjungan yang pertama dulu. 

Kemudian Rasulullah menyediakan segelas air susu, sebagaimana dulu menyediakannya. Pria mualaf itu kemudian minum segelas air susu yang disediakan oleh Rasulullah sebagaimana dulu ia meminumnya. 

Ketika Rasulullah akan menyediakan gelas yang kedua, tiba-tiba pria mualaf itu mengatakan, “Wahai Rasulullah, cukup untukku. Cukup untukku dengan segelas susu itu.” 

Rasulullah mengomentari sikap pria mualaf yang telah berubah drastis dari kebiasaan jahiliyahnya dan menggantinya dengan jati diri seorang Muslim. Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin cukup meminum dengan satu gelas, sedangkan orang kafir baru puas minum dengan tujuh gelas.” (HR. Muslim). 

Dari contoh itu kita bisa melihat secara langsung betapa besarnya perubahan sikap dan jati diri dari seorang jahiliyah menjadi seorang mukmin. Pola hidup yang tadinya dipenuhi dengan kerakusan digantinya dengan kesederhanaan. Kesederhanaan dalam pola makan, dalam pola berpakaian dan bertingkah laku. 

Manusia mukmin senantiasa melakukan perubahan dalam membentuk jati dirinya, dari manusia yang berkualitas rendah menjadi berkualitas tinggi menuju kesempurnaan sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu jati diri manusia mukmin adalah berpola hidup sederhana dan dapat mengendalikan nafsunya sehingga tidak terjerembab dalam lembah kehinaan dan kehancuran.***


BAGIKAN
BERI KOMENTAR